Pelajaran
- Ketika hendak belajar dari film seperti Kingdom of Heaven ini, kita dapat berpegang pada 1 Tesalonika 5:21-22, "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan." Marilah kita menguji film ini, mengambil hal-hal yang baik untuk mengembangkan diri dan pelayanan kita, menyadari hal-hal yang tidak baik sehingga kita dapat menghindarinya.
- Salah satu masalah dengan film ini adalah mencampurkan fakta dengan fiksi, sehingga isinya tidak sepenuhnya sesuai dengan sejarah. Tokoh-tokoh seperti Baldwin V dan Baldwin of Ibelin tidak ditampilkan, tokoh Sibylla digambarkan sebagai pro perdamaian dan kekasih Balian tidak sesuai dengan fakta sejarah, adalah beberapa contoh. Ketidakselarasan dengan fakta menjadikan film ini sekedar sebuah tontonan yang bagus tetapi fiktif, bahkan condong menimbulkan kesan yang keliru (misleading) karena ditawarkan sebagai sebuah film sejarah padahal isinya tidak sesuai dengan sejarah. Disini kita dapat melihat pertentangan antara pengolahan dan penyampaian sebuah cerita dengan integritas isi cerita. Pembuat film Kingdom of Heaven mengambil sepenggal catatan sejarah kemudian mengolahnya menjadi sebuah tayangan film yang dinilai menguntungkan untuk dipasarkan, baik secara visual, audio, maupun dalam detil dan pesan yang ditonjolkan. Sayangnya dalam proses ini dikorbankan nilai-nilai sejarahnya. Kita sebagai guru sekolah minggu juga menghadapi situasi yang serupa, kita juga mempunyai kebenaran Firman Tuhan sebagai bahan dasar yang harus diolah dan disampaikan kepada anak-anak secara menarik. Pertanyaannya, bagaimana kita mengolah bahan itu, apakah sampai mengkompromikan detil-detil kebenaran itu sendiri demi menghasilkan sebuah cerita yang menarik?
- Bagian sejarah yang menjadi latar belakang film ini adalah bagian yang cukup rumit. Walaupun inti cerita adalah sesederhana kejatuhan Yerusalem ke tangan Saladin, tetapi ada banyak tokoh yang terlibat, hubungan dan interaksi antar tokoh cukup rumit, terdapat pula nuansa-nuansa religi, politik dan ekonomi, dan seterusnya. Tidak ada seorang pun yang mampu menyajikan seluruh detil dan dinamika sepenggal sejarah ini dalam sebuah film berdurasi 1,5 sampai 2 jam. Mengolah bahan yang sedemikian rumit menjadi tayangan yang dapat dicerna merupakan tantangan bagi pembuat film ini. Demikian juga tantangan bagi kita guru sekolah minggu; kebenaran Firman Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab juga memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, tetapi kita bertanggung jawab untuk mengolahnya menjadi pelajaran yang mudah dicerna anak-anak.
- Salah satu cara yang dipakai oleh pembuat film Kingdom of Heaven untuk "menyederhanakan" sejarah yang rumit ini adalah dengan menekankan tema-tema tertentu, dan mengembangkan cerita film itu di sekitar tema-tema utama itu. Satu contoh adalah tema hidup toleransi dan berdamai antar umat beragama, dalam hal ini Kristen dan Islam. Pertentangan antara pro dan kon perdamaian sangat kental dalam film ini, dan di akhir film tidak mudah mengelak pesan bahwa perdamaian adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Tema lain tampak dari bagaimana film ini mengolah makna dari frase kingdom of heaven (kerajaan surga). Istilah ini memang diperuntukkan bagi Yerusalem, yang bagi orang Kristen mempunyai nilai religi yang kuat (hubungan dengan surga) karena di kota inilah Kristus disalib (film ini juga menggambarkan Balian mengunjungi tempat Kristus disalib untuk mencari pengampunan dan perdamaian pribadi). Tetapi tampaknya Godfrey dan Balian kemudian mengertinya sebagai kingdom of conscience (kerajaan hati nurani), dengan demikian mengubah makna religi menjadi makna humanis. Ditambah dengan pernyataan Balian, setelah ia kembali dari tempat penyaliban Kristus dan tampaknya belum mendapatkan kedamaian yang ia cari, ia mengatakan bahwa ia tidak mendengar suara Tuhan dan sudah kehilangan imannya. Dengan demikian tampaknya judul film Kingdom of Heaven mengusung makna ganda, pertama mengacu pada Yerusalem dan peristiwa sejarah yang dicakup dalam film ini, kedua mengacu pada sepak terjang Balian (termasuk mempertahankan Yerusalem) sebagai panggilan hati nurani. Bagi Balian kingdom of heaven tidak lagi bernilai rohani melainkan bernilai manusiawi, dan melalui penekanan seperti ini penonton Kingdom of Heaven diajak untuk menilai hati nurani sebagai alternatif surga, nilai humaniah sebagai ganti nilai rohaniah. Apa pun tema-tema yang ditekankan dalam film ini dan apakah kita setuju atau tidak setuju, yang kita sebagai guru sekolah minggu dapat teladani adalah cara menyederhanakan bahan yang rumit, yang mengandung banyak unsur yang dapat dikembangkan, yaitu dengan memilih hanya 1 atau beberapa unsur untuk dikedepankan, dan tidak sekaligus mengemukakan semua unsur yang ada. Bayangkan jikalau pembuat film ini mengembangkan semua detil yang ada dalam penggalan sejarah ini, maka film ini akan menjadi terlalu rumit dan panjang untuk dicerna dan dinikmati penonton. Demikian juga jikalau kita mengajarkan seluruh detil kebenaran dari bahan yang kita miliki dalam 1 pelajaran, anak-anak tidak akan mampu mengerti dan menangkap inti pelajaran itu. Guru sekolah minggu harus mampu menyaring bahan yang rumit menjadi beberapa inti penting, dan mengembangkan bahan itu seputar inti-inti penting tersebut.
- Film Kingdom of Heaven menjadi film kolosal yang berkesan karena pengolahan dan persiapan yang serius dan matang oleh para pembuat filmnya. Bagian kostum merancang baju-baju perang persis seperti yang memang dipakai waktu itu, lengkap dengan baju rantai besi, logo salib, dan sebagainya. Senjata-senjata seperti pedang dan tombak dibuat sesuai spesifikasi waktu itu. Semua ini disiapkan untuk jumlah pemain tentara yang sedemikian banyak, termasuk tambahan dari orang dan tentara Moroco yang ikut dilibatkan dalam film ini agar membuat gambaran pasukan yang banyak. Dibangun juga bagian tembok Yerusalem dan kastil sebagai tempat pengambilan gambar. Diadakan riset tentang teknik peperangan yang dilakukan pada masa itu, dan dibuat alat-alat yang sama untuk dipakai dalam pengambilan gambar, sehingga dalam adegan-adegan pertempuran di Yerusalem kita melihat tugu-tugu penyerangan yang dipakai pasukan Saladin ketika menyerang dan menjebol tembok Yerusalem serta panah-panah api yang berhamburan. Sutradara film ini, Ridley Scott, membuat sketsa adegan demi adegan sebagai penuntun sudut pengambilan gambar, sehingga setiap orang yang terlibat dalam pembuatan film ini dapat dengan jelas mengerti gambar seperti apa yang diinginkan oleh sutradara. Pendek kata, tim pembuat film ini mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya untuk mengolah dan mempersiapkan film ini menjadi sebuah tontonan yang berkesan dan menarik bagi para penonton. Langkah dan komitmen seperti ini perlu diteladani oleh kita guru sekolah minggu, yang juga dipanggil untuk mengolah dan mempersiapkan bahan menjadi pelajaran yang berkesan dan menarik bagi anak-anak. Seberapa jauh kita rela mendalami bahan yang ada di tangan kita? Seberapa jauh kita rela menyelidiki berbagai unsur dari bahan itu yang dapat dikembangkan untuk menguatkan cerita kita? Seberapa besar sumber daya yang kita rela sumbangkan untuk mempersiapkan pelajaran kita? Seberapa luas kreatifitas yang kita rela kembangkan untuk pelajaran kita? Seberapa besar komitmen kita untuk menyajikan yang terbaik bagi anak-anak di kelas kita?
Catatan: Artikel ini menyambung artikel "Belajar Dari Film" yang sudah di-posting sebelumnya. Bahan ini dibahas di antara guru-guru sekolah minggu kelas besar di GKI Pinangsia.
4 komentar:
Kebenaran film kingdom of heaven dengan fakta sejarah paling besar hanya 70%. Setelah peperangan hitin yang terjadi diluar Jerusalem dengan hasil akhir terbunuhnya Guy dan sebagian besar pasukan salib di jerusalem, tidak ada lagi peperangan seperti yang digambarkan di film dengan melakukan bombardir dengan batista (ketapel raksasa) terhadap tembok jerusalem. Yang tersisa waktu itu adalah hanya sebagian kecil pasukan salib dan sipil yang tidak bisa berperang. Jadi tidak ada tuh pembangkitan semangat bak semangat 45 yang dilakukan Balian (tokoh utama dalam film yang dibintangi Bloom), lagipula gak masuk akal seorang pandai besi (blacksmith) tiba-tiba menjadi ahli perang hebat hanya dalam beberapa tahun dan miskin pengalaman perang???).
Mereka (pasukan salib) tidak berani melakukan perlawanan sedikit pun, dan pasukan islam tidak melakukan satu pembunuhanpun, bahkan memberikan jaminan keselamatan bagi pasukan salib untuk meninggalkan jerusalem.
Adapun bukti-bukti kehancuran di tembok jerusalem disebabkan oleh pasukan salib sendiri yakni 100 tahun sebelum perang Hitin dan juga pengepungan Jerusalem pada perang salib ke tiga (dipimpin oleh Raja Richard dari Inggris)
makasihh postngan na bagusss
kebetulan q jg tertarik ma nie film
artikel yg bagus, memang kita sebagai guru sekolah minggu mesti pinter memilah inti dari cerita dan tidak meninggalkan fakta yg ada, good
artikel yg bagus, memang kita sebagai guru sekolah minggu mesti pinter memilah inti dari cerita dan tidak meninggalkan fakta yg ada, good
Posting Komentar