e) Sekarang kita lanjutkan ke pertanyaan 2). Untuk ini kita sekali lagi meng-afirmasi-kan bahwa Allah tetap peduli dan bekerja dalam dunia ini. Setelah selesai mencipta, Allah turut berperan dalam perjalanan sejarah ciptaanNya. Hal ini sekali lagi merupakan iman yang didasarkan atas kesaksian Alkitab.
f) Jikalau Allah memang masih aktif, mengapa Ia tidak bertindak? Pertanyaan ini berangkat dari asumsi yang keliru, bahwa Allah tidak bertindak terhadap berbagai kejahatan yang ada di dunia. Sesungguhnya Allah sudah dan sedang dan akan bertindak terhadap kejahatan di seluruh dunia. Sebagai contoh, simak kisah air bah Nuh, menara Babel, dan berbagai kisah lain dalam Alkitab tentang penghukuman Allah atas dosa-dosa pribadi maupun sekelompok masyarakat. Kisah-kisah ini menyaksikan bahwa Allah tidak tinggal diam di hadapan kejahatan. Contoh yang lebih kontemporer bisa kita lihat dalam sistem pengadilan di setiap negara, adanya penjara sebagai tempat hukuman bagi pelanggar hukum, praktek ganjaran pada anak-anak sekolah yang nakal, dan lain-lain, semua ini bisa dimengerti sebagai refleksi hukuman Allah atas kejahatan (bandingkan dengan Rom 13:1-3). Jadi sesungguhnya sepanjang sejarah Allah bertindak terhadap kejahatan, namun harus diakui bahwa Allah memang belum bertindak secara tuntas. Maka yang harusnya menjadi pertanyaan bukanlah mengapa Allah yang sempurna tidak bertindak melawan kejahatan, melainkan mengapa selama ini Allah belum juga menindak kejahatan secara tuntas. Yang harusnya dipertanyakan bukan fakta tindakan Allah terhadap kejahatan, melainkan kualitas dari tindakan Allah tersebut.
g) Masalah "tidak tuntasnya tindakan Allah terhadap kejahatan" itu sendiri harus dikaji dari dua sudut. Pembedaan sudut pandang ini timbul dari aspek kejahatan yang ada di pikiran kita ketika kita mempertimbangkan masalah ini. Apa yang kita maksudkan dengan "kejahatan"? Apakah sekedar contoh-contoh seperti pelecehan, perampokan, pembunuhan, aniaya, dan semacamnya? Jikalau ini yang ada di benak kita, maka benarlah bahwa Allah dikatakan belum menindak kejahatan secara tuntas, karena pada kenyataannya segala contoh di atas masih tetap riil dan subur di sekitar kita. Tetapi jikalau kita mempertimbangkan kejahatan dari sumbernya, yaitu dosa manusia, maka sesungguhnya Allah sudah tuntas dalam tindakanNya. Melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya dari antara orang mati, Allah telah sekali untuk selamanya mengalahkan dan menghancurkan dosa. Dosa sudah kehilangan sengat dan kuasanya. Jikalau kita melihat dosa sebagai kejahatan yang ultimate, yaitu sumber dari segala contoh kejahatan yang kita lihat di sekitar kita, atau dengan kata lain segala contoh kejahatan adalah efek dari dosa, maka dari sudut ini harus dikatakan bahwa Allah sudah tuntas dalam tindakanNya terhadap kejahatan.
h) Akhirnya kita sampai pada bagian yang paling membingungkan dari seluruh pertanyaan ini, yaitu kontras antara ke-belum-tuntas-an tindakan Allah terhadap kejahatan dengan sifat mahasempurna dari Allah sendiri. Di sini kita harus kembali pada iman kita atas dasar kesaksian Alkitab sebagaimana telah disebutkan di butir a), bahwa Allah harus dipercaya sebagai Allah yang maha-sempurna. Hal ini tidak boleh ditawar lagi, atas dasar otoritas Firman Allah sendiri. Jadi, belum tuntasnya tindakan Allah bukan berarti Allah sudah mencoba menuntaskannya namun tidak bisa (Allah tidak maha-kuasa), atau Allah kurang mengasihi kita sehingga tidak mau menuntaskan tindakanNya (Allah tidak maha-kasih), atau Allah tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga Ia lalai bertindak (Allah tidak maha-hadir atau tidak peduli). Berangkat dari keyakinan akan sifat kesempurnaan Allah, kita harus melihat bahwa Allah belum menindas kejahatan secara tuntas karena Ia mempunyai alasan-alasanNya sendiri. Kita sebagai manusia tidak boleh berharap dapat mengerti seluruh pertimbangan dan alasan Allah, karena pemikiran dan bijaksana Allah jauh melebihi manusia yang terbatas (Yes 55:8). Jadi pada akhirnya kita harus puas dengan beberapa altematif penjelasan, antara lain:
· Allah belum menindak tuntas kejahatan untuk menunjukkan kepada dunia sepanjang masa akan akibat dan dosa, bahwa bagi manusia dan alam semesta yang ada di luar diriNya hanya ada kesengsaraan dan penderitaan.
· Allah ingin memakai kejahatan yang menimpa seorang anakNya sebagai pelajaran untuk memperteguh imannya maupun untuk merendahkan kesombongannya (Ibr 12:7-11).
· Penundaan Allah menunjukkan kesabaranNya yang maha-panjang atas manusia yang terus lari dariNya dan tidak mau kembali. Ia terus memanggil dan memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali sebelum Ia nanti memutuskan perjalanan sejarah manusia.
· Allah masih menunggu sampai waktu takaran kejahatan manusia penuh, sehingga nyata bahwa penghakiman Allah itu adil dan tidak prematur, bahwa kejahatan manusia sudah cukup matang untuk menerima ganjaran yang tuntas (Rom 2:5-6).
i) Bahwasanya Allah akan suatu hari kelak menindak tuntas kejahatan yang ada, sebagai realisasi dan ketuntasan tindakanNya terhadap sumber kejahatan itu sendiri, yaitu dosa, merupakan pengharapan yang ultimate bagi anak-anak Tuhan di dalam menghadapi segala kejahatan yang ada. Kita tahu Allah mempunyai tujuan di dalam membiarkan kejahatan terjadi pada kita, dan kasih serta kuasaNya akan terus menopang kita di dalam menghadapi segala kejahatan itu. Namun kita juga tahu bahwa kejahatan tidak akan menelan habis kita, karena pada akhirnya Allah akan menindak tuntas segala kejahatan yang ada. Pertanyaan 2) di atas dapat dilihat sebagai pertanyaan yang dilontarkan terlalu pagi (prematur), pertanyaan yang menjadi tidak relevan ketika dikaji dengan mata yang memandang ke depan, memandang lebih jauh dan kemelut yang kita alami masa ini.
Catatan: Artikel ini adalah sebagian dari makalah tanya-jawab yang disusun dalam rangka pembinaan Guru Sekolah Minggu di GKI Pinangsia, Jakarta. Pertanyaan nomor 2 dan 3 akan menyusul ditayangkan di kemudian hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar