Perhatikanlah dua ayat berikut ini: Deuteronomy 6:4: "Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one." Genesis 2:24: "For this reason a man will leave his father and mother and be united to his wife, and they will become one flesh." Dalam kedua ayat di atas, kata Ibrani yang diterjemahkan ke dalam kata "one" ("satu") adalah sama, yaitu kata "echad." Dari sini kita dapat mengambil suatu pelajaran: Dari sudut lain, bertolak dari Genesis 2:24, kita dapat melihat bahwa dua manusia yang terpisah, pria dan wanita di dalam ikatan pernikahan, sudah menjadi satu. Persatuan dua manusia yang berbeda ini adalah juga sebagaimana persatuan ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun Allah itu esa, namun ketiga Pribadi Allah Tritunggal tetap tiga Pribadi yang berbeda dan terpisah, tidak boleh dicampurbaurkan. Kesimpulan: Catatan: Artikel ini ditulis di Amerika Serikat ketika masih kuliah di CalPoly Pomona, California. Ditulis untuk ditayangkan di FicaNet. Artikel ini tidak bertujuan mengupas tuntas perihal Tritunggal maupun suami-istri, juga bukan untuk memberikan ilustrasi Tritunggal, melainkan hanya untuk menggarisbawahi ke-esa-an yang di dalamnya terdapatkan ke-bhineka-an, yang adalah nuansa makna dari kata Ibrani "echad", yang dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan ke-esa-an Allah dan suami-istri.
Allah kita adalah Allah Tritunggal, yaitu tiga Pribadi yang adalah satu Allah. Walaupun Allah kita esa, namun di dalam keesaan substansi ilahi itu adalah tiga Pribadi yang terpisah dan tidak dapat dicampurbaurkan. Di pihak lain, walaupun ada tiga Pribadi yang terpisah, namun ketiga Pribadi itu bukanlah tiga substansi Allah yang terpisah, melainkan hanya ada satu substansi Allah, sehingga Allah itu esa. Persatuan ketiga Pribadi Allah yang terpisah itu menjadi satu substansi ilahi adalah sebagaimana seharusnya hubungan antara suami dan istri. Si pria dan si wanita adalah dua manusia yang terpisah, bahkan setelah mereka menikah. Namun di dalam pernikahan itu, dua manusia menjadi satu di mata Allah. Persatuan ini tidak berarti suami dan istri menjadi satu manusia, karena mereka masih dua manusia yang berbeda. Namun di dalam perbedaan dan keterpisahan mereka, mereka sudah menjadi satu di dalam pernikahan. Demikianlah hubungan suami istri adalah satu sebagaimana Allah Tritunggal adalah satu adanya.
Keesaan Allah Tritunggal dan persatuan suami istri dalam pernikahan adalah kesatuan yang sama karena kata yang dipakai sama ("echad"). Jadi,
Sabtu, Februari 02, 2008
ECHAD
Diposting oleh
Josh
di
18.42
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Artikelnya bagus Pak, kapan nambah lagi bicara tentang keluarga?
Posting Komentar