Kamis, Januari 08, 2009

KESELAMATAN - IMAN ATAU PERBUATAN ? - Bagian 1

Salah satu doktrin yang sering kali membingungkan orang Kristen adalah doktrin keselamatan. Orang sering kali bertanya,”Apakah kita sudah selamat hanya dengan beriman kepada Yesus, atau kita harus beriman dan juga melakukan hal-hal yang baik?” Dengan kata lain, apakah hadiah (karunia) keselamatan yang Allah sediakan bisa kita peroleh hanya dengan menerima hadiah itu, ataukah kita harus berbuat amal dulu baru dapat memperolehnya?

Orang-orang yang memegang satu pandangan atau yang lainnya memakai Alkitab untuk "mendukung" kepercayaan mereka. Mereka yang percaya bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya dengan iman mereferensi tulisan Paulus di dalam surat Roma 3:21-31, Efesus 2:8-9, dll. Di sana Paulus mengajarkan,"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Ef. 2:8-9) Mereka yang mengatakan bahwa pekerjaan baik perlu untuk mendapatkan keselamatan mereferensi ajaran Yakobus 2:14-26, di mana tertulis,"Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yak. 2:17b)

Dari kedua argumen ini, tampaknya Paulus dan Yakobus mempunyai pandangan yang berbeda tentang jalan keselamatan. Paulus berkata bahwa keselamatan didapatkan dengan iman saja tanpa perbuatan, sedangkan Yakobus mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Hal ini menimbulkan kesan bahwa Alkitab mengandung kontradiksi, dan membingungkan banyak orang. Artikel ini ditulis untuk menerangkan secara singkat doktrin keselamatan sehubungan dengan perbuatan. Lebih spesifik lagi, kita akan mempelajari Roma 3:21-31 dan Yakobus 2:14-26.

Di dalam menganalisa satu bagian Alkitab, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah konteks dari bagian itu. Jadi, di dalam kita mempelajari Roma 3:21-31 dan Yakobus 2:14-26, kita harus memperhatikan konteks dari kedua bagian ini. Pertama-tama, perhatikanlah konteks dari surat Roma. Di dalam pasal 1, 2 dan separuh dari pasal 3, Paulus “tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa...” (Rom. 3:9b) Kepada orang Kristen yang legalistik (mementingkan hukum Taurat di dalam mencapai keselamatan), Paulus berkata, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat...” (Rom. 3:20a) Kemudian, di dalam ayat 21 sampai 31, Paulus mengajarkan “bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” (Rom. 3:28) Ini menjadi ajaran Paulus di dalam surat­suratnya, termasuk dalam surat Efesus, di mana Paulus mengatakan bahwa manusia dibenarkan oleh iman saja dan bukan oleh perbuatan.

Hal yang penting untuk diperhatikan di sini adalah macam pekerjaan yang Paulus sedang bicarakan. Paulus sedang berbicara mengenai pekerjaan hukum Taurat, yang dilakukan untuk mendapatkan keselamatan. Dengan kata lain, Paulus mengajarkan bahwa keselamatan didapat oleh iman, bukan oleh melakukan hukum Taurat. Ajaran semacam ini ditujukan kepada orang-orang yang masih bersandar pada agama Yahudi, yang berusaha untuk mendapatkan keselamatan dengan jalan menuruti hukum Taurat (seperti orang Farisi, Saduki, dll). Orang-orang ini menolak iman kepada Yesus, dan berusaha untuk memperkenankan hati Allah dengan jalan menuruti hukum-hukumNya. Sayangnya, standar Allah terlalu tinggi bagi manusia, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menuruti hukum Allah tanpa pelanggaran (Rom. 2:17-29, 3:23). Sebaik apa pun juga seseorang, dia pasti tidak sempurna, karena manusia pada hakekatnya sudah bobrok akibat dosa. Oleh sebab itu, Allah membuka jalan keselamatan yang baru, yaitu melalui pengorbanan AnakNya, Yesus. Hanya dengan beriman kepada Yesus, manusia sekarang dapat memperkenankan hati Allah (I Yoh. 5:13), dan tindakan ini dapat dilakukan oleh siapa pun juga yang rela membuka hatinya. Oleh karena itulah, Paulus berkata bahwa keselamatan didapat dengan iman, bukan perbuatan. Kita semua bisa mendapatkan keselamatan hanya dengan membuka hati dan menerima Yesus. Perbuatan kita tidak akan pernah mencapai standar Allah yang maha kudus. Jikalau kita bersandar pada perbuatan kita untuk dibenarkan Allah, kita tidak akan pernah mendapatkan keselamatan.

Sekarang, mari kita mempelajari Yakobus 2:14-26. Surat ini ditulis untuk orang-orang yang sudah menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus. Surat ini tidak mendiskusikan masalah doktrin seperti doktrin keselamatan dalam surat Paulus kepada Jemaat Roma, melainkan membicarakan kehidupan seorang Kristen sesudah ia diselamatkan. Ronald A. Ward menulis di dalam uraiannya (commentary) atas surat Yakobus dalam The New Bible Commentary: Revised, “We must first listen to our Lord and to His servant Paul, and then let His other servant James be a stimulus to hear and obey all that is already given in the Word.” Dengan kata lain, kita harus mendengar dulu ajaran Yesus dan Paulus (yang menyatakan jalan keselamatan), kemudian baru mendengar Yakobus (yang mengajarkan jalan kehidupan sesudah diselamatkan).


Bersambung ke bagian 2

Tidak ada komentar: