Kesembuhan Ilahi
Penyembuhan "dalam nama Yesus" sudah menjadi lazim di dunia Kristen. Banyak orang mengaku mempunyai karunia penyembuhan dan mengadakan acara kesembuhan ilahi dalam berbagai pertemuan. Misalnya, dalam kebaktian kebangunan rohani Benny Hinn, seorang pendeta dari Florida, selalu ada orang yang naik ke atas panggung dan menyatakan bahwa mereka sudah disembuhkan. Dalam program televisinya, Benny Hinn sering melukiskan orang-orang yang sedang sakit dan menyatakan bahwa Allah sedang menyembuhkan mereka sementara mereka menonton acaranya. Juga, surat-surat kesaksian kesembuhan dibacakan di dalam acara-acara televisi ini.
Apakah kesembuhan adikodrat, kalau memang terjadi, pasti berasal dari Allah? Belum tentu! Kesembuhan adikodrat tidak hanya terjadi dalam agama Kristen dan dalam nama Yesus. Fenomena ini juga terdapat dalam berbagai bidat (cult) dan ilmu gaib (occult). Kurt Koch, seorang Kristen yang ahli dalam penyelidikan tentang ilmu gaib, mendokumentasikan kasus-kasus kesembuhan yang berhubungan dengan kekuatan gaib dan ajaran sesat. Di dalam konteks seperti ini, sudah pasti kesembuhan yang terjadi tidak datang dari Allah, karena “persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (II Kor. 6:14).
Selain dari kesembuhan yang sungguh-sungguh datang dari Allah, kesembuhan yang sering kita lihat dan dengar dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ada fenomena kesembuhan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Misalnya, seorang penyembuh ilahi bernama W. V. Grant kelihatannya dapat memerintahkan orang lumpuh untuk berdiri dan berjalan. Ketika diselidiki, ternyata orang-orang ini bukan orang lumpuh, tetapi diminta untuk duduk di kursi roda sampai pada saatnya Grant memanggil mereka untuk berdiri.
2. Keadaan tubuh kita berhubungan erat dengan keadaan jiwa / pikiran atau emosi. Jikalau emosi kita terganggu (marah, sedih, stress, dan lain-lain), tubuh kita dapat menderita banyak penyakit seperti darah tinggi, kerusakan otak, dan lain-lain. Ada 65 sampai 80 persen penyakit masa kini disebabkan oleh keadaan mental yang tidak seimbang. Penyakit yang disebabkan oleh pengaruh jiwa dan pikiran dapat disembuhkan dengan sikap mental yang benar, tanpa campur tangan Allah secara adikodrat. Kebanyakan penyembuh ilahi sekarang mengatakan bahwa kita memerlukan iman agar dapat disembuhkan. Bahkan jikalau seorang tidak sembuh setelah didoakan, dia dianggap tidak punya cukup iman. Tetapi bagi seseorang yang emosinya sedang terganggu, iman, yaitu keyakinan bahwa Tuhan akan menyembuhkan dia, adalah sarana yang ideal untuk membuat mentalnya menjadi lebih stabil. Dengan demikian, penyakitnya yang timbul karena emosinya itu akan hilang karena beban hatinya sudah lenyap. Melihat atmosfir yang begitu emosionil di dalam banyak kebaktian kesembuhan ilahi masa kini, saya percaya bahwa banyak kesembuhan yang terjadi termasuk dalam kategori ini, yaitu kesembuhan alamiah dan bukan mujizat dari Allah.
3. Seperti yang sudah disinggung di atas, Iblis juga dapat menyembuhkan orang sakit. Ada banyak kasus kesembuhan yang berhubungan dengan ilmu sihir, ajaran sesat, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan Allah, yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kedua kategori di atas. Kesimpulannya, kesembuhan ini bersumber dari Iblis. Apakah hal seperti ini mungkin terjadi dalam konteks kesembuhan ilahi (Kristen)? Saya percaya hal itu bisa terjadi, terutama jikalau kita meneliti apa yang dipercaya dan diajarkan oleh si penyembuh ilahi (penjelasan lebih lanjut menyusul di bawah).
Lalu, bagaimanakah kita dapat menganalisa suatu kasus kesembuhan yang dilakukan oleh seseorang? Bagaimana kita tahu sumber kesembuhan itu, apakah berasal dari Allah atau bukan? Berikut ini adalah sedikit penuntun untuk memulai evaluasi kita:
1. Jangan langsung percaya bahwa suatu kesembuhan sungguh-sungguh terjadi. Lakukanlah dulu penyelidikan yang seksama.
2. Jikalau suatu kesembuhan sungguh terjadi, kita perlu menguji apakah si penyembuh sejalan dengan Firman Allah. Kita harus meneliti doktrin yang dia percaya dan ajarkan, membandingkannya dengan ajaran-ajaran Alkitab. Jikalau tidak cocok, berarti penyembuhan yang dia lakukan tidak berasal dari Allah, sebab Allah tidak akan melakukan mujizat di dalam konteks yang bertentangan dengan DiriNya dan FirmanNya. Dengan kata lain, walaupun seseorang mengutip ayat-ayat Alkitab dan memakai nama Yesus, tetapi jikalau apa yang ia ajarkan tidak Alkitabiah, maka karya penyembuhannya tidak berasal dari Allah.
3. Allah kita mahakuasa. Dia tidak terbatasi oleh apapun di dalam usahaNya menyembuhkan seseorang. Banyak penyembuh ilahi sekarang menjadikan iman keharusan bagi seseorang untuk disembuhkan. Tetapi Yesus sendiri menyembuhkan beberapa orang yang tidak menyatakan iman ketika akan disembuhkan, atau paling tidak Alkitab tidak mencatat adanya iman pada diri mereka. Misalnya, orang buta di Betsaida (Mark. 8:22-26), wanita yang bungkuk (Luk. 13:10-13), orang yang sakit busung air (Luk. 14:14), hamba Imam Besar (Luk. 22:49-51), dan sebagainya. Ada juga penyembuh ilahi yang memerlukan semacam "kontak" bagi seseorang untuk disembuhkan. Misalnya, dengan menjamah layar televisi, menaruh sepotong kain yang sudah "diberkati" oleh si penyembuh pada bagian yang sakit, dan lain-lain. Semua syarat ini tidak terdapat dalam Alkitab. Mengharuskan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak Alkitabiah untuk mendapatkan kesembuhan patut mernbuat kita curiga apakah kesembuhan yang terjadi memang datang dari Allah, yang tidak terbatasi oleh apapun.
4. Kita juga harus memperhatikan apakah kesembuhan yang terjadi berhubungan dengan kegiatan gaib, misalnya ilmu sihir. Kesembuhan dalam situasi yang bertentangan dengan Allah pasti tidak datang dari Allah.
Bersambung ke bagian 3
Rabu, Februari 25, 2009
KARUNIA PENYEMBUHAN DAN BAHASA ROH - Bagian 2
Diposting oleh
Josh
di
19.21
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar