Bahasa Roh
Bahasa roh sekarang dipakai dalam banyak pertemuan, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa kaset khotbah dari Indonesia yang saya sudah dengar, di akhir acara si pembicara mengajak jemaat untuk memuji Tuhan dengan bahasa roh. Mula-mula jemaat mengulang-ulang kata “haleluya” dengan iringan musik. Kemudian mulai terdengar rentetan suara, yaitu kata-kata atau kalimat-kalimat yang diulang-ulang dengan cepat dengan nada-nada tertentu, dalam bahasa yang tidak saya mengerti, yang saya rasa mereka anggap sebagai bahasa roh.
Apakah berbicara dalam bahasa asing pasti berasal dari Allah, yaitu pernyataan karunia bahasa roh seperti yang dinyatakan dalam Alkitab? Tidak! Kurt Koch menyatakan adanya kasus-kasus berbahasa asing pada orang Mormon, Budha, Shinto, dan kepercayaan-kepercayaan lain. Jelas bahwa dalam konteks seperti ini berbahasa asing tidak berasal dari Allah.
Selain kemungkinan bahwa bahasa roh berasal dari Allah, fenomena berbahasa asing dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Berbahasa asing dapat disebabkan oleh pengaruh kejiwaan. Dalam keadaan tidak sadar, di mana pikiran bawah-sadar (subconscious) lebih berpengaruh daripada pikiran sadar (conscious), seseorang dapat mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti. Ocehan yang ngawur ini dapat disalahtafsirkan sebagai bahasa roh. Ada orang yang percaya bahwa untuk dapat berbahasa roh, seseorang harus berulang-ulang mengucapkan suatu perkataan. Tetapi mengucapkan hal yang sama berulang-ulang adalah suatu cara untuk mengubah kesadaran kita, sehingga ocehan yang tidak berartilah yang keluar dan dianggap sebagai bahasa roh.
2. Iblis juga dapat menciptakan fenomena berbahasa asing. Banyak kasus orang berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti karena dipengaruhi oleh kuasa kegelapan. Hal ini nyata dari buahnya. Mereka yang berbicara atas pengaruh Iblis akhirnya meninggalkan gereja dan Tuhan, merasa tidak damai, ingin bunuh diri, dan lain-lain, walaupun mungkin pada mulanya mereka percaya bahwa mereka sedang memakai karunia berbahasa roh dari Allah. Pengalaman mereka ini malah membawa mereka lebih jauh dari Tuhan.
Rasul Paulus di dalam I Korintus 12 - 14 mendiskusikan karunia Roh, termasuk bahasa roh. Dari bagian ini kita dapat belajar beberapa peraturan di dalam memakai karunia bahasa roh di dalam pertemuan jemaat:
1. Bahasa roh, seperti juga karunia-karunia lainnya, harus digunakan untuk kepentingan seluruh jemaat (12:7; 14:12,26). Paulus menulis bahwa di dalam pertemuan jemaat, bahasa roh tidak bermanfaat jikalau tidak membangun jemaat itu (14:4-5).
2. Supaya bermanfaat bagi jemaat, bahasa roh harus disertai dengan penafsirannya (14:5,13,27).
3. Jumlah orang yang berbahasa roh dalam satu pertemuan dibatasi 2 atau 3 orang saja (14:27).
4. Kedua atau tiga orang yang berbahasa roh harus berbicara secara bergantian, bukan bersama-sama (14:27).
5. Jikalau tidak ada penafsir, seseorang yang dapat berbahasa roh harus diam saja (14:28).
6. Kegiatan berbahasa roh harus dilakukan dengan sopan dan teratur (14:40).
Dengan peraturan di atas, kita dapat menganalisa kasus-kasus berbahasa roh yang kita jumpai dalam banyak pertemuan jemaat. Di mana ada manifestasi bahasa roh, kita harus meneliti apakah manifestasi itu membangun jemaat atau tidak. Manifestasi di Indonesia seperti yang sudah diceritakan di atas, di mana banyak orang bersama-sama berbahasa roh tanpa penafsiran, tidak sesuai dengan peraturan yang dipaparkan oleh Paulus. Manifestasi bahasa roh yang Alkitabiah harusnya terjadi secara teratur, di mana ada satu orang yang berdiri dan berbahasa roh, kemudian dia atau seorang lain berdiri dan menafsirkannya, baru kemudian dilanjutkan oleh 1 atau 2 orang lagi secara bergilir. Melalui semuanya ini jemaat harusnya mendapat berkat. Tetapi situasi di mana banyak orang sekaligus mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti, tanpa ada orang yang menafsirkan ucapan dari setiap orang, menimbulkan kekacauan dan tidak Alkitabiah. Hal ini tidak berarti manifestasi bahasa roh itu berasal dari Iblis, tetapi dapat dipastikan bahwa fenomena ini bukan pekerjaan Allah, karena Dia tidak akan melanggar firmanNya sendiri, dan “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (14:33).
Selain itu, banyak orang Kristen sekarang mengajarkan bahwa berbahasa roh adalah keharusan bagi seorang Kristen yang sejati. Ajaran ini bertentangan dengan ajaran Paulus dalam I Korintus 12:27-30, di mana dia menyatakan bahwa tidak semua orang mempunyai karunia berbahasa roh. Bahkan Paulus lebih mengutamakan karunia bernubuat di dalam jemaat daripada karunia berbahasa roh (14:1-5). Seseorang juga tidak dapat berkata bahwa dia tidak dapat menahan dirinya untuk memuji Tuhan dengan bahasa roh, walaupun tidak ada yang menafsirkannya, karena Paulus menyatakan bahwa seseorang harus berdiam diri jikalau tidak ada penafsir (14:28). Ini berarti karunia berbahasa roh ada di bawah kekuasaan pemilik karunia itu.
Bersambung ke Bagian 4
Senin, Maret 02, 2009
KARUNIA PENYEMBUHAN DAN BAHASA ROH - Bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
07.45
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar