2. Apakah kasih yang dimiliki Allah tidak mampu untuk menyelamatkan semua orang berdosa?
Seperti pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ini juga mengandung beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan.
Jikalau kita ingin mempertanyakan kualitas kasih dari Allah, yaitu apakah kasihNya itu cukup mampu dan cukup memadai di dalam proyek keselamatan yang Ia lakukan, maka dengan mengingat kesempurnaan Allah termasuk dalam kasihNya (lihat jawaban pertanyaan pertama), kita harus menyimpulkan bahwa kasih Allah pasti cukup mampu untuk menyelamatkan manusia. Kesimpulan ini dapat ditarik dengan logika manusia semata, didukung oleh premis-premis yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Jikalau kita ingin mempertanyakan wawasan atau jangkauan dari kasih Allah yang menyelamatkan itu, yaitu apakah kasih yang menyelamatkan itu sesungguhnya atau seharusnya merangkul semua manusia, maka kita perlu menelusuri butir-butir pemikiran berikut:
a) Semua orang berdosa, sebagaimana disaksikan oleh Alkitab (Rom 3:23).
b) Dosa dapat dimengerti sebagai pelanggaran atas kehendak atau hukum Allah yang sempurna, atau dapat juga dimengerti sebagai pemberontakan manusia dari tangan dan kuasa Allah.
c) Allah sebagai pencipta yang terus bekerja di dalam sejarah ciptaanNya (lihat jawaban pertanyaan sebelumnya) harus menyatakan sikap dan tindakan terhadap fakta dosa dan manusia yang berdosa. Sikap dan tindakan ini tentunya harus sesuai dengan sifat-sifatNya.
d) Salah satu sifat Allah adalah maha-suci. Di dalam kesucianNya Allah tidak dapat mentolerir dosa, yang merupakan sesuatu yang tidak suci, dan tidak dapat pula mentolerir manusia yang sudah tercemar ketidaksucian dosanya.
e) Salah satu lagi sifat Allah adalah maha-adil. Di dalam keadilanNya Allah harus menghukum manusia yang telah melakukan dosa. Oleh sebab semua manusia sudah berdosa, maka semua manusia ada di bawah hukuman Allah.
f) Salah satu lagi sifat Allah adalah maha-kasih. Di dalam kasihNya Allah tidak dapat tinggal diam melihat manusia ciptaanNya dirusak oleh dosa. Oleh sebab itu Ia mengerjakan karya keselamatan bagi manusia dengan mati di kayu salib dan bangkit dari kematian, agar manusia boleh mendapatkan harapan terlepas dari ikatan dan akibat dosa.
g) Di dalam kita mempertimbangkan wawasan dan karya keselamatan yang dikerjakan Allah, kita tidak boleh hanya mempertimbangkan kasihNya saja, kendati pun karya itu sendiri didorong oleh sifat maha-kasih Allah. Kita juga harus mempertimbangkan sifat kesucianNya dan keadilanNya, lalu mencari keseimbangan antara kasih-kesucian-keadilan Allah di dalam menentukan bagaimana Allah memberlakukan karya agungNya itu. Kesucian dan keadilan Allah menuntut agar semua manusia dihukum oleh karena dosa, tetapi kasih Allah mendorongNya untuk juga mengambil langkah menyelamatkan. Jikalau Ia menghukum semua manusia, Ia menyatakan sifat kesucian dan keadilanNya, namun kasihNya tidak mendapatkan ekspresi. Sebaliknya jikalau Ia menyelamatkan semua manusia, Ia tampak maha-kasih, namun kesucian dan keadilanNya tidak mendapatkan ekspresi. Demi kesempurnaanNya, Allah tidak dapat mengambil salah satu dari kedua ekstrim di atas. Allah harus bersikap dan bertindak secara seimbang dalam sifat-sifatNya. Oleh sebab itu, Allah harus menyelamatkan sebagian manusia dan menghukum yang lainnya. PenyelamatanNya menunjukkan kasihNya, sedangkan penghukumanNya menunjukkan kesucian dan keadilanNya. Hanya dengan demikianlah Allah bisa dikatakan bersikap dan bertindak secara sempurna di dalam menghadapi dosa.
Jadi kesimpulannya, apakah kasih Allah sebenarnya cukup dan mampu untuk menyelamatkan semua orang? Jawabnya adalah, mampu, karena toh kasih Allah adalah kasih yang sempurna. Tetapi Allah tidak akan menyelamatkan semua orang, bukan karena kasihNya tidak mencukupi, melainkan karena selain kasih Ia juga suci dan adil. Semua sifat Allah itu harus mendapatkan ekspresi yang memadai bagi Allah untuk menjadi Allah yang sempurna, dan ekspresi dari kesucian dan keadilanNya tidak memungkinkanNya untuk menyelamatkan semua orang tanpa menjalankan penghukuman.
Catatan: Ini merupakan pertanyaan ke-2 dari tanya-jawab pembinaan GSM GKI Pinangsia. Pertanyaan ke-3 menyusul.
Senin, Januari 04, 2010
MENJAWAB PERTANYAAN - UNIVERSAL SALVATION
Diposting oleh
Josh
di
00.21
0
komentar
Jumat, Desember 25, 2009
MELIHAT KEPADA BAYI YESUS
Lampu-lampu beraneka warna mulai menghiasi pohon-pohon di jalan. Poster mengenai acara-acara Natal mulai nampak. Pohon-pohon Natal, dengan segala ornamen dan lampu kelap-kelip, mulai mengambil tempatnya di rumah-rumah. Toko-toko serba ada mulai menjual barang-barang Natal...kartu, perhiasan pintu, ornamen, dan lain-lain, dan orang mulai belanja untuk hadiah bagi teman dan keluarga. Lagu-lagu Natal mulai berkumandang. Tanggal 25 Desember sudah dekat, dan suasana Natal menaungi segala tempat di mana manusia hidup. Namun, di tengah kemeriahan ini, adakah hati saudara bersuka-cita? Ataukah realitas hidup ini menekan saudara, sehingga senyum saudara hanyalah merupakan topeng yang menutupi air mata dari hati yang terbeban dan terluka?
Natal adalah suatu waktu yang bahagia; paling tidak itu yang kita semua harapkan. Suasana Natal adalah suasana yang menimbulkan sukacita dalam hati dan tawa riang di wajah kita. Tetapi kenyataan hidup ini kadang kala terlalu kejam. Natal atau bukan, kekecewaan, kesedihan, dan pelbagai kesusahan tetap saja menjadi bagian dari kehidupan. Kadang kita tersenyum, tetapi hati kita terluka. Kadang di muka teman-teman kita tertawa dan tampak riang, namun di dalam kita menangis dan merasa kesepian. Tidak heran kalau kita sering mendengar orang berkata bahwa di waktu Natal justru banyak orang yang begitu merasa tersendiri sampai ia mengambil nyawanya sendiri. Natal mungkin adalah waktu yang membahagiakan, tetapi banyak orang yang merayakannya yang merasa jauh dari kebahagiaan itu.
Tetapi, adakah saudara sadari apa arti Natal sebenarnya? Di tengah kesibukan saudara berbelanja, atau berlatih sandiwara, atau yang lainnya, pernahkah saudara berhenti sejenak dan kembali kepada motivasi dari hari besar ini? Dua ribu tahun yang lalu, seorang bayi dilahirkan di sebuah kandang di Betlehem. Malam itu, kegelapan dunia ditembusi oleh cahaya dari Surga, karena bayi yang baru lahir ini bukanlah sembarang bayi. Bayi ini adalah Allah sendiri, yang menjelma sebagai manusia, supaya Dia dapat berjalan di tengah-tengah makhluk ciptaanNya. NamaNya Yesus, Juruselamat dunia. Allah rela meninggalkan segala kemuliaanNya, merendahkan DiriNya sehingga menjadi sama seperti kita, bukan supaya dinobatkan menjadi raja di dunia, tetapi supaya digantung di atas kayu salib, supaya setiap orang yang melihat kepadaNya dan percaya dan menerima karya penebusanNya boleh layak menerima hidup yang kekal bersamaNya. KasihNya yang mulia kepada manusia yang sudah memberontak mendorongNya untuk datang ke dunia dan menawarkan jalan perdamaian, walaupun itu berarti penghinaan, kesengsaraan, dan kematian buat DiriNya. Bayi Yesus telah datang untuk memberikan kepada kita sukacita, damai sejahtera, dan harapan di dalam kehidupan ini. Dia datang untuk memberikan hidup yang kekal, supaya di tengah kemelut hidup ini kita dapat mengusap air mata dan berkata,”Aku hanya musafir yang melintasi padang pasir dunia. Tujuanku adalah Surga, di mana Tuhanku berada. Selama di perantauan ini, aku akan menyalurkan kasih Tuhanku dengan mengajak banyak dari kawan-kawan seperjalananku untuk juga pergi kepada kemuliaan yang baka itu.”
Berhentilah sejenak dari apa pun juga yang saudara sedang kerjakan atau rasakan sekarang. Tengoklah ke dalam hati saudara. Adakah saudara merasa sedih? Adakah hati saudara terluka atau terbeban? Adakah air mata saudara menetes? Adakah saudara merasa kecewa, atau marah, atau bingung, atau putus harapan? Tuhan Yesus berkata,”Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Pada Natal ini, alihkanlah pandangan saudara kepada bayi Yesus di dalam palungan Betlehem itu, bayi yang telah datang untuk memberikan kelegaan kepada saudara. Tanggalkanlah segala beban di depan pintu kandang, masuklah, dan sujudlah menyembah Allah yang penuh kasih. Dua ribu tahun yang lalu Yesus sudah datang untuk saudara dan saya. Jangan lagi simpan segala kesusahan, tetapi serahkanlah semua ke dalam tanganNya. Apapun juga masalah saudara, Dia yang penuh kasih itu akan memberikan kelegaan kepadamu. Amin.
Diposting oleh
Josh
di
04.36
0
komentar
Sabtu, November 28, 2009
MENYANYI DARI HATI
Selama tiga bulan terakhir tahun 1990 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam singspiration team Persekutuan Pemuda kita. Saya sungguh bersyukur atas kesempatan ini. Melayani dengan team ini sungguh telah menjadi berkat bagi saya.
Ada satu hal yang saya ingin bagikan kepada anda sekalian dari pengalaman saya dalam pelayanan ini. Sebagai anggota singspiration team, saya belajar banyak lagu-lagu yang sangat baik syairnya. Namun sering kali, ketika saya menyanyi di muka persekutuan, saya sadar bahwa syair itu sedang mengungkapkan sesuatu yang saya tidak layak katakan. Dan saya yakin jikalau anda perhatikan kata-kata dari lagu yang anda nyanyikan di gereja, mungkin sekali-kali anda akan tertegur oleh apa yang anda nyanyikan.
Sebagai ilustrasi, saya akan memakai lagu yang ditulis oleh Ir. Niko, berjudul "Aku Mengasihi Yesus".
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap hatiku
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap jiwaku
Kurenungkan firmanMu siang dan malam
Kupegang p'rintahMu dan kulakukan
Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku
Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu
Lagu ini sudah beberapa kali dinyanyikan dalam Persekutuan Pemuda. Sungguh suatu lagu dengan syair dan melodi yang indah. Tetapi, saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan kata-kata di atas dan mengintrospeksi diri sendiri, apakah syair itu sungguh-sungguh sudah diaplikasikan dalam hidup kita. Ir. Niko menulis lagu ini sebagai ungkapan hatinya kepada Tuhan. Ketika kita menyanyikannya, lagu ini seharusnya juga menjadi ungkapan hati kita. Tetapi, sungguhkah syair lagu ini merefleksikan diri kita yang sebenarnya?
Paragraf pertama lagu di atas menyatakan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa. Apakah kita sungguh mengasihi Dia dengan segenap hati kita dan jiwa kita? Mengasihi dengan segenap hati dan jiwa berarti mengasihi dengan 100%. Kasih kita hanya diarahkan kepada Tuhan saja; Tuhan yang nomor satu, dan tidak ada yang lainnya yang lebih utama dari Dia. Berarti, kalau pada jam kebaktian hari Minggu ada teman kita yang mengadakan suatu pesta dan mengundang kita, kita harus datang ke gereja walaupun harus menolak undangan itu dan mungkin dicap sombong atau sok rohani oleh teman kita itu. Berarti, kita harus tiap hari baca Alkitab dan berdoa, karena Tuhan yang kita kasihi rindu untuk bersekutu dengan anak-anakNya. Berarti, kita harus rela melayani Tuhan dengan segala yang kita miliki, walaupun itu berarti kita harus buang waktu, tenaga, uang, bensin, atau dipermalukan, menjadi kesal, menjadi kecewa, dan lain sebagainya. Kita harus melayani, dan melayani dengan tekun, dan melayani tanpa bersungut-sungut.
Paragraf kedua dimulai dengan pernyataan bahwa kita merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Apakah kita sungguh merenungkan firmanNya siang dan malam? Hal apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kita sepanjang hari? Sungguhkah itu firman Tuhan, ataukah sekolah kita, pekerjaan kita, mobil kita, uang kita, pacar kita, ataukah kata-kata si A yang menyakitkan hati, sifat si B yang kita tidak sukai, atau yang lainnya? Kalimat kedua dari paragraf kedua menyatakan bahwa kita memegang perintah-perintah Tuhan dan melakukannya. Sungguhkah kita sudah melakukan apa yang Tuhan perintahkan? Tuhan menyuruh kita untuk tidak berkuatir. Apakah kita sungguh tidak lagi berkuatir, melainkan menyerahkan semua kuatir kita kepadaNya? Tuhan menyuruh kita untuk mencari dulu KerajaanNya. Apakah kita sungguh mengutamakan kepentinganNya lebih dari kepentingan-kepentingan pribadi? Yesus menyuruh kita untuk mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri. Sudahkah kita melakukan hal itu? Tuhan perintahkan kita untuk mengabarkan Injil. Adakah kita melakukan hal itu? Dan bagian terakhir syair ini menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Tuhan, dan Tuhan tahu akan hal itu. Apakah sungguh kita hidup untuk menyenangkan Tuhan? Adakah kita bersekolah untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya kelak kita dapat pulang ke Indonesia dan membangun sebuah perusahaan yang besar dan menjadi kaya raya? Adakah kita bekerja untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya harta kita bertambah sehingga kita dapat punya pakaian yang lebih banyak dan indah, mobil yang lebih canggih, rumah yang lebih besar dan mewah? Di hadapan Tuhan tidak ada rahasia; Dia tahu tujuan hidup kita yang sebenarnya, sekalipun di dalam nyanyian kita mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hatiNya. Jikalau kita menyanyikan kalimat di atas tetapi hidup kita bukan untuk Tuhan, berarti kita berdusta di hadapan manusia dan Tuhan!
Beberapa kali saya menyanyikan lagu ini di muka persekutuan, dan saya selalu tertegur oleh pertanyaan-pertanyaan di atas. Sementara saya mengucapkan syairnya, saya sadar bahwa saya belum mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa, tidak merenungkan firmanNya siang dan malam, tidak melakukan perintah-perintahNya, dan hidup saya mempunyai tujuan lain selain menyenangkan hatiNya. Saya sadar bahwa kalau saya menyanyikan lagu ini, berarti saya berbohong. Saya tidak tahu mengenai anda sekalian. Tetapi saya menghimbau supaya ketika anda menyanyi, bukan saja lagu ini tetapi juga lagu-lagu rohani lainnya, jangan hanya menyanyi tanpa memikirkan apa yang tertulis dalam syairnya, melainkan bertanyalah kepada diri sendiri apakah anda dapat meng-amin-i syair itu. Saya tidak mengusulkan bahwa kalau anda belum sungguh menghayati syair suatu lagu, anda tidak boleh menyanyikannya. Tidak! Yang saya maksud adalah, kalau anda menyanyikan suatu lagu rohani yang baik, dan mendapatkan bahwa syair lagu itu belum nyata dalam hidup anda, pakailah syair itu sebagai tantangan untuk merubah hidup anda, sehingga di kemudian hari anda dapat menyanyikannya dan meng-amin-inya juga. Harapan saya adalah supaya untuk semua lagu, kita dapat menyanyi bukan hanya dengan mulut, tetapi juga dari hati.
Catatan: Artikel ini ditulis ketika saya melayani di Persekutuan Pemuda di GKI Lake Avenue, California, USA
Diposting oleh
Josh
di
22.58
0
komentar
Jumat, November 13, 2009
DOKTRIN - Bagian 3
Dalam bagian pertama sudah saya jabarkan empat golongan doktrin Kristen dan implikasinya dalam hal pembedaan denominasi dalam dunia Kristen. Di sana telah disinggung bahwa doktrin-doktrin dasar (essential doctrines) adalah yang paling penting, yang harus dipegang oleh setiap orang yang mau mengaku Kristen sejati. Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas secara singkat kelima doktrin dasar tersebut.
1. ALLAH TRITUNGGAL
Allah Tritunggal berarti Allah yang Alkitab ajarkan dan yang harus dipercaya oleh seorang Kristen adalah Allah yang esa dan sekaligus mempunyai 3 Pribadi. Hanya ada satu Allah secara natur, tetapi Allah yang esa naturnya ini terdiri dari 3 Pribadi yang berbeda dan sama-sama ada, yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Perlu diperhatikan bahwa fakta bahwa Allah itu esa tidak berarti Allah tidak mungkin mempunyai 3 Pribadi, karena kedua kualitas itu (esa dan jamak/3) adalah dalam kategori yang berbeda - esa secara natur tetapi jamak (3) secara kepribadian/oknum. Juga bahwa Allah terdiri dari 3 Pribadi tidak berarti orang Kristen menyembah 3 Allah (politeisme), karena ketiga pribadi itu esa dalam naturNya. Jadi, konsep Allah Tritunggal tidak menimbulkan kontradiksi logis, karena Allah itu "tri" dan "tunggal" sekaligus dalam hal yang berbeda.
Bukti Alkitabiah:
a. Allah itu esa: Ulangan 6:4
b. Pribadi "Bapa" disebut Allah: I Kor 8:6
c. Pribadi "Yesus" disebut Allah: Yoh 1:1, 18
d. Pribadi "Roh Kudus" disebut Allah: KIS 5:3-4
e. Karena Alkitab mengajarkan hanya ada satu Allah, dan sekaligus menyebut 3 Pribadi (Bapa, Yesus, Roh Kudus) sebagai Allah, jadi Alkitab mengajarkan Allah yang esa dengan 3 Pribadi, ie, Allah Tritunggal.
2. YESUS - ALLAH DAN MANUSIA
Yesus memang tokoh sejarah yang hidup sekitar 2000 tahun yang lalu. Tetapi Dia lebih dari sekedar manusia seperti kita, Dia adalah juga Allah sendiri. Yesus tidak lebih rendah dari Allah, walaupun Dia juga mempunyai natur manusia. Yesus juga bukan salah satu Allah, karena hanya ada 1 Allah (esa). Yesus adalah 100% manusia dan juga 100% Allah.
Bukti Alkitabiah:
Yoh 1:1, 18; Yoh 20:28; dll
3. KEBANGKITAN YESUS
Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bangkit:
a. Dengan tubuh jasmaniah/material, yakni tulang dan daging yang dapat dijamah.
b. Dengan tubuhNya sendiri, yakni yang 3 hari sebelumnya disiksa dan digantung di atas kayu salib.
Bukti Alkitabiah:
Lukas 24:37-39; dll.
4. KARYA PENEBUSAN YESUS
Yesus menanggung hukuman dosa ganti kita. Karya Yesus itu sudah sempurna untuk memberikan keselamatan total bagi kita. Karya Yesus efektif untuk mengampuni kita dari SEMUA dosa kita.
Bukti Alkitabiah:
I Yoh 1:7,9; dll.
5. KESELAMATAN
Keselamatan adalah semata-mata karena kasih karunia Allah, jadi pemberian Allah, bukan hasil usaha kita sendiri, sebagaimana baiknya perbuatan kita itu. Kita tidak dapat membeli keselamatan dari Allah dengan perbuatan kita. Keselamatan hanya dapat kita peroleh dari Allah sebagai suatu hadiah.
Bukti Alkitabiah:
Ef 2:8-9; dll.
Sumber: A lecture by Craig Hawkins, “Gospel and the Cults", Simon Greenleaf University, California, USA.
Catatan: Ditulis ketika kuliah di CalPoly Pomona, California, USA
Diposting oleh
Josh
di
23.03
0
komentar
Jumat, November 06, 2009
DOKTRIN - Bagian 2
Keempat golongan doktrin di atas disusun dari yang paling penting ke yang tidak penting. Essential doctrines harus dipegang oleh setiap orang yang mengaku sebagai orang Kristen, karena mereka menyangkut ajaran-ajaran pokok dari Alkitab - mengenai Allah, Juruselamat kita Yesus Kristus dan karya keselamatan bagi kita. Cardinal doctrines adalah doktrin-doktrin yang penting, tetapi seorang dapatlah juga Kristen jikalau tidak menerima beberapa dari doktrin kardinal, misalnya tidak sependapat dengan pandangan yang mainstream. Tertiary (third order) doctrines lebih rendah lagi prioritasnya. Kebanyakan orang Kristen tidak setuju satu dengan yang lain. Bahkan inilah yang banyak membuat denominasi. Sedangkan peripheral doctrines adalah ajaran-ajaran sampingan yang tidak penting.
Seperti yang telah dikatakan di atas, umat Kristen yang sejati harus memegang kelima doktrin dasar (essential doctrines) - ini tidak dapat ditawar. Tetapi untuk doktrin-doktrin lainnya, umat Kristen dapat "setuju untuk tidak setuju" dan tetap adalah Kristen. Pembedaan denominasi yang didasarkan pada doktrin tingkat tiga (tertiary doctrines) tidak menandakan perpecahan dalam dunia ke-Kristen-an, karena semua denominasi ini, walaupun berbeda pendapat dalam doktrin-doktrin ini, tetap bersatu dalam doktrin-doktrin dasar, sehingga semua tetap orang Kristen. Pembedaan denominasi, dll itu lebih merupakan variasi dalam dunia Kristen, bukan perpecahan.
Masalahnya, sering kali orang Kristen tidak menyadari tingkatan prioritas doktrin dan kepercayaan Kristen. Akibatnya, ketika ada orang yang berbeda pandangan dengan kita, lalu kita menyatakan dia salah, kurang sempurna atau bukan Kristen sejati. Mestinya kita lihat dulu, perbedaan dalam doktrin yang mana yang terjadi. Kalau memang berbeda dalam doktrin dasar (misalnya dengan ajaran-ajaran sesat seperti Mormonisme, Saksi Jehovah, dll), maka memanglah mereka yang tidak memegang doktrin dasar adalah sesat. Tetapi jikalau terjadi perbedaan pendapat dalam doktrin-doktrin lainnya, kita tidak boleh menghakimi mereka bahwa mereka jauh dari Allah - mereka tetap saudara kita dalam Kristus.
Bersambung ke bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
23.27
0
komentar
Rabu, November 04, 2009
DOKTRIN - Bagian 1
Melihat perkembangan denominasi dan berbagai golongan Kristen sekarang ini, sering kita (atau orang lain) bertanya, apakah dunia Kristen sudah terpecah-belah? Apalagi kadang-kadang ada golongan yang menyatakan bahwa golongan/denominasi dialah saja yang murni, sedangkan yang lain tidak sempurna atau keliru. Apa sebenarnya yang menyatukan dan memisahkan berbagai denominasi dan golongan ini?
Dari sudut doktrin/ajaran, sebenarnya kita dapat tinjau dari macam doktrin itu. Ada empat macam doktrin, seperti yang akan dijabarkan di bawah ini:
ESSENTIAL DOCTRINES
1. Allah Tritunggal
2. Yesus - Allah dan manusia
3. Kebangkitan Yesus - jasmaniah (material) dan dengan tubuhNya sendiri
4. Penebusan Yesus - total
5. Keselamatan - hanya dengan iman berdasarkan anugerah
CARDINAL DOCTRINES
1. Kelahiran Yesus dari seorang perawan
2. Kitab Suci tidak mengandung kesalahan
3. Berbagai pandangan mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali
4. Konsep mengenai gereja (eklesiologi)
5. Moralitas
6. Doktrin mengenai dosa
7. dan lain-lain
TERTIARY DOCTRINES
1. Jenis organisasi gereja (presbitarian, congregational, dll)
2. Cara baptisan
3. dan lain-lain
PERIPHERAL DOCTRINES
1. Macam jubah pastor
2. Macam musik dalam gereja (bolehkah memakai alat musik kontemporer, dll)
3. dan lain-lain
Bersambung ke bag 2
Diposting oleh
Josh
di
01.24
0
komentar
Selasa, Oktober 20, 2009
ALKITAB, IMAN DAN IMAMAT
Bulan Oktober sudah tiba. Di toko-toko mulai dijual kostum‑kostum yang "nyentrik". Tak lama lagi, yaitu pada tanggal 31 Oktober, adalah hari Halloween. Tetapi banyak orang Kristen tidak sadar bahwa pada hari yang sama di tahun 1517, seorang biarawan bernama Martin Luther memaku selembar kertas di pintu
gereja di Wittenberg, Jerman. Isi dari kertas itu menimbulkan perdebatan dan kerusuhan, dari mana kemudian lahir suatu gerakan bersejarah yang disebut Reformasi.
Kita dapat belajar kebenaran Alkitab yang diperjelas oleh pendukung-pendukung Reformasi. Namun ruang yang sempit ini hanya memungkinkan kita untuk meninjau 3 konsep saja, yaitu "sola scriptura", "sola fide", dan keimaman orang percaya.
"Sola scriptura" berarti "hanya Kitab Suci." Konsep ini mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang dapat menjadi dasar dari setiap doktrin yang dipercaya oleh orang Kristen. Tidak ada buku lain, tradisi, ataupun pemikiran siapa pun yang dapat menjadi landasan dari iman kita selain Kitab Suci. Bahkan kita tak dapat mengaku Kristen hanya karena kita merasa sudah diselamatkan atau merasa "dekat dengan Tuhan". Ke-Kristen-an mempunyai dasar di dalam pengenalan (intelek) kita akan Allah yang menyatakan Diri melalui FirmanNya dan reaksi kita terhadap pengenalan ini (percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat). Jadi, iman kita haruslah berdasar pada Alkitab.
Karena Alkitab adalah dasar iman kita, kita harus rajin mempelajari buku ini. Hanya membaca beberapa ayat atau perikop, atau merenungkan Our Daily Bread setiap hari tidaklah cukup. Kita harus rajin menggali kebenaran Kitab Suci sehingga kita mengerti doktrin-doktrin yang benar yang harus kita percayai. Hal ini sangat penting, terutama di masa kini yang penuh dengan "rupa-rupa angin pengajaran" (Ef. 4:14). Ada banyak ajaran sesat, bahkan ajaran-ajaran yang berbau Kristen dan "memakai" Alkitab, namun semua itu membawa manusia jauh dari Allah yang benar. Dengan mengokohkan iman kita berdasarkan ajaran-ajaran Alkitab yang murni, kita dapat bertahan melawan serangan "rupa-rupa angin pengajaran" ini dan menolong teman-teman kita yang sedang tersesat.
Hal kedua yang kita akan pelajari adalah konsep "sola fide", yang berarti "hanya iman". Konsep ini mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya dengan iman dan bukan dengan perbuatan (Rom. 3:28; Ef. 2:8,9). Walaupun kita bekerja keras supaya kita berkenan di hadapan Allah, ataupun kita merasa pasti masuk Surga karena kita selalu berbuat hal-hal yang baik dan terpuji, namun tanpa percaya kepada Yesus Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat, kita tidak akan selamat.
Ketika menerima Tuhan Yesus dengan iman, Dia masuk ke dalam hati kita. Tapi sayangnya, sering kali kita membiarkan Dia hanya sebagai tamu, sedangkan yang menguasai hidup kita adalah diri kita sendiri. Padahal Dia adalah Allah, Raja dari segala raja, yang seharusnya juga menjadi raja atas hidup kita. Akibatnya, hidup kita tidak berbuah. Perbuatan-perbuatan kita tak ada bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen, bahkan ada yang lebih buruk dan menjadi batu sandungan. Kita harus radar akan hal ini, bertobat dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, membiarkan Dia menguasai dan menuntun kita setiap waktu. Dengan demikian, kita akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik dan berkenan pada Allah; bukan perbuatan-perbuatan yang menyelamatkan, tetapi perbuatan-perbuatan yang lahir dari iman kita kepada Yesus.
Hal yang terakhir adalah konsep keimaman orang percaya (I Pet. 2:5,9), yang mengajarkan bahwa setiap orang Kristen adalah seorang imam. Imam dalam Alkitab mempunyai kewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan. Jadi, kita sebagai imam juga berkewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan.
Persembahan yang dibawakan oleh imam-imam dalam Alkitab ditujukan untuk penyucian dosa diri mereka sendiri dan seluruh bangsa Israel. Tetapi kemudian Yesus datang dan mati di kayu salib. Kematian ini adalah korban persembahan yang menyucikan dosa orang Kristen selama-lamanya. Oleh karena itu, kita sebagai imam tidak lagi membawakan persembahan demi penyucian dosa, melainkan sebagai tanda syukur atas keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah sendiri. Alkitab memberikan contoh-contoh persembahan yang praktis. Roma 12:1 mengajak kita untuk "mempersembahkan tubuh" kita kepada Allah. Ini berarti kita harus memakai segala kekuatan, kesehatan dan kemampuan tubuh kita untuk melayani Dia. Kita juga harus menjaga kemurnian pikiran dan hati kita, karena pikiran dan hatilah yang mendorong segala perbuatan tubuh kita (Mat. 15:19). Ibrani 13:15 mengajarkan kita untuk "mempersembahkan korban syukur kepada Allah". Kita patut untuk selalu mengucap syukur, dalam senang dan susah, gembira dan sedih, panas dan dingin. Janganlah kita terlalu mudah mengeluh, tetapi "mengucap syukurlah dalam segala hal" (I Tes. 5:18). Lebih spesifik lagi, ayat ini mengajarkan kita untuk mempersembahkan “ucapan bibir yang memuliakan namaNya". Kita patut memakai kata-kata kita untuk meninggikan nama Tuhan, bukan untuk gosip, atau mencerca orang lain, atau menjatuhkan orang lain. Ibrani 13:16 mengingatkan kita untuk "berbuat baik dan memberikan bantuan", jadi melayani kebutuhan orang lain. Untuk membawa persembahan ini, kita harus rela mengorbankan waktu dan tenaga kita. Kita tidak boleh hanya memikirkan uang, pelajaran, pekerjaan dan kepentingan diri sendiri saja. Kita harus memikirkan keperluan orang lain juga, dan mengulurkan bantuan kepada mereka. Ini semua adalah kewajiban kita sebagai imam.
Empat abad yang lalu, gerakan Reformasi dilahirkan dan kebenaran Alkitab dinyatakan kembali. Sekarang, di abad ke-20, masihkah kita mengikuti ajaran-ajaran Alkitab yang murni? Adakah kita rajin mempelajari Kitab Suci, menjadikan satu-satunya dasar kepercayaan kita? Adakah kita menjadikan Allah raja atas hidup kita, membiarkan Dia memimpin kita setiap saat sehingga hidup kita berbuah? Adakah kita menjalankan kewajiban kita sebagai imam, mempersembahkan seluruh hidup kita dan apa yang kita lakukan sebagai persembahan yang memperkenankan Tuhan dan demi kebaikan orang lain? Marilah kita mengevaluasi diri kita di hadapan Allah dan kembali menjalankan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin.
Catatan: Artikel ini saya tulis ketika masih ada di AS, menjelang satu peringatan hari Reformasi / Halloween
Diposting oleh
Josh
di
13.14
0
komentar
