Jumat, Januari 23, 2009

IMLEK - Bagian 2

4. Perayaan Imlek itu sendiri punya legenda-nya. Konon di zaman dulu di Tiongkok ada satu monster yang hidup di ketinggian gunung-gunung, namanya Nien. Kalian tahu apa artinya nien dalam bahasa Mandarin? Artinya tahun. Dan monster ini dinamai Nien atau tahun karena setiap tahun ia turun dari pegunungan ke desa-desa di Tiongkok dan akan memangsa setiap manusia yang ia temukan, baik itu laki atau perempuan, tua atau muda, besar atau kecil, semua yang namanya manusia akan dimakan. Maka setiap tahun, kalau sudah waktunya Nien akan turun gunung, orang-orang akan bersembunyi dalam rumah, dan di dalam rumah mereka persiapkan makanan dan minuman, dan mereka makan minum sepuasnya karena mungkin ini kali terakhir mereka bisa makan minum, karena mungkin saja sebentar lagi mereka jadi mangsa Nien. Kalau mereka bisa lewati malam itu sampai besok pagi, berarti Nien sudah kembali ke gunung dan mereka selamat, maka mereka keluar dan saling mengucap selamat dan bergembira, itulah dianggap hari pertama tahun baru. Suatu ketika, sewaktu Nien datang, ada satu anak yang ketinggalan di jalan. Anak ini kebetulan memakai baju merah. Orang-orang begitu tegang melihat anak ini ketika Nien datang mendekati, tetapi ketika diperhatikan ternyata Nien tidak berani dekat-dekat anak ini. Kemudian anak itu membakar petasan dan melempar ke Nien, ternyata Nien jadi ketakutan dan lari. Melihat itu orang-orang yang tadinya mengintip dari jendela dan pintu rumah, segera keluar sambil berteriak-teriak dan memukul-mukul kaleng, drum, kentongan, dan lain-lain, berusaha mengusir Nien dengan suara gaduh. Akhirnya Nien pergi dan ternyata tidak pernah kembali lagi. Sejak itulah sewaktu Imlek orang merayakannya dengan gegap gempita, sambil membakar petasan di mana-mana. Warna merah juga jadi warna utama Imlek, maka di mana-mana, termasuk di ambang-ambang pintu digantung kain-kain merah, kadang-kadang dengan tulisan-tulisan puitis. Selain untuk mengingat bahwa warna merah adalah warna yang ditakuti Nien, merah juga menggambarkan musim semi karena sastrawan Tiongkok sering menggambarkan musim semi sebagai musim yang serba merah, dan juga merah menjadi warna hoki. Selain itu juga ada tarian barongsai. Barongsai itu sebenarnya menggambarkan Nien, yang kemudian digambarkan seperti seekor singa karena singa itu raja dari semua hewan. Di dalam perkembangannya barongsai itu tidak dianggap jahat seperti Nien, melainkan bahkan pembawa hoki dan akan mengusir bencana, malapetaka dan roh-roh jahat di tempat-tempat yang ia kunjungi. Di banyak masyarakat Tionghoa, sewaktu Imlek, mereka undang tari barongsai ke rumah atau toko mereka. Barongsai itu akan masuk ke sana, ke setiap ruang, yang berarti membawa hoki dan mengusir petaka dari rumah atau toko itu. Lalu di depan pintu orang menggantung daun hijau dan angpau. Barongsai itu akan menangkap dan melahap daun dan angpau itu, lalu sambil berbaring ia seperti mengunyah, lalu daun itu dimuntahkan keluar, yang artinya kelimpahan segalanya di tahun yang baru.

5. Perayaan Imlek itu bukan perayaan satu hari saja, melainkan 15 hari yaitu tanggal 1 sampai 15, atau bahkan ada yang tarik sampai 22 hari atau 3 minggu. Itu karena ada satu peristiwa yang terjadi seminggu sebelum Imlek, yang nantinya berhubungan dengan Imlek itu sendiri. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, tanggal 23 bulan 12 Imlek adalah waktunya para dewa yang tinggal di bumi untuk kembali ke surga, melapor pada Thien, yaitu dewa yang tertinggi atau kaisar langit. Maka orang-orang Tionghoa mengantar kepergian para dewa ini dengan hio, sesajen, dan lain-lain. Salah satu dewa yang pulang itu adalah Tjiao Kun Kong atau dewa dapur. Ia ini adalah dewa yang tugasnya mengawasi kelakuan dan perbuatan dari orang-orang serumah. Menurut sejarahnya dewa ini dulunya adalah kecoa. Orang dulu memperhatikan bahwa kecoa sering muncul di dapur, lalu mereka juga perhatikan kecoa ini seperti berpakaian merah dan penampilannya seperti wanita cantik, entah bagaimana bisa dapat gambaran begini. Akhirnya kecoa bukannya diusir atau dibunuh, malah dihargai. Kemudian ada seorang kaisar yang namanya Kaisar Yan, yang berjasa menemukan cara membuat api. Sebelum mangkat ia berpesan agar semua orang menghormati dewa dapur. Sejak itulah orang Tionghoa mulai meningkatkan status kecoa menjadi dewa, dan diberi nama Tjiao Kun Kong atau dewa dapur. Nah, bersama dengan rekan-rekan dewa lainnya, dewa dapur ini kembali ke surga untuk melapor kepada atasannya Thien setiap 23/12. Dan karena ia bertugas melaporkan perilaku setiap orang di rumah, maka orang Tionghoa mengantarnya dengan lebih istimewa, dibakari hio, dikasih berbagai makanan lezat dan minuman, buah-buahan, dan sebagainya. Tujuannya adalah supaya dewa dapur senang, jadi memberi laporan yang baik-baik pada Thien. Ada juga yang persembahkan minuman keras, supaya selain kekenyangan dewa dapur juga jadi mabuk, sehingga tidak bisa kasih laporan apa-apa, yang baik maupun yang jelek. Di daerah-daerah tertentu ada yang mengolesi madu pada mulut patung dewa dapur, supaya yang ia ucapkan dan laporkan yang manis-manis. Dan ada yang mempersembahkan sejenis kue yang lengket, supaya ketika dewa dapur makan kue itu mulutnya lengket dan tidak bisa bicara. Maka jadilah cerita yang dikisahkan sastrawan kuno, menggambarkan dewa dapur naik kereta awan yang ditiup angin, sambil makan minum sepanjang jalan, sehingga setibanya di surga ia laporkan yang baik-baik saja atau tidak mampu memberi laporan karena perut kenyang hati senang, bahkan kekenyangan dan mabuk, atau mulutnya terkunci karena lengketnya kue.

6. Satu hari sebelum Imlek orang mulai mempersiapkan sembahyang besar. Sesajen lengkap disiapkan, misalnya hio, kue, buah, juga termasuk hewan yang disembelih, kadang-kadang 3 macam yaitu babi, ayam dan ikan bandeng, kadang-kadang sampai 5 macam yaitu ditambah bebek dan kepiting. Meja abu juga disiapkan. Hari sebelum Imlek ini orang mulai sembahyang pada para dewa dan leluhur. Bahkan ada tradisi untuk sembahyang sekitar tengah malam tahun baru Imlek, juga waktu subuh hari pertama Imlek. Selain sembahyang keluarga juga berkumpul untuk makan minum, biasanya dengan macam makanan yang lengkap. Di dalam pesta keluarga ini ada juga yang menyiapkan jatah makanan dan tempat untuk anggota keluarga yang sudah meninggal, supaya seluruh keluarga besar, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati bersama-sama berpesta menyambut tahun baru.

Bersambung ke Bagian 3

Tidak ada komentar: