Bulan Oktober sudah tiba. Di toko-toko mulai dijual kostum‑kostum yang "nyentrik". Tak lama lagi, yaitu pada tanggal 31 Oktober, adalah hari Halloween. Tetapi banyak orang Kristen tidak sadar bahwa pada hari yang sama di tahun 1517, seorang biarawan bernama Martin Luther memaku selembar kertas di pintu
gereja di Wittenberg, Jerman. Isi dari kertas itu menimbulkan perdebatan dan kerusuhan, dari mana kemudian lahir suatu gerakan bersejarah yang disebut Reformasi.
Kita dapat belajar kebenaran Alkitab yang diperjelas oleh pendukung-pendukung Reformasi. Namun ruang yang sempit ini hanya memungkinkan kita untuk meninjau 3 konsep saja, yaitu "sola scriptura", "sola fide", dan keimaman orang percaya.
"Sola scriptura" berarti "hanya Kitab Suci." Konsep ini mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang dapat menjadi dasar dari setiap doktrin yang dipercaya oleh orang Kristen. Tidak ada buku lain, tradisi, ataupun pemikiran siapa pun yang dapat menjadi landasan dari iman kita selain Kitab Suci. Bahkan kita tak dapat mengaku Kristen hanya karena kita merasa sudah diselamatkan atau merasa "dekat dengan Tuhan". Ke-Kristen-an mempunyai dasar di dalam pengenalan (intelek) kita akan Allah yang menyatakan Diri melalui FirmanNya dan reaksi kita terhadap pengenalan ini (percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat). Jadi, iman kita haruslah berdasar pada Alkitab.
Karena Alkitab adalah dasar iman kita, kita harus rajin mempelajari buku ini. Hanya membaca beberapa ayat atau perikop, atau merenungkan Our Daily Bread setiap hari tidaklah cukup. Kita harus rajin menggali kebenaran Kitab Suci sehingga kita mengerti doktrin-doktrin yang benar yang harus kita percayai. Hal ini sangat penting, terutama di masa kini yang penuh dengan "rupa-rupa angin pengajaran" (Ef. 4:14). Ada banyak ajaran sesat, bahkan ajaran-ajaran yang berbau Kristen dan "memakai" Alkitab, namun semua itu membawa manusia jauh dari Allah yang benar. Dengan mengokohkan iman kita berdasarkan ajaran-ajaran Alkitab yang murni, kita dapat bertahan melawan serangan "rupa-rupa angin pengajaran" ini dan menolong teman-teman kita yang sedang tersesat.
Hal kedua yang kita akan pelajari adalah konsep "sola fide", yang berarti "hanya iman". Konsep ini mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya dengan iman dan bukan dengan perbuatan (Rom. 3:28; Ef. 2:8,9). Walaupun kita bekerja keras supaya kita berkenan di hadapan Allah, ataupun kita merasa pasti masuk Surga karena kita selalu berbuat hal-hal yang baik dan terpuji, namun tanpa percaya kepada Yesus Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat, kita tidak akan selamat.
Ketika menerima Tuhan Yesus dengan iman, Dia masuk ke dalam hati kita. Tapi sayangnya, sering kali kita membiarkan Dia hanya sebagai tamu, sedangkan yang menguasai hidup kita adalah diri kita sendiri. Padahal Dia adalah Allah, Raja dari segala raja, yang seharusnya juga menjadi raja atas hidup kita. Akibatnya, hidup kita tidak berbuah. Perbuatan-perbuatan kita tak ada bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen, bahkan ada yang lebih buruk dan menjadi batu sandungan. Kita harus radar akan hal ini, bertobat dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, membiarkan Dia menguasai dan menuntun kita setiap waktu. Dengan demikian, kita akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik dan berkenan pada Allah; bukan perbuatan-perbuatan yang menyelamatkan, tetapi perbuatan-perbuatan yang lahir dari iman kita kepada Yesus.
Hal yang terakhir adalah konsep keimaman orang percaya (I Pet. 2:5,9), yang mengajarkan bahwa setiap orang Kristen adalah seorang imam. Imam dalam Alkitab mempunyai kewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan. Jadi, kita sebagai imam juga berkewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan.
Persembahan yang dibawakan oleh imam-imam dalam Alkitab ditujukan untuk penyucian dosa diri mereka sendiri dan seluruh bangsa Israel. Tetapi kemudian Yesus datang dan mati di kayu salib. Kematian ini adalah korban persembahan yang menyucikan dosa orang Kristen selama-lamanya. Oleh karena itu, kita sebagai imam tidak lagi membawakan persembahan demi penyucian dosa, melainkan sebagai tanda syukur atas keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah sendiri. Alkitab memberikan contoh-contoh persembahan yang praktis. Roma 12:1 mengajak kita untuk "mempersembahkan tubuh" kita kepada Allah. Ini berarti kita harus memakai segala kekuatan, kesehatan dan kemampuan tubuh kita untuk melayani Dia. Kita juga harus menjaga kemurnian pikiran dan hati kita, karena pikiran dan hatilah yang mendorong segala perbuatan tubuh kita (Mat. 15:19). Ibrani 13:15 mengajarkan kita untuk "mempersembahkan korban syukur kepada Allah". Kita patut untuk selalu mengucap syukur, dalam senang dan susah, gembira dan sedih, panas dan dingin. Janganlah kita terlalu mudah mengeluh, tetapi "mengucap syukurlah dalam segala hal" (I Tes. 5:18). Lebih spesifik lagi, ayat ini mengajarkan kita untuk mempersembahkan “ucapan bibir yang memuliakan namaNya". Kita patut memakai kata-kata kita untuk meninggikan nama Tuhan, bukan untuk gosip, atau mencerca orang lain, atau menjatuhkan orang lain. Ibrani 13:16 mengingatkan kita untuk "berbuat baik dan memberikan bantuan", jadi melayani kebutuhan orang lain. Untuk membawa persembahan ini, kita harus rela mengorbankan waktu dan tenaga kita. Kita tidak boleh hanya memikirkan uang, pelajaran, pekerjaan dan kepentingan diri sendiri saja. Kita harus memikirkan keperluan orang lain juga, dan mengulurkan bantuan kepada mereka. Ini semua adalah kewajiban kita sebagai imam.
Empat abad yang lalu, gerakan Reformasi dilahirkan dan kebenaran Alkitab dinyatakan kembali. Sekarang, di abad ke-20, masihkah kita mengikuti ajaran-ajaran Alkitab yang murni? Adakah kita rajin mempelajari Kitab Suci, menjadikan satu-satunya dasar kepercayaan kita? Adakah kita menjadikan Allah raja atas hidup kita, membiarkan Dia memimpin kita setiap saat sehingga hidup kita berbuah? Adakah kita menjalankan kewajiban kita sebagai imam, mempersembahkan seluruh hidup kita dan apa yang kita lakukan sebagai persembahan yang memperkenankan Tuhan dan demi kebaikan orang lain? Marilah kita mengevaluasi diri kita di hadapan Allah dan kembali menjalankan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin.
Catatan: Artikel ini saya tulis ketika masih ada di AS, menjelang satu peringatan hari Reformasi / Halloween
Selasa, Oktober 20, 2009
ALKITAB, IMAN DAN IMAMAT
Diposting oleh
Josh
di
13.14
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar