Suatu ketika saya mengajak sekelompok remaja untuk belajar mengenai kasih. Bagian Alkitab yang kami ambil sebagai bahan diskusi adalah I Yohanes 4:7-16, dalam mana Rasul Yohanes menghimbau umat Kristen untuk saling mengasihi satu dengan yang lain, serta mengambil kasih Allah yang mengirim Yesus untuk menyelamatkan manusia sebagai teladan. Di akhir diskusi, saya berkata kepada mereka seperti begini, "Coba pikirkan seseorang yang kamu anggap sulit untuk kamu kasihi. Lalu, berdasarkan apa yang sudah kita bahas hari ini, pikirkan bagaimana caranya kamu dapat mengasihi dia, dan perbuatan apa yang secara konkrit dapat kamu lakukan untuk menyatakan kasih itu kepada dia." Terhadap tantangan ini, seorang remaja segera menjawab, "Ah, itu sih tidak bisa!" Saya tanyakan padanya apa sebabnya, dan jawabnya, "Karena orang itu memang beda dengan saya, sifat kami saling bertentangan." Saya mengerti maksud remaja ini, pernyataan hatinya yang tidak bisa mentolerir orang lain yang berlawanan karakter dengannya, yaitu orang yang ia benci karena bertentangan dengannya, sehingga ia merasa sulit untuk mengasihinya. Untuk sejenak saya terdiam, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena saya pun sadar betapa sulitnya bagi saya sendiri untuk mengasihi orang yang saya benci. Pergumulan remaja ini juga merupakan pergumulan semua orang. Tetapi segera saya diingatkan akan ajaran Yohanes yang baru kami bahas, dan saya berkata, “Bagaimana jikalau Allah punya sikap yang sama seperti kamu? Bukankah kita sebagai ciptaan berbeda dengan Allah yang mencipta? Bukan itu saja, kita yang sudah beda dengan Allah, malah juga sudah jatuh dalam dosa, sehingga kita sudah jadi musuh Allah. Kalau mau bicara soal berbeda, Allah dan manusia adalah dua hal yang sangat tidak cocok. Bagaimana jikalau terhadap kita Allah berkata, ‘Ah, manusia dan Aku saling bertentangan! Aku tidak bisa mengasihi manusia, sebab kita beda koq!’ Mungkinkah kita jadi anak Allah dan masuk ke Sorga jikalau Allah bersikap seperti kamu?”
Natal mengandung arti tersendiri bagi masing-masing orang. Ada sebuah album Natal yang memuat kesan para artis kondang tentang Natal. Vanessa Williams, misalnya, menulis, “What Christmas means to me -- giving thanks to family and friends...midnight mass...trimming the tree...singing carols...snow...mulled wine...sharing gifts...family togetherness...reflecting on the past, dreaming about the future and enjoying the present.” Celine Dion menulis, “At Christmas time we see each other through the eyes of love. May we continue to see that goodness in each other every day of the year. Merry Christmas!” Tammy Wynette menulis, “Christmas is the most special time of the year. ‘Family is always together singing hymns,’ and I love being Santa Claus!” Di atas kesan Natal yang bervariasi bagi setiap pribadi, sesungguhnya makna Natal terletak pada kasih Allah, yaitu kasih Allah pada manusia yang dinyatakanNya dengan mengirim AnakNya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk menjalankan misi menyelamatkan manusia. Kisah cinta ini dilatarbelakangi oleh sebuah kontras, yaitu kontras antara manusia dan Allah. Siapakah manusia itu? Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Ini saja sudah merupakan suatu kontras yang besar. Seorang penjunan tentu berbeda dari kendi tanah liat yang ia bentuk, demikian pula Allah berbeda dari manusia yang Ia ciptakan. Bukan itu saja. Manusia yang sudah berbeda secara hakekat dengan Allah kemudian juga memberontak dariNya dan melawan Dia. Dosa yang diwarisi dan diperbuat manusia membuatnya najis dan tidak layak berada di hadapan Allah yang maha suci, serta menjadikannya obyek murka Allah yang maha benar dan maha adil. Sekarang, manusia bukan lagi ciptaan yang lebih rendah dari penciptaNya, melainkan juga telah menjadi musuh Allah. Dengan latar belakang manusia dan Allah yang sedemikian bertolak-belakanglah, Natal menyatakan kasih Allah di mana Dialah yang turun dari Surga dan mencari manusia, bahkan sampai berkorban nyawa demi membebaskannya dari kesia-siaan hidupnya. Roma 5:8 dengan jelas mengatakan, “....Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yoh 15:16) Kelahiran Yesus merupakan pernyataan kasih Allah yang tanpa syarat, kasih yang mau mengasihi manusia ketika manusia tidak layak untuk dikasihi. Kasih inilah yang telah menyelamatkan kita dan mendamaikan kita dengan Allah sang pencipta.
Rasul Yohanes mengambil kasih Allah yang tanpa syarat ini sebagai model untuk kasih kita pada sesama anak Tuhan. Di hari Natal ini, pada saat kita memperingati kelahiran Yesus yang datang untuk mencari kita yang berdosa, marilah kita menilik hati dan hidup kita masing-masing. Adakah kita mengasihi saudara-saudari seiman seturut kasih Allah? Adakah kita mengasihi mereka yang berbeda dengan kita, bahkan mereka yang kita benci, sebagaimana Allah mengasihi kita ketika kita masih berdosa? Marilah kita tidak hanya merayakan kelahiran sang kasih, melainkan marilah kita juga menerapkan kasih itu di dalam hidup kita pribadi. Allah telah sedemikian mengasihi kita orang yang sungguh tidak layak di hadapanNya, oleh sebab itu pantaslah jikalau sekarang kita yang sudah mengecap kasih Allah itu juga mengasihi mereka yang kita rasa tidak layak untuk kita kasihi. Biarlah kasih Allah tidak hanya kita ingat dan rayakan, melainkan juga kita hayati dan lakukan dalam hidup sehari-hari. Selamat hari Natal.
Catatan: Ditulis untuk Majalah Gloria GKI Pinangsia, selesai pada 19/09/1997.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar