Minggu, Maret 30, 2008

KEBANGKITAN YESUS DAN IMAN KRISTEN - bag 1

Jikalau anda datang kepada saya dan bertanya, "Apa yang membuat anda yakin bahwa iman Kristen itu benar?", maka secara singkat akan saya jawab, "Karena Yesus sudah bangkit dari kematian." Di balik jawaban yang singkat ini adalah pemikiran sebagai berikut: Yesus adalah pencetus iman Kristen; Yesus mati, namun kemudian hidup kembali; manusia biasa tidak akan bangkit dari kematiannya, maka kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Ia bukanlah manusia biasa, melainkan adalah Allah sendiri, sebagaimana yang Ia nyatakan selama hidupNya; sifat Allah (benar, kudus, tidak mungkin menipu, dan lain sebagainya) memastikan bahwa apa yang Ia cetuskan pasti benar; Yesus adalah Allah, maka apa yang Yesus cetuskan pasti benar; Yesus mencetuskan iman Kristen, maka iman Kristen pasti benar.

Jawaban di atas dan logika yang melatarbelakanginya, meskipun nampak sederhana, sebenarnya dibayangi banyak isu yang pelik yang menuntut penyelesaian. Misalnya, supaya jawaban di atas menjadi benar, kita harus terlebih dahulu yakin bahwa Yesus memang seorang tokoh sejarah dan bukan tokoh fiksi atau mitos. Di antara begitu banyak tokoh agama dan kepercayaan yang eksistensinya dibayangi khayalan, bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa Yesus memang manusia darah dan daging yang pernah hidup di tanah Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu? Jikalau Yesus bukan tokoh sejarah, maka kebangkitanNya pun hanya sekedar cerita, dan tidak mungkin mempunyai dampak yang riil dan konsisten dalam realita eksistensi manusia. Tempat dan waktu tidak memungkinkan pembahasan topik ini, maka untuk keperluan artikel ini marilah kita setuju untuk mengakui bahwa Yesus memang seorang tokoh sejarah, seorang Yahudi yang pernah hidup sekitar 2000 tahun yang lalu.

Setelah kita menerima eksistensi Yesus, masih ada isu yang mengganjal mengenai kebangkitan Yesus. Seseorang baru dapat bangkit dari kematian hanya jikalau ia sudah sungguh-sungguh mati. Maka, kita harus memastikan bahwa Yesus memang pernah sungguh mati. Lalu, kita harus memastikan bahwa setelah Yesus mati, Ia kemudian hidup kembali. Hanya setelah memastikan kedua hal ini, yaitu bahwa Yesus memang mati dan bahwa Yesus kemudian sungguh hidup kembali, maka "kebangkitan Yesus" mempunyai makna. Seorang bernama Josh McDowell, ketika suatu waktu ditantang untuk mempertimbangkan keKristenan, menyelidiki dengan seksama kebangkitan Yesus. Usahanya ini membuatnya menjadi seorang Kristen, karena hasil risetnya tidak memungkinkan dia untuk menolak kebenaran akan peristiwa ini. Ia menulis beberapa buku tentang hasil penelitiannya, salah satunya adalah The Resurrection Factor, yang isinya telah turut menguatkan iman saya. Berikut ini saya bagikan dengan anda sebagian isi buku tersebut, berkenaan dengan kedua isu di atas.

Untuk memastikan kematian Yesus, pertimbangkanlah butir-butir observasi berikut ini:

1. Yesus ditangkap di Taman Getsemani pada hari Kamis malam. Dari saat itu sampai waktu penyaliban sekitar jam 9 Jumat pagi, Yesus diperhadapkan kepada enam persidangan, yaitu tiga persidangan Yahudi dan tiga persidangan Romawi. Di dalam persidangan-persidangan tersebut Yesus menghadapi fitnah, ejekan, dan berbagai kekerasan fisik. Terakhir, setelah vonis salib dijatuhkan, Ia juga dicambuk. Cambuk yang dipakai mempunyai tulang-tulang runcing dan bola-bola metal kecil yang dirajut dalam helai-helai kulit, khusus dirancang untuk mencabik dan menghantam punggung si korban sampai hancur. Kemudian Yesus harus memikul palang salibNya sepanjang jalan menuju Golgota, palang mana diperkirakan seberat 55 kilogram. Hasilnya, ketika Yesus berdiri di atas bukit Golgota, Ia adalah sosok yang letih oleh tekanan mental dan dera fisik, dan penuh kesakitan dalam hati dan tubuhNya.
2. Yesus kemudian menjalani sengsara penyaliban. Seseorang yang digantung di kayu salib, dengan tangan yang terus terentang menahan berat badannya, akan segera mengalami kesulitan pernafasan. Jikalau ia bertahan hidup, maka kakinya akan dipatahkan sehingga tidak lagi dapat dipakai untuk membantu menopang tubuhnya. Saat itu dadanya akan benar-benar tertekan dan ia akan mati. Yesus pasti mengalami penderitaan ini, namun Ia mati sebelum kakiNya perlu dipatahkan. Darah dan air yang keluar dari lambung Yesus menunjukkan bahwa Ia sudah mati. Pilatus juga tidak akan menyerahkan jasad Yesus sebelum tentaranya memastikan bahwa Yesus sudah mati, dan tentara Romawi yang ahli berperang sudah tentu tahu membedakan antara hidup dan mati.
3. Tubuh Yesus ditempatkan di dalam kubur yang digali dari bukit batu. Batu yang menutupi pintu kubur diperkirakan seberat 1,5 sampai 2 ton. Jikalau Yesus masih hidup saat dimasukkan ke dalam kubur itu, Ia tentu tidak akan bertahan hidup lama.
4. Seturut adat pemakaman Yahudi, setelah tubuh Yesus diturunkan dari salib dan dibersihkan di dalam kubur, tubuh tersebut akan dibalut dengan kain lenan dan dilumuri ramuan rempah. Balutan lenan tersebut mengikat erat dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan ramuan tersebut akan merekat balutan dengan jasad sehingga balutan tersebut sulit untuk dilepaskan. Berat balutan dan ramuan pada tubuh Yesus diperkirakan sekitar 60 kilogram. Jikalau Yesus masih hidup, Ia tidak akan bertahan hidup lama di dalam balutan tersebut.
5. Kubur Yesus dimeterai dan dijaga oleh pasukan Romawi. Untuk memeterai kubur Yesus, pasukan Romawi perlu terlebih dahulu memastikan bahwa tubuh Yesus memang berada di dalam kubur tersebut. Kemudian batu penutup pintu kubur digulingkan pada tempatnya, dan sebuah tali direntangkan di atas batu tersebut dengan kedua ujungnya dimeterai dengan meterai pemerintah Romawi di atas tanah liat. Barangsiapa merusak meterai tersebut akan berurusan dengan kekuasaan Romawi, dan diancam dengan hukuman mati. Pasukan Romawi, yang ditugaskan menjaga kubur Yesus, adalah satuan perang yang sangat terlatih dan disiplin. Diperkirakan satu unit pasukan Romawi terdiri dari 16 tentara, dengan 4 tentara berjaga sementara yang lainnya beristirahat, dan setiap 4 jam regu yang berjaga bergantian dengan yang tadinya beristirahat. Meterai pemerintah dan penjagaan ketat dari pasukan Romawi memastikan bahwa tubuh Yesus tetap berada di dalam kubur.



Bersambung ke bag 2

Catatan: Saya tidak ingat kapan artikel ini saya tulis.

Tidak ada komentar: