Rabu, Februari 06, 2008

IMLEK – bag 2

Satu hari sebelum Imlek orang mulai mempersiapkan sembahyang besar. Sesajen lengkap disiapkan, misalnya hio, kue, buah, juga termasuk hewan yang disembelih, kadang-kadang 3 macam yaitu babi, ayam dan ikan bandeng, kadang-kadang sampai 5 macam yaitu ditambah bebek dan kepiting. Meja abu juga disiapkan. Hari sebelum Imlek ini orang mulai sembahyang pada para dewa dan leluhur. Bahkan ada tradisi untuk sembahyang sekitar tengah malam tahun baru Imlek, juga waktu subuh hari pertama Imlek. Selain sembahyang keluarga juga berkumpul untuk makan minum, biasanya dengan macam makanan yang lengkap. Di dalam pesta keluarga ini ada juga yang menyiapkan jatah makanan dan tempat untuk anggota keluarga yang sudah meninggal, supaya seluruh keluarga besar, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati bersama-sama berpesta menyambut tahun baru.

Hari pertama Imlek, orang sembahyang pada para dewa. Ada juga yang hari itu tidak makan daging, dengan harapan mendapat umur panjang dan bahagia hidupnya. Hari kedua, sembahyang sambil memanjatkan doa kepada para dewa dan leluhur. Ada juga yang percaya bahwa hari kedua adalah hari jadi semua anjing, jadi hari itu anjing diperlakukan ekstra baik dan diberi makan yang cukup dan enak-enak. Hari ketiga dan keempat adalah hari untuk para menantu laki-laki untuk mengunjungi dan menghormati mertuanya. Selain itu hari keempat adalah juga hari kembalinya para dewa dari surga ke bumi, maka orang menyambut lagi dengan sesajen dan sebagainya, supaya para dewa senang dan melimpahkan rejeki dan berkah surgawi. Hari kelima sampai kesepuluh adalah waktu untuk saling berkunjung dan sembahyang di kuil memohon hoki dan kekayaan. Hari ketujuh dipercaya sebagai hari jadi manusia, maka orang makan mie sebagai tanda umur panjang dan ikan mentah sebagai tanda sukses. Hari kedelapan dirayakan oleh orang di Fujian dengan kumpul keluarga dan makan-minum, lalu tengah malam dikhususkan untuk sembahyang pada Thien, sang kaisar langit. Hari kesepuluh sampai keduabelas adalah waktu untuk mengundang teman dan keluarga untuk makan malam bersama. Hari ketigabelas, setelah hampir dua minggu terus makan enak, tiba saatnya untuk hanya makan bubur dan sayuran. Hari keempatbelas, orang mempersiapkan pesta lentera atau lampion, yang dilakukan pada hari kelimabelas, hari terakhir perayaan Imlek. Tanggal 15 bulan pertama adalah bulan purnama yang pertama kali dalam tahun baru itu, maka orang-orang merayakannya dengan spesial. Terutama orang-orang Canton dan Tiociu, mereka membuat banyak lampion dengan berbagai bentuk dan ukuran dan warna, ditaruh lilin di dalamnya. Malam harinya semua lampion dipamerkan jadi suasana begitu indah. Ada juga kebiasaan gadis-gadis melempar jeruk ke sungai dan menghanyutkan lentera di atas daun lotus di sungai, dengan harapan bisa mendapatkan calon suami yang baik.

Selain rangkaian perayaan Imlek di atas, ada juga hal-hal lain yang dilakukan orang dalam merayakan Imlek. Rumah harus dibersihkan sebelum hari Imlek. Pada malam sebelum Imlek, semua sapu, sikat, dan sebagainya harus disimpan. Pada hari pertama tahun Imlek orang tidak boleh menyapu atau membersihkan, karena takut sewaktu menyapu rejeki juga ikut tersapu dan terbuang. Mulai hari kedua orang baru boleh menyapu, tetapi sampahnya tidak boleh dibawa keluar, melainkan ditaruh di pojok rumah, dan juga tidak boleh terinjak, supaya rejeki tetap ada di rumah dan tidak hilang. Sampai tanggal lima sampah baru boleh dibuang keluar, dan itupun harus dibawa lewat pintu belakang rumah, tidak boleh lewat pintu depan. Kemudian rumah juga dihias. Selain dengan pita-pita merah, kadang-kadang bertulisan puisi, juga dihias dengan vas bunga mekar, piring berisikan jeruk dan nampan berisikan permen atau manisan buah kering. Dalam penafsiran Tionghoa, bunga berarti kekayaan dan kemajuan karir, mekar berarti kelahiran dan pertumbuhan, buah jeruk berarti kebahagian yang berlimpah. Maka secara etika Tionghoa orang membawa buah jeruk sewaktu berkunjung Imlek, apalagi kalau masih ada daunnya yang menempel, itu pertanda hubungan baik tetap terpelihara. Kemudian nampan permen itu biasanya berbentuk bulat atau segi delapan, dan itu berarti nampan kebersamaan. Orang dewasa yang mengambil permen dari sana biasanya menaruh angpau di tengah nampan. Hutang-hutang juga perlu dilunasi sebelum Imlek, dan orang juga tidak boleh memberi hutang pada orang lain pada hari Imlek, sebab kalau tidak uangnya akan terus dipinjam orang selama setahun itu. Orang juga tidak boleh bicara kata kotor atau yang negatif, tidak boleh bercerita tentang hantu, tidak boleh bilang si, yaitu angka empat yang kedengarannya seperti kata mati, dan tidak boleh bicara soal masa lalu karena nanti bisa kembali ke masa lalu dan tidak bisa maju ke tahun baru. Orang juga tidak boleh menangis di hari Imlek karena kalau tidak ia akan terus menangis setahunan. Maka biasanya anak-anak tidak dihukum walaupun nakal bagaimanapun. Rambut juga tidak boleh dicuci karena kuatir akan melunturkan hoki. Secara umumnya, semua perilaku dan suasana di hari Imlek akan menjadi perilaku dan suasana yang berlaku selama setahun, maka di hari Imlek semua harus sopan, baik, gembira, memakai baju baru dan bagus, sepatu bagus, dan seterusnya, supaya selama satu tahun mereka bisa hidup bahagia.

Jadi bagaimana kita sebagai orang Kristen menanggapi perayaan Imlek? Boleh tidak ikut merayakan Imlek? Boleh saja, asalkan hanya sebagai tradisi dan tidak ikut aktivitas-aktivitas yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Kita boleh saja ikut menyambut tahun baru menurut kalender orang Tionghoa, ikut makan-makan dan bersukacita. Tetapi jangan ikut sembahyang pada para dewa ataupun leluhur, atau melakukan tahyul-tahyul lainnya seperti masalah menyapu, dan sebagainya. Imlek adalah bagian dari budaya Tionghoa, dan kita sebagai keturunan Tionghoa harus juga menghargai budaya yang sudah lebih tua dari budaya barat itu. Tetapi kita sebagai anak Tuhan dan anak terang harus juga menerangi apa-apa yang gelap dalam kebudayaan. Sekarang kalian sudah tahu apa itu Imlek, apa-apa yang bisa diterima dan apa-apa yang tidak bisa diterima karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Dengan itu, sekali lagi kung si fat choi, dan semoga kalian terus bertumbuh di dalam Tuhan di tahun 2551 ini!

Catatan: Tulisan ini merupakan bahan pelajaran untuk Sekolah Minggu GKI Pinangsia Kelas Praremaja, diajarkan pada hari Minggu setelah perayaan Imlek tahun 2000, yaitu pada tanggal 6 Februari 2000.

Tidak ada komentar: