Selama tiga bulan terakhir tahun 1990 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam singspiration team Persekutuan Pemuda kita. Saya sungguh bersyukur atas kesempatan ini. Melayani dengan team ini sungguh telah menjadi berkat bagi saya.
Ada satu hal yang saya ingin bagikan kepada anda sekalian dari pengalaman saya dalam pelayanan ini. Sebagai anggota singspiration team, saya belajar banyak lagu-lagu yang sangat baik syairnya. Namun sering kali, ketika saya menyanyi di muka persekutuan, saya sadar bahwa syair itu sedang mengungkapkan sesuatu yang saya tidak layak katakan. Dan saya yakin jikalau anda perhatikan kata-kata dari lagu yang anda nyanyikan di gereja, mungkin sekali-kali anda akan tertegur oleh apa yang anda nyanyikan.
Sebagai ilustrasi, saya akan memakai lagu yang ditulis oleh Ir. Niko, berjudul "Aku Mengasihi Yesus".
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap hatiku
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap jiwaku
Kurenungkan firmanMu siang dan malam
Kupegang p'rintahMu dan kulakukan
Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku
Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu
Lagu ini sudah beberapa kali dinyanyikan dalam Persekutuan Pemuda. Sungguh suatu lagu dengan syair dan melodi yang indah. Tetapi, saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan kata-kata di atas dan mengintrospeksi diri sendiri, apakah syair itu sungguh-sungguh sudah diaplikasikan dalam hidup kita. Ir. Niko menulis lagu ini sebagai ungkapan hatinya kepada Tuhan. Ketika kita menyanyikannya, lagu ini seharusnya juga menjadi ungkapan hati kita. Tetapi, sungguhkah syair lagu ini merefleksikan diri kita yang sebenarnya?
Paragraf pertama lagu di atas menyatakan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa. Apakah kita sungguh mengasihi Dia dengan segenap hati kita dan jiwa kita? Mengasihi dengan segenap hati dan jiwa berarti mengasihi dengan 100%. Kasih kita hanya diarahkan kepada Tuhan saja; Tuhan yang nomor satu, dan tidak ada yang lainnya yang lebih utama dari Dia. Berarti, kalau pada jam kebaktian hari Minggu ada teman kita yang mengadakan suatu pesta dan mengundang kita, kita harus datang ke gereja walaupun harus menolak undangan itu dan mungkin dicap sombong atau sok rohani oleh teman kita itu. Berarti, kita harus tiap hari baca Alkitab dan berdoa, karena Tuhan yang kita kasihi rindu untuk bersekutu dengan anak-anakNya. Berarti, kita harus rela melayani Tuhan dengan segala yang kita miliki, walaupun itu berarti kita harus buang waktu, tenaga, uang, bensin, atau dipermalukan, menjadi kesal, menjadi kecewa, dan lain sebagainya. Kita harus melayani, dan melayani dengan tekun, dan melayani tanpa bersungut-sungut.
Paragraf kedua dimulai dengan pernyataan bahwa kita merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Apakah kita sungguh merenungkan firmanNya siang dan malam? Hal apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kita sepanjang hari? Sungguhkah itu firman Tuhan, ataukah sekolah kita, pekerjaan kita, mobil kita, uang kita, pacar kita, ataukah kata-kata si A yang menyakitkan hati, sifat si B yang kita tidak sukai, atau yang lainnya? Kalimat kedua dari paragraf kedua menyatakan bahwa kita memegang perintah-perintah Tuhan dan melakukannya. Sungguhkah kita sudah melakukan apa yang Tuhan perintahkan? Tuhan menyuruh kita untuk tidak berkuatir. Apakah kita sungguh tidak lagi berkuatir, melainkan menyerahkan semua kuatir kita kepadaNya? Tuhan menyuruh kita untuk mencari dulu KerajaanNya. Apakah kita sungguh mengutamakan kepentinganNya lebih dari kepentingan-kepentingan pribadi? Yesus menyuruh kita untuk mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri. Sudahkah kita melakukan hal itu? Tuhan perintahkan kita untuk mengabarkan Injil. Adakah kita melakukan hal itu? Dan bagian terakhir syair ini menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Tuhan, dan Tuhan tahu akan hal itu. Apakah sungguh kita hidup untuk menyenangkan Tuhan? Adakah kita bersekolah untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya kelak kita dapat pulang ke Indonesia dan membangun sebuah perusahaan yang besar dan menjadi kaya raya? Adakah kita bekerja untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya harta kita bertambah sehingga kita dapat punya pakaian yang lebih banyak dan indah, mobil yang lebih canggih, rumah yang lebih besar dan mewah? Di hadapan Tuhan tidak ada rahasia; Dia tahu tujuan hidup kita yang sebenarnya, sekalipun di dalam nyanyian kita mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hatiNya. Jikalau kita menyanyikan kalimat di atas tetapi hidup kita bukan untuk Tuhan, berarti kita berdusta di hadapan manusia dan Tuhan!
Beberapa kali saya menyanyikan lagu ini di muka persekutuan, dan saya selalu tertegur oleh pertanyaan-pertanyaan di atas. Sementara saya mengucapkan syairnya, saya sadar bahwa saya belum mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa, tidak merenungkan firmanNya siang dan malam, tidak melakukan perintah-perintahNya, dan hidup saya mempunyai tujuan lain selain menyenangkan hatiNya. Saya sadar bahwa kalau saya menyanyikan lagu ini, berarti saya berbohong. Saya tidak tahu mengenai anda sekalian. Tetapi saya menghimbau supaya ketika anda menyanyi, bukan saja lagu ini tetapi juga lagu-lagu rohani lainnya, jangan hanya menyanyi tanpa memikirkan apa yang tertulis dalam syairnya, melainkan bertanyalah kepada diri sendiri apakah anda dapat meng-amin-i syair itu. Saya tidak mengusulkan bahwa kalau anda belum sungguh menghayati syair suatu lagu, anda tidak boleh menyanyikannya. Tidak! Yang saya maksud adalah, kalau anda menyanyikan suatu lagu rohani yang baik, dan mendapatkan bahwa syair lagu itu belum nyata dalam hidup anda, pakailah syair itu sebagai tantangan untuk merubah hidup anda, sehingga di kemudian hari anda dapat menyanyikannya dan meng-amin-inya juga. Harapan saya adalah supaya untuk semua lagu, kita dapat menyanyi bukan hanya dengan mulut, tetapi juga dari hati.
Catatan: Artikel ini ditulis ketika saya melayani di Persekutuan Pemuda di GKI Lake Avenue, California, USA
Sabtu, November 28, 2009
MENYANYI DARI HATI
Diposting oleh
Josh
di
22.58
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar