Dengan pengertian yang benar tentang konteks tulisan Paulus dan Yakobus, kita sekarang dapat mempelajari apa maksud Yakobus ketika ia mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus bukannya mengajarkan bahwa iman saja tidak cukup untuk keselamatan, bahwa seseorang harus juga melakukan amal untuk selamat. Yang dia ajarkan adalah bahwa iman yang murni pasti akan nyata dalam bentuk perbuatan yang baik (jikalau waktu dan kesempatan untuk berbuat amal diberikan, tentunya). Dr. Richard Lenski, di dalam uraiannya atas bagian ini, menerangkan bahwa ada 3 macam iman yang sering disebut “iman”, tetapi yang sebenarnya tidak murni, sehingga tidak dapat menghasilkan buah perbuatan. Mereka adalah iman tentang Allah dan keKristenan secara umum (fides generalis), iman yang sekedar tahu dan menerima sejarah ke-Kristen-an (fides historica), dan iman yang sekedar faham akan doktrin ke-Kristen-an, bahkan fasih membicarakannya (fides dogmatica). Ketiga macam iman di atas tidak murni karena mereka hanya tinggal di otak seseorang dan tidak menyerap ke dalam hati. Iman yang murni pertama-tama tinggal di kepala (didengar, direnungkan, dimengerti), lalu harus masuk ke dalam hati (merubah hati, menyadarkan kita, menghasilkan pertobatan), sehingga perbuatan-perbuatan kita berubah sesuai dengan perubahan hati dan karakter kita. Dengan kata lain, iman merubah pengetahuan (knowledge), lalu perasaan/emosi (heart), lalu perbuatan (action). Lenski menulis,”Faith itself cannot be seen; it makes its presence known by a proper confession and by its proper and natural works.”
Iman yang murni kepada Tuhan Yesus adalah iman yang hidup. Martin Luther menulis,”Oh, it is a living, active, energetic, mighty thing, this faith, so that it is impossible that it should not work what is good without intermission.” Iman yang murni selalu akan menghasilkan perbuatan baik. Tidak mungkin seseorang dapat berkata bahwa ia mempunyai iman, sedangkan ia bertindak seperti orang yang tidak beriman (Yak. 2:14-19). Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang yang dapat menyeberang sebuah jurang dengan berjalan di atas kawat, ditonton oleh orang banyak. Sebelum dia naik ke atas kawat, dia bertanya kepada penontonnya apakah mereka percaya dia dapat melakukan penyeberangan ini. Semua orang percaya. Kemudian dia bertanya apakah ada seorang dari penonton yang berani menyeberang bersamanya dengan digendong di atas bahunya. Tidak ada seorang pun yang berani. Cerita ini menyatakan iman yang tidak murni; mereka hanya mengaku bahwa mereka percaya akan kemampuan si penyeberang, tetapi tidak ada perbuatan yang mendukung pernyataan itu. Demikian juga dengan iman Kristen. Hanya mengetahui kebenaran dan mengaku percaya tidak cukup. Iman harus meresap ke dalam hati, sehingga hati kita benar-benar terarah kepada sasaran iman kita, yaitu Kristus sendiri. Iman semacam ini adalah murni dan hidup, dan iman yang hidup mau tidak mau akan nyata di dalam perbuatan.
Dr. Walter Martin menerangkan hubungan antara keselamatan dan pekerjaan baik dengan jelas. Jikalau kita perhatikan, Paulus dan Yakobus memakai Abraham sebagai contoh bahwa manusia dibenarkan oleh iman dan perbuatan. Paulus menulis,”Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” (Rom. 4:2) Yakobus menulis,”Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak. 2:21) Kedua kutipan ini tampak bertentangan; sepertinya Paulus mengatakan bahwa Abraham dibenarkan karena iman tanpa perbuatan, sedangkan Yakobus mengatakan bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatannya. Tetapi, kalau kita perhatikan konteksnya seperti yang telah diuraikan di atas, maka semua kebingungan ini dapat diselesaikan. Dr. Martin menjelaskan bahwa Allah membenarkan Abraham ketika Ia melihat iman Abraham (Kej. 15:6; dikutip juga dalam Rom. 4:3 dan Yak. 2:23). Allah tidak perlu melihat perbuatan Abraham karena Ia menguji hati orang (I Sam. 16:7). Tetapi manusia tidak dapat melihat iman di dalam hati. Jikalau iman Abraham tidak nyata di dalam perbuatannya, maka tidak akan ada seorang pun yang akan dapat berkata dengan pasti bahwa Abraham sungguh-sungguh beriman. Tetapi iman Abraham adalah murni, sehingga ketika Allah menyuruhnya mempersembahkan Ishak, dia menurut dan tetap percaya akan janji Allah (Rom. 4:20-22). Inilah perbuatan imannya, hasil dari iman yang murni. Iman Abraham bukan hanya ada di kepala, tetapi juga meresap ke dalam hatinya, sehingga dia berbuat sesuai dengan imannya. Ketika kita melihat perbuatan ini, kita dapat dengan yakin mengakui bahwa Abraham sungguh mempunyai iman. Dengan kata lain, Abraham dibenarkan di hadapan manusia oleh perbuatannya (Yak. 2:21-22). Jadi, Abraham dibenarkan di hadapan Allah oleh imannya, dan di hadapan manusia oleh perbuatannya. Paulus dan Yakobus tidak berselisih ketika mereka mengajarkan bahwa Abraham dibenarkan oleh iman dan perbuatan.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa pembenaran dan keselamatan datang oleh iman saja. Tetapi iman yang murni akan selalu nyata melalui perbuatan. Seseorang mendapatkan keselamatan seketika ia mempunyai iman kepada Yesus Kristus. Walaupun dia tidak sempat untuk menyatakan buah perbuatan baik setelah dia beriman, dia masih tetap selamat. Buktinya, Yesus menerima penjahat yang disalib di sampingNya setelah penjahat itu memohon Yesus untuk mengingat dirinya, walaupun dia tidak sempat berbuat baik (Luk. 23:39-43). Hal ini bukan berarti kita dapat menyatakan diri beriman, lalu seenaknya berbuat jahat. Bahkan, hal itu tidak mungkin terjadi, sebab iman yang murni akan selalu disertai dengan perbuatan baik. Dan orang lain akan dapat melihat perbuatan itu jikalau kita mempunyai kesempatan untuk menunjukkannya. Jikalau seorang berkata bahwa ia beriman, sedangkan perbuatannya tidak mendukung ucapannya itu, maka dapat dipastikan bahwa imannya adalah iman yang mati, walaupun ia bersikeras bahwa ia mempunyai iman. Iman yang mati sama dengan tidak mempunyai iman sama sekali, dan tidak mempunyai iman berarti tidak ada keselamatan (Yak. 2:14). Memang, perbuatan tidak dibutuhkan untuk mendapatkan keselamatan. Tetapi orang yang sudah diselamatkan oleh iman kepada Yesus akan menghasilkan buah perbuatan baik, karena iman itu hidup dan aktif.
Sebagai penutup, simaklah sekali lagi tulisan dari Martin Luther. “Oh, it is a living, active, energetic, mighty thing, this faith, so that it is impossible that it should not work what is good without intermission. It does not even ask whether good works are to be done, but before one asks it has done them, and is ever doing. But he who does not do such works is a man without faith, is fumbling and looking about him for faith and good works, and knows neither the one nor the other yet chatters and babbles many words about both.”
Referensi
Lenski, Richard C. H. The Interpretation of the Epistle to the Hebrews and the Epistle of James. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1966.
Guthrie, Donald, Alec Motyer, Alan M. Stibbs and Donald J. Wiseman. The New Bible Commentary: Revised. Carmel: Guideposts, 1984.
Catatan: Saya tidak ingat kapan artikel ini saya tulis.
Senin, Januari 19, 2009
KESELAMATAN - IMAN ATAU PERBUATAN ? - Bagian 2
Diposting oleh
Josh
di
23.26
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

5 komentar:
saya yakin anda tidak pernah membaca al-qur'an, kitab suci ummat islam, dan pasti tidak berani karena selama ini gereja mendoktrin anda untuk tidak membacanya. padahal iman yang sebenarnya adalah, iman yang diperoleh dengan jalan merdeka, untuk menemukan kebenaran. betapa banyak orang telah merasa sampai kepada kebenaran sesungguhnya, padahal ia hanya beriman karena dipahsa, dicekoki, didoktrin. ketahuilah, kebenaran itu dapat diraih dengan keberanian untuk membandingkan sesuatu yang kita yakini dengan apa yang diyakini orang lain.
Terima kasih untuk komentar anda. Saya salut anda bisa tahu begitu banyak tentang saya, bahkan dengan yakin dan pasti, padahal kita belum pernah bertemu. Mudah-mudahan anda tidak meyakini iman anda sekarang dengan cara seperti ini. Bagi saya, memang belum pernah membaca keseluruhan Quran, seperti juga belum pernah membaca keseluruhan kitab-kitab agama lainnya, tetapi beruntung berkesempatan membaca buku-buku lainnya yang mengkaji beberapa kepercayaan. Tetapi dasar iman saya bukan disana, melainkan karena saya melihat fakta Yesus yang bangkit dari kematian tidak bisa disangkali. Jadi, saya undang anda untuk menelaah kebangkitan Yesus, bukan saja dari sudut Alkitab, juga bukan hanya dari sudut Quran, tetapi juga dari sudut historis, logika, dsb. Mudah-mudahan di ujung jalan kita bisa meraih kebenaran yang sejati.
waHH.. iNi yaNg saya caRi2 paK.. maKasihHH uTk peNjelasaNNya.. saya sudaH meNgerTi taPi susaH menGuraiKannya.. God Bless yah Pakc
aLqUran 75% beraSal daRi aLkitaB
Peri.scilla, terima kasih untuk komentarnya. Teruslah belajar. GBU.
Posting Komentar