IV. Sikap Seorang Kristen Terhadap Kekayaan
Bagaimana kita, sebagai orang Kristen, harus bersikap terhadap kekayaan? Kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan melihat kehidupan Tuhan Yesus dan rasul-rasulNya, juga ajaran-ajaran mereka. Ingatlah bahwa orang Kristen harus meneladani kehidupan Yesus (1 Yoh. 2:6).
1. Luk. 9:58: Tuhan Yesus tidak mempunyai rumah dan ranjang. Dia rela mengalami kekurangan ini demi melakukan pekerjaan Allah. Bagi Dia, yang terpenting bukanlah harta milik, tetapi melakukan pekerjaan Bapa di Sorga (Yoh. 4:34). Bandingkan sikap ini dengan sikap pemuda kaya dalam Mat. 19:23-24.
2. Luk. 14:33: Untuk menjadi murid Yesus kita harus melepaskan semua milik kita.
3. I Kor. 4:11-13: Paulus lapar, haus, telanjang, dan harus bekerja berat. Jelas bahwa Paulus tidak punya kekayaan, malah dia menderita demi pemberitaan Injil Kristus. I Kor. 4:16 mengajak jemaat Korintus (dan kita) untuk meneladani Paulus.
4. II Kor. 6:10: Paulus seorang miskin / tidak bermilik.
5. Fil. 4:11-13: Paulus belajar untuk mencukupkan diri dalam segala hal, termasuk di dalam kekurangan / kelaparan. Semua itu ditanggung dengan kekuatan Tuhan.
6. I Tim. 6:9-11: Orang Kristen dihimbau untuk menjauhi cinta akan uang. Sebaliknya, kita disuruh mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, kelembutan.
7. Ibr. 13:5: Kita dihimbau untuk tidak menjadi hamba uang, melainkan mencukupkan diri dengan apa yang kita punya.
Jelas dari ayat-ayat di atas bahwa Tuhan Yesus dan rasul-rasulNya tidak memiliki kekayaan. Malah, mereka tidak mengejar kekayaan, melainkan mengejar perluasan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus dan para rasulNya mungkin mampu untuk menjadi kaya kalau mereka hidup seperti manusia.biasa (berdagang, menjala ikan, dll). Bahkan sebagai tokoh-tokoh agama, Yesus dan murid-muridNya cukup tenar dan mempunyai banyak pengikut; sebenarnya mereka dapat menarik keuntungan dari para pengikut itu dan menimbun kekayaan, seperti yang dilakukan oleh banyak hamba-hamba Tuhan moderen. Tetapi mereka tidak melakukan semua itu. Mereka melepaskan semua harta mereka dan semua kesempatan untuk mendapat kekayaan karena mereka mengutamakan pekerjaan Tuhan.
V. Kesimpulan
Alkitab menyatakan bahwa kekayaan adalah karunia Allah. Banyak tokoh Alkitab yang beribadah kepada Allah memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun Alkitab juga menyatakan banyak pandangan yang negatif terhadap kekayaan. Dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru terkenal dengan keadaan mereka yang kekurangan dan ajaran-ajaran yang menentang upaya mencari kekayaan.
Pandangan-pandangan Alkitab di atas mungkin kelihatan bertentangan satu dengan yang lain, namun sebenarnya tidak. Perspektif yang dinyatakan oleh Alkitab adalah bahwa kita harus menomor-satukan Tuhan, bukan kekayaan. Kekayaan kita harus berada di bawah hubungan kita dengan Allah. Hal ini nyata kalau kita perhatikan bahwa ayat-ayat yang menentang kekayaan di atas ditujukan untuk orang-orang yang mementingkan harta lebih dari Tuhan. Sebaliknya, tokoh-tokoh Perjanjian Baru menunjukkan bahwa kita harus mengutamakan pekerjaan Tuhan, walau itu berarti kita menjadi miskin.
Dalam hal kekayaan, sama seperti hal-hal lainnya, kita harus mengutamakan Tuhan. Hati kita harus mengarah kepada Dia, bukan kepada harta. Kita harus rela memberikan segala yang kita miliki kepada Tuhan, dan melepaskan segala kesempatan untuk menjadi kaya demi Tuhan. Hati kita harus terikat pada Tuhan, bahkan sampai kalau Dia menyuruh kita untuk menjual segala milik kita, memberikannya kepada orang miskin, dan mengikut Dia, kita dapat melakukannya tanpa ragu-ragu dan berat hati.
Mungkin sekarang ada yang bertanya, “Apakah bekerja untuk mencari uang itu salah?” Tidak! Allah telah memberikan kita kekuatan supaya kita dapat bekerja mencari uang. Itu karunia Allah, jadi tidak salah. Tetapi kalau pekerjaan kita menjadi utama dalam hidup kita, lebih utama dari Tuhan, maka pekerjaan itu sudah berada dalam posisi yang dapat menjatuhkan kita.
“Apakah kita tidak boleh berusaha untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik dari yang sekarang? Misalnya dengan memegang dua pekerjaan, memperluas pasaran dagangan kita, dll.” Tidak! Kalau kita mempunyai kesempatan untuk maju, kita dapat mengambilnya, sebab itu juga adalah karunia Allah. Tetapi kalau pekerjaan yang kedua itu, atau ekspansi usaha kita itu membuat kita tidak sempat saat teduh atau pergi ke gereja, maka upaya kita itu tidak benar, sebab Allah sudah dikesampingkan.
Surat II Tim. 3:1-5 menyatakan bahwa banyak orang masa kini yang mengutamakan uang, bahkan mereka yang kelihatan rohani. Media juga memajukan sifat materialistis kita dengan menawarkan pelbagai barang dan pelayanan yang sangat menggiurkan. Ini semua dapat menaruh tekanan pada batin kita untuk mengejar kekayaan. Tetapi kita, sebagai orang Kristen, harus selalu bersandar pada Firman Tuhan, dan bukan pada situasi sekitar kita.
Jadi, kekayaan datang dari Tuhan dan adalah balk. Kita yang diberikan hak untuk mengelola harta itu wajib untuk mengembalikan semua itu kepada Tuhan. Kita harus memakai kekayaan kita untuk kemuliaan Tuhan, dan ketika kita mendapat kesempatan untuk mendapat lebih banyak harta, kita harus mengambil kesempatan itu dengan tujuan untuk lebih memperlebar Kerajaan Allah.
Catatan
1. Beberapa bagian Alkitab yang berbicara tentang kekayaan: Pengkhotbah 5:9-6:12; Lukas 12:16-21.
2. Hubungan topik ini dengan "Positive Confession (PC)":
a) Guru-guru PC mengajarkan bahwa adalah kehendak Tuhan supaya kita semua hidup kaya dan makmur. Hal ini tidak diajarkan di dalarn Alkitab. Bahkan gambaran Perjanjian Baru sangat jelas bahwa orang-orang Kristen miskin demi pekerjaan Allah.
b) Ajaran PC mengarahkan pandangan orang kepada harta, bukan kepada Tuhan. Hal ini bertentangan dengan Alkitab.
Dengan mempelajari topik di atas, kita dapat mengetahui konsep Alkitab mengenai kekayaan, sehingga pikiran kita tidak disesatkan oleh ajaran-ajaran yang salah tentang kekayaan.
Bibliography
Elwell, Walter A. Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids: Baker Book House, 1989.
Ankerberg, John, and John Weldon. The Facts On False Teaching In The Church. Eugene: Harvest House Publishers, 1988.
Dennis. Here We Have No Lasting City.
Thompson,Frank C. The Thompson Chain-Reference Bible (New International Version). Indianapolis: B.B.Kirkhride Bible Co.,Inc., 1983.
Catatan: Artikel ini saya selesaikan pada tanggal 20 Oktober 1990.
Senin, November 17, 2008
KEKAYAAN - Bag 3
Diposting oleh
Josh
di
23.03
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar