Jumat, Juni 04, 2010
MENJAWAB PERTANYAAN - KESELAMATAN DI AGAMA LAIN
Diposting oleh
Josh
di
20.51
0
komentar
Sabtu, April 03, 2010
KEBANGKITAN YESUS DAN IMAN KRISTEN - Bagian 3
Semua keadaan di atas berlaku pada hari Sabtu. Tetapi pada hari Minggu pagi, keadaan berubah sama sekali, sebagai berikut:
1. Meterai Romawi rusak. Siapakah yang berani menantang kekuasaan Romawi, di bawah ancaman hukuman mati?
2. Tubuh Yesus tidak ada di dalam kuburNya. Bahkan musuh-musuh Yesus pun tidak dapat menyangkal fakta ini. Jikalau tubuh itu masih ada di sana, maka ketika murid-murid Yesus mengabarkan kebangkitanNya, musuh-musuh Yesus dapat dengan mudahnya menyangkal kesaksian mereka dengan mengeluarkan tubuh itu. Dengan demikian iman Kristen akan dihancurkan saat itu juga. Namun tidak seorang pun sepanjang sejarah dapat menunjukkan tubuh Yesus. Kubur Yesus tetap kosong sampai sekarang, dan jasad Yesus tetap tidak ditemukan.
3. Batu penutup kubur yang seberat 1,5 sampai 2 ton itu telah tergeser jauh, bukan saja dari pintu kubur, tetapi bahkan dari seluruh bukit batu kubur tersebut. Untuk menggeser batu seberat itu saja sudah sulit, apalagi memindahkannya jauh-jauh. Lagipula, jikalau seseorang ingin mencuri tubuh Yesus, untuk apa ia memindahkan batu penutup jauh-jauh? Pergeseran batu penutup pintu kubur Yesus menunjukkan suatu kuasa di luar manusia yang melakukannya.
4. Pasukan Romawi meninggalkan kubur dan pergi kepada imam-imam kepala Yahudi. Pasukan penjaga itu akan menghentikan segala usaha manusiawi yang mengganggu kubur Yesus. Mustahil jikalau sekelompok orang dapat mendekati kubur Yesus, merusak meterai, memindahkan batu penutup jauh dari kubur, dan membawa pergi tubuh Yesus tanpa sepengetahuan mereka. Tetapi bahwa pasukan tersebut terpaksa meninggalkan tugas menunjukkan bahwa sesuatu di luar kekuasaan mereka telah terjadi pagi itu.
5. Injil Yohanes mencatat bahwa ketika Petrus dan Yohanes pergi ke kubur Yesus, mereka menemukan kain pembalut tubuh Yesus masih ada di dalam kubur, umumnya masih dalam keadaan seperti ketika membalut tubuh itu, namun sekarang sudah kosong. Jikalau ada yang ingin mencuri tubuh Yesus, mungkinkah ia meninggalkan kain kafan itu, bahkan dalam bentuk yang semula?
6. Yesus kemudian menampakkan diri kepada beberapa orang, bahkan suatu ketika kepada lebih dari 500 orang sekaligus. Paulus kemudian mengatakan bahwa banyak dari saksi mata ini masih hidup pada masa pelayanan Paulus, dan siap memberikan kesaksian pada saat itu juga. Yesus bahkan menampakkan diri pada orang¬-orang yang tidak percaya kepadaNya, termasuk Paulus dan Yakobus saudaraNya sendiri. Mereka tidak akan memberikan kesaksian akan kebangkitan Yesus jikalau mereka tidak sungguh-sungguh telah melihat Yesus yang hidup.
Sekarang, marilah kita renungkan hal-hal di atas. Ingatlah pengalaman Yesus setelah Ia ditangkap: enam persidangan sepanjang malam dan pagi, tekanan batin, cambukan yang merusak punggungNya, palang berat di bahuNya, sengsara penyaliban, darah dan air dari lambungNya, kaki yang tidak dipatahkan, verifikasi kematian oleh pasukan Romawi, kubur batu dan batu penutup yang berat, balutan erat dan ramuan yang merekatkannya pada tubuh, meterai dan penjagaan pasukan Romawi; mungkinkah Yesus tetap bertahan hidup dalam keadaan demikian? Saya rasa tidak. Semua ini memastikan bahwa Yesus sungguh telah mati. Lebih mudah dan rasional untuk percaya bahwa Yesus sudah mati daripada mempercayai sebaliknya. Sekarang, ingatlah apa yang terjadi Minggu pagi: meterai rusak, kubur kosong, batu berat berpindah jauh, pasukan Romawi melarikan diri, kain kafan yang kosong, dan para saksi mata Yesus yang hidup setelah kematianNya; penjelasan apa yang anda dapat berikan atas fakta-fakta tersebut? Tidak ada penjelasan lain yang rasional, kecuali bahwa Yesus yang sudah sungguh mati, sekarang sudah bangkit dari kematianNya.
Kebangkitan Yesus adalah fondasi dari iman Kristen. Paulus mengatakan bahwa tanpa peristiwa tersebut maka iman Kristen menjadi sia-sia. Tetapi, walaupun kebangkitan dari kematian merupakan hal yang aneh dan tidak lazim, dan karenanya sulit diterima dan dipercaya oleh kita, mempercayai kebangkitan Yesus bukanlah suatu tindakan yang bodoh dan buta. Fakta-fakta seputar peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus justru menghasilkan kesimpulan bahwa Yesus telah sungguh mati dan bangkit kembali. Oleh sebab itu, kita dapat dan bahkan patut mempercayai bahwa Yesus memang sudah bangkit dari kematian. KebangkitanNya itu membuktikan bahwa Ia adalah Allah, dan kenyataan ini menjamin kebenaran iman Kristen yang diajarkanNya. Oleh sebab Yesus telah bangkit, maka kita boleh yakin bahwa iman Kristen itu benar adanya.
Daftar bacaan berkenaan dengan kebangkitan Yesus:
Geisler, Norman L. The Battle for the Resurrection. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1989.
McDowell, Josh. The Resurrection Factor. San Bernardino: Here's Life Publishers, 1981.
Morison, Frank. Who Moved the Stone? Grand Rapids: Lamplighter Books.
Diposting oleh
Josh
di
03.31
0
komentar
Jumat, April 02, 2010
KEBANGKITAN YESUS DAN IMAN KRISTEN - Bagian 2
Untuk memastikan kematian Yesus, pertimbangkanlah butir-butir observasi berikut ini:
1. Yesus ditangkap di Taman Getsemani pada hari Kamis malam. Dari saat itu sampai waktu penyaliban sekitar jam 9 Jumat pagi, Yesus diperhadapkan kepada enam persidangan, yaitu tiga persidangan Yahudi dan tiga persidangan Romawi. Di dalam persidangan-persidangan tersebut Yesus menghadapi fitnah, ejekan, dan berbagai kekerasan fisik. Terakhir, setelah vonis salib dijatuhkan, Ia juga dicambuk. Cambuk yang dipakai mempunyai tulang-tulang runcing dan bola-bola metal kecil yang dirajut dalam helai-helai kulit, khusus dirancang untuk mencabik dan menghantam punggung si korban sampai hancur. Kemudian Yesus harus memikul palang salibNya sepanjang jalan menuju Golgota, palang mana diperkirakan seberat 55 kilogram. Hasilnya, ketika Yesus berdiri di atas bukit Golgota, Ia adalah sosok yang letih oleh tekanan mental dan dera fisik, dan penuh kesakitan dalam hati dan tubuhNya.
2. Yesus kemudian menjalani sengsara penyaliban. Seseorang yang digantung di kayu salib, dengan tangan yang terus terentang menahan berat badannya, akan segera mengalami kesulitan pernafasan. Jikalau ia bertahan hidup, maka kakinya akan dipatahkan sehingga tidak lagi dapat dipakai untuk membantu menopang tubuhnya. Saat itu dadanya akan benar-benar tertekan dan ia akan mati. Yesus pasti mengalami penderitaan ini, namun Ia mati sebelum kakiNya perlu dipatahkan. Darah dan air yang keluar dari lambung Yesus menunjukkan bahwa Ia sudah mati. Pilatus juga tidak akan menyerahkan jasad Yesus sebelum tentaranya memastikan bahwa Yesus sudah mati, dan tentara Romawi yang ahli berperang sudah tentu tahu membedakan antara hidup dan mati.
3. Tubuh Yesus ditempatkan di dalam kubur yang digali dari bukit batu. Batu yang menutupi pintu kubur diperkirakan seberat 1,5 sampai 2 ton. Jikalau Yesus masih hidup saat dimasukkan ke dalam kubur itu, Ia tentu tidak akan bertahan hidup lama.
4. Seturut adat pemakaman Yahudi, setelah tubuh Yesus diturunkan dari salib dan dibersihkan di dalam kubur, tubuh tersebut akan dibalut dengan kain lenan dan dilumuri ramuan rempah. Balutan lenan tersebut mengikat erat dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan ramuan tersebut akan merekat balutan dengan jasad sehingga balutan tersebut sulit untuk dilepaskan. Berat balutan dan ramuan pada tubuh Yesus diperkirakan sekitar 60 kilogram. Jikalau Yesus masih hidup, Ia tidak akan bertahan hidup lama di dalam balutan tersebut.
5. Kubur Yesus dimeterai dan dijaga oleh pasukan Romawi. Untuk memeterai kubur Yesus, pasukan Romawi perlu terlebih dahulu memastikan bahwa tubuh Yesus memang berada di dalam kubur tersebut. Kemudian batu penutup pintu kubur digulingkan pada tempatnya, dan sebuah tali direntangkan di atas batu tersebut dengan kedua ujungnya dimeterai dengan meterai pemerintah Romawi di atas tanah liat. Barangsiapa merusak meterai tersebut akan berurusan dengan kekuasaan Romawi, dan diancam dengan hukuman mati. Pasukan Romawi, yang ditugaskan menjaga kubur Yesus, adalah satuan perang yang sangat terlatih dan disiplin. Diperkirakan satu unit pasukan Romawi terdiri dari 16 tentara, dengan 4 tentara berjaga sementara yang lainnya beristirahat, dan setiap 4 jam regu yang berjaga bergantian dengan yang tadinya beristirahat. Meterai pemerintah dan penjagaan ketat dari pasukan Romawi memastikan bahwa tubuh Yesus tetap berada di dalam kubur.
Catatan: Bersambung ke bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
03.32
0
komentar
Kamis, April 01, 2010
KEBANGKITAN YESUS DAN IMAN KRISTEN - Bagian 1
Jawaban di atas dan logika yang melatarbelakanginya, meskipun nampak sederhana, sebenarnya dibayangi banyak isu yang pelik yang menuntut penyelesaian. Misalnya, supaya jawaban di atas menjadi benar, kita harus terlebih dahulu yakin bahwa Yesus memang seorang tokoh sejarah dan bukan tokoh fiksi atau mitos. Di antara begitu banyak tokoh agama dan kepercayaan yang eksistensinya dibayangi khayalan, bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa Yesus memang manusia darah dan daging yang pernah hidup di tanah Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu? Jikalau Yesus bukan tokoh sejarah, maka kebangkitanNya pun hanya sekedar cerita, dan tidak mungkin mempunyai dampak yang riil dan konsisten dalam realita eksistensi manusia. Tempat dan waktu tidak memungkinkan pembahasan topik ini, maka untuk keperluan artikel ini marilah kita setuju untuk mengakui bahwa Yesus memang seorang tokoh sejarah, seorang Yahudi yang pernah hidup sekitar 2000 tahun yang lalu.
Setelah kita menerima eksistensi Yesus, masih ada isu yang mengganjal mengenai kebangkitan Yesus. Seseorang baru dapat bangkit dari kematian hanya jikalau is sudah sungguh-sungguh mati. Maka, kita harus memastikan bahwa Yesus memang pernah sungguh mati. Lalu, kita harus memastikan bahwa setelah Yesus mati, Ia kemudian hidup kembali. Hanya setelah memastikan kedua hal ini, yaitu bahwa Yesus memang mati dan bahwa Yesus kemudian sungguh hidup kembali, maka “kebangkitan Yesus” mempunyai makna. Seorang bernama Josh McDowell, ketika suatu waktu ditantang untuk mempertimbangkan ke-Kristen-an, menyelidiki dengan seksama kebangkitan Yesus. Usahanya ini membuatnya menjadi seorang Kristen, karena hasil risetnya tidak memungkinkan dia untuk menolak kebenaran akan peristiwa ini. Ia menulis beberapa buku tentang hasil penelitiannya, salah satunya adalah The Resurrection Factor, yang isinya telah turut menguatkan iman saya. Berikut ini saya bagikan dengan anda sebagian isi buku tersebut, berkenaan dengan kedua isu di atas.
Diposting oleh
Josh
di
12.00
0
komentar
Sabtu, Februari 13, 2010
CALVINISME - Bagian 3
I = IRRESISTABLE GRACE
Poin ini mengajarkan bahwa mereka yang sudah dipilih Allah untuk menerima keselamatan akan pada akhirnya menerima keselamatan itu. Rencana Allah tidak akan gagal, melainkan akan berhasil membawa semua orang pilihan kepada keselamatan. Hal ini tidak berarti mereka yang terpilih tidak akan dapat /pernah berusaha menolak keselamatan itu, melainkan usaha mereka pada akhirnya tidak akan berhasil. Hal ini juga tidak berarti Allah memaksa mereka yang terpilih untuk menerima keselamatan sehingga mereka tidak bertindak dengan kehendak bebas mereka sendiri, melainkan Allah akan mempengaruhi mereka dengan menawarkan karunia yang begitu indahnya sehingga karunia itu tidak mungkin ditolak (irresistable grace) dan mereka ini akan memilih keselamatan yang ditawarkan dengan kehendak bebas mereka (Fil 2:13).
P = PERSEVERANCE OF THE SAINTS
Definisi: “That continuous operation of the Holy Spirit in the believers, by which the work of divine grace that is begun in the heart is continued and brought to completion.”
Jadi:
a) Mereka yang terpilih dan sungguh diselamatkan tidak akan pernah jatuh dari karunia keselamatan itu secara total, yakni kehilangan keselamatannya, walaupun mereke masih dapat tergelincir dalam dosa.
b) Kemampuan bertahan dalam keselamaton (persevere) bukanlah hasil pekerjaan manusia, melainkan karya Allah Roh Kudus.
Landasan Alkitabiah:
a) Yoh 10:27-29 -- tidak ada seorangpun yang dapat merengut orang percaya dari tangan Bapa.
b) Rom 11:29 -- Allah tidak akan menarik keselamatan dari mereka yang sudah Ia karuniai keselamatan.
c) Fil 1:6 -- Allah akan menyelesaikan pekerjaanNya (termasuk keselamatan).
d) II Tes 3:3; II Tim 1:12; 4:18 -- Allah akan menjaga orang percaya dari si jahat dan meneguhkan keselamatan mereka.
e) Rom 8:38,39 -- Tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan orang percaya dari Kristus.
f) Jikalau orang pilihan masih dapat kehilangan keselamatannya (yakni tidak bertahan, atau tidak persevere), berarti rancangan pilihan dan keselamatan Allah dapat gagal, dan ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab.
g) Dosa mereka yang diselamatkan sudah dibayar dengan hidup dan darah Yesus. Harga dan pembayaran yang semahal ini tidak mungkin gagal dan ditarik kembali.
h) Yesus sendiri terus berdoa bagi orang percaya, dan doa Yesus selalu efektif (Yoh 11:42; Ibr 7:25). Doa Tuhan yang efektif ini akan selalu menjaga orang percaya pada keselamatannya.
Referensi:
Berkhof, Louis. Systematic Theology. Grand Rapids: WM.B. Eerdmans Publishing Co., 1988.
Elwell, Walter. Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids: Baker Book House, 1989.
Sproul, R.C. Chosen by God. Wheaton: Tyndale House Publishers, Inc., 1986.
Catatan: Artikel ini pertama kali ditayangkan di milis FICA-NET setelah diadakannya Indonesian Christian Conference (ICC) ke-8.
Diposting oleh
Josh
di
01.03
0
komentar
Kamis, Februari 04, 2010
CALVINISME - Bag 2
L = LIMITED ATONEMENT
Masalah: Apakah kematian Yesus adalah untuk menyediakan keselamatan bagi sejumlah orang saja (mereka yang terpilih), atau
kematian Yesus adalah untuk menyediakan keselamatan bagi semua orang.
Posisi yang pertama dikenal sebagai “limited atonement” atau “particular redemption”, dan posisi yang kedua dikenal sebagai “unlimited atonement” atau “general redemption”.
Berikut ini saya akan menjabarkan argumentasi dari kedua posisi di atas:
Limited Atonement / Particular Redemption:
a) Definisi: Kematian Yesus CUKUP untuk semua orang tetapi EFISIEN hanya bagi mereka yang terpilih.
b) Alkitab mengajarkan bahwa Yesus mati untuk domba-dombaNya (Yoh 10:11,15), gerejaNya (KIS 20:28), orang-orang terpilih (Rom 8:32-35), dan umatNya (Mat 1:21).
c) Rancangan Allah tidak mungkin gagal, termasuk rancanganNya untuk memberikan keselamatan lewat Yesus Kristus. Jikalau kematian Yesus adalah untuk menebus dosa semua orang, maka seharusnya semua orang akan selemat. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa ada orang-orang yang pada akhirnya tidak selamat. Jadi, untuk percaya bahwa kematian Yesus menebus dosa semua orang dan sekaligus percaya bahwa ada orang-orang yang tidak akan selamat berarti rancangan Allah dapat gagal.
d) Jikalau kematian Yesus membayar dosa semua orang, dan ajaran Alkitab bahwa sebagian orang akan tidak selamat adalah benar, maka berarti Allah tidak adil kepada orang-orang yang tidak selamat ini, karena mereka terpaksa membayar sendiri dosa-dosa mereka yang sudah dibayar oleh kematian Yesus (dosa-dosa mereka dibayar 2 kali, yakni oleh Yesus dan oleh mereka sendiri, sedangkan dosa-dosa mereka yang terpillh dibayar hanya 1 kali, yakni oleh Yesus saja). Maka, kematian Yesus tidak mungkin membayar dosa semua orang, melainkan hanya bagi mereka yang terpilih saja.
e) Posisi UNlimited atonement secara logis mengarah ke universalisme, yakni ajaran bahwa semua orang akan pada akhirnya selamat (tidak ada yang dibuang ke neraka), karena toh Yesus sudah membayar dosa semua orang. Tetapi universalisme ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab.
f) Kematian Yesus tidak hanya membuka KESEMPATAN bagi manusia untuk selamat, melainkan benar-benar MENYELAMATKAN, sehingga keselamatan itu pasti. Oleh sebab itu penebusan Yesus mesti terbatasi (limited) karena hanya sejumlah orang yang akan selamat pada akhirnya, yakni akan ada yang tidak selamat (Mat 18:11; Rom 5:10; II Kor 5:21; Gal 1:4; 3:13; Ef 1:7).
g) Keselamatan berdasarkan karunia dan bukan pekerjaan, termasuk pertobatan dan iman. Jikalau Yesus mati untuk semua orang, maka semua orang mestinya mendapatkan pertobatan dan iman juga. Tetapi ini berlawanan dengan ajaran Alkitab bahwa tidak semua orang akan bertobat dan beriman kepada Allah melalui Yesus.
h) Ayat-ayat yang mengatakan bahwa Yesus mati untuk “dunia” berarti dunia dari orang-orang yang terpilih, dunia orang percaya, gereja atau segenap bangsa, bukan seluruh umat manusia. Sedangkan ayat-ayat yang mengajarkan bahwa Yesus mati untuk "semua orang" harus dimengerti sebagai semua golongan orang, bukan seluruh umat manusia.
Unlimited Atonement / General Redemption:
a) Definisi: Yesus mati untuk semua orang; kepada mereka yang percaya, penebusan itu diaplikasikan kepada mereka, tetapi kepada mereka yang tidak percaya, penebusan itu tidak diaplikasikan kepada mereka.
b) Posisi ini adalah posisi yang dipegang dalam sejarah gereja dan oleh berbagai teolog besar, antara lain Luther, Melanchon, Bullinger, dan bahkan Calvin sendiri agaknya memegang posisi ini pada waktu-waktu tertentu.
c) Alkitab mengajarkan bahwa Yesus mati untuk semua orang, dan itu harus dimengerti dalam makna yang normal-nya / literal (Yes 53:6; 1 Yoh 2:2; I Tim 2: 1-6; 4:10; Ibr 2:4).
d) Alkitab mengajarkan bahwa Yesus memikul dosa seluruh dunia dan adalah Juru¬selamat dunia. “Dunia” di sini adalah dunia yang membenci Allah, yang menolak Kristus dan dikuasai Iblis, tetapi tidak pernah berarti gereja atau orang-orang pilihan.
e) Posisi UNlimited atonement tidak mesti mengarah ke universalisme, yakni percaya bahwa Yesus mati untuk semua orang tidak berarti semua orang harus diselamatkan, karena keselamatan menuntut seseorang untuk menerima penebusan Yesus itu juga.
f) Dosa-dosa mereka yang tidak selamat tidak dibayar 2 kali karena mereka telah menolak pembayaran yang Yesus tawarkan melalui kematianNya. Jadi Allah tidak bertindak tidak adil dengan mengharuskan mereka membayar untuk dosa-dosa mereka sendiri di neraka.
g) Memang benar bahwa kematian Yesus hanya efektif untuk domba-dombaNya, umatNya, dan orang-orang terpilih, tetapi ini tidak berarti Yesus memang mati hanya untuk mereka saja.
h) Alkitab mengajarkan bahwa Yesus mati untuk orang-orang berdosa (I Tim, 1:15; Rom 5:6-8). “Orang berdosa” tidak pernah berarti gereja atau orang-orang pilihan, melainkan berarti seluruh umat manusia yang berdosa ini.
i) Allah mengundang semua orang untuk percaya dan menerima keselamatan. Jikalau Allah hanya ingin menyelamatkan sebagian orang berarti undanganNya yang universal itu adalah palsu.
Bersambung ke bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
03.01
0
komentar
Senin, Januari 25, 2010
CALVINISME - Bag 1
Waktu di ICC8 saya dapat kesempatan untuk berdiskusi dengan beberapa orang mengenai Calvinism. Berikut ini saya ingin memberikan sedikit pengertian saya mengenai ajaran-ajaran pokok dari Calvinism. Perlu diterangkan dulu bahwa anda dapat menerima poin-poin Calvin di bawah atau menolak sebagian. Para teolog sendiri sampai sekarang tidak semua setuju dengan semua poin-poin Calvin. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memecahkan / menggolong-golongkan warga fica-net. Semoga informasi berikut ini berguna bagi anda sekalian.
John Calvin adalah seorang tokoh Reformasi di abad ke-16. Dia dijuluki “Systematizer of the Reformation” karena pemikiran yang sistematis atas kepercayaan-kepercayaan Kristen Reformasi (Protestan). Apa yang diajarkannya kadang-kadang dirangkum dengan singkatan TULIP, yang akan dijelaskan di bawah ini.
T = TOTAL DEPRAVITY
Definisi: "The unmeritoriousness of man before God because of the corruption of original sin."
Secara negatif, total depravity TIDAK berarti bahwa:
a) Manusia tidak dapat berbuat baik di hadapan manusia maupun Allah, melainkan bahwa perbuatan baik manusia tidak pernah cukup untuk membeli keselamatan dari Allah.
b) Manusia tidak lagi mempunyai hati nurani yang membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, melainkan hati nurani manusia sudah dicemari dosa sehingga tidak lagi dapat dipercaya sepenuhnya.
c) Manusia melakukan semua dosa atau melakukan suatu dosa semaksimalnya.
Secara positif, total depravity berarti:
a) Total = seluruh aspek kehidupan manusia dicemari dosa.
b) Depravity = tidak ada yang manusia dapat perbuat untuk meraih keselamatan dari Allah.
Landasan Alkitabiah:
Tuhan Yesus mengakui orang-orang baik (Mat 22:10), tetapi menyebut murid-muridNya sendiri sebagai orang-orang yang jahat (Mat 7:11). Pikiran telah dicemari (Rom 1:28; Ef 4:18), juga hati nurani (lbr 9:14), hati menyesatkan (Yer 17:9), dan manusia pada dasarnya berada di bawah murka (Ef 2:3). Depravity ada dalam diri kita dan merupakan akar dari segala kejahatan (Mar 7:20-23). Depravity tertanam dalam sekali dalam diri kita, universal dan total (Rom 3:9-18). Oleh sebab total depravity ini manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri (Yoh 1:13). Jikalau Roh Kudus tidak menerangi hati seseorang, ia akan tetap berada dalam kegelapan (I Kor 2:14).
U = UNCONDITIONAL ELECTION
Definisi: “That eternal act of God whereby He, in His sovereign good pleasure, and on account of no forseen merit in them, chooses a certain number of men to be the recepients of special grace and of eternal salvation.”
Beberapa poin di sini:
a) Allah memilih (elected) sejumlah orang untuk memperoleh keselamatan dan menjadi anak-anakNya (Mat 22:14; Rom 11:5; I Kor 1:27,28; Ef 1:4; I Tes 1:4; I Pet 1:2; II Pet 1:10).
b) Pemilihan (predestinasi) ini didasarkan pada kedaulatan Allah dan kehendakNya yang baik.
c) Pemilihan ini tidak dapat diubah, sehingga keselamatan dari orang-orang yang terpilih adalah pasti.
d) Pemilihan ini adalah kekal, yakni dipilih sejak dari kekekalan (Rom 8:29,30; Ef 1:4,5).
e) Dan pemilihan ini adalah tidak bersyarat (unconditional election). Maksudnya, Allah tidak memilih orang-orang ini berdasarkan sesuatu yang orang-orang ini perbuat; pemilihan Allah hanyalah berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat dan baik saja (Rom 9:11; KIS 13:48; II Tim 1:9; I Pet 1:2).
Bersambung ke bagian 2
Diposting oleh
Josh
di
09.21
0
komentar
Senin, Januari 04, 2010
MENJAWAB PERTANYAAN - UNIVERSAL SALVATION
2. Apakah kasih yang dimiliki Allah tidak mampu untuk menyelamatkan semua orang berdosa?
Seperti pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ini juga mengandung beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan.
Jikalau kita ingin mempertanyakan kualitas kasih dari Allah, yaitu apakah kasihNya itu cukup mampu dan cukup memadai di dalam proyek keselamatan yang Ia lakukan, maka dengan mengingat kesempurnaan Allah termasuk dalam kasihNya (lihat jawaban pertanyaan pertama), kita harus menyimpulkan bahwa kasih Allah pasti cukup mampu untuk menyelamatkan manusia. Kesimpulan ini dapat ditarik dengan logika manusia semata, didukung oleh premis-premis yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Jikalau kita ingin mempertanyakan wawasan atau jangkauan dari kasih Allah yang menyelamatkan itu, yaitu apakah kasih yang menyelamatkan itu sesungguhnya atau seharusnya merangkul semua manusia, maka kita perlu menelusuri butir-butir pemikiran berikut:
a) Semua orang berdosa, sebagaimana disaksikan oleh Alkitab (Rom 3:23).
b) Dosa dapat dimengerti sebagai pelanggaran atas kehendak atau hukum Allah yang sempurna, atau dapat juga dimengerti sebagai pemberontakan manusia dari tangan dan kuasa Allah.
c) Allah sebagai pencipta yang terus bekerja di dalam sejarah ciptaanNya (lihat jawaban pertanyaan sebelumnya) harus menyatakan sikap dan tindakan terhadap fakta dosa dan manusia yang berdosa. Sikap dan tindakan ini tentunya harus sesuai dengan sifat-sifatNya.
d) Salah satu sifat Allah adalah maha-suci. Di dalam kesucianNya Allah tidak dapat mentolerir dosa, yang merupakan sesuatu yang tidak suci, dan tidak dapat pula mentolerir manusia yang sudah tercemar ketidaksucian dosanya.
e) Salah satu lagi sifat Allah adalah maha-adil. Di dalam keadilanNya Allah harus menghukum manusia yang telah melakukan dosa. Oleh sebab semua manusia sudah berdosa, maka semua manusia ada di bawah hukuman Allah.
f) Salah satu lagi sifat Allah adalah maha-kasih. Di dalam kasihNya Allah tidak dapat tinggal diam melihat manusia ciptaanNya dirusak oleh dosa. Oleh sebab itu Ia mengerjakan karya keselamatan bagi manusia dengan mati di kayu salib dan bangkit dari kematian, agar manusia boleh mendapatkan harapan terlepas dari ikatan dan akibat dosa.
g) Di dalam kita mempertimbangkan wawasan dan karya keselamatan yang dikerjakan Allah, kita tidak boleh hanya mempertimbangkan kasihNya saja, kendati pun karya itu sendiri didorong oleh sifat maha-kasih Allah. Kita juga harus mempertimbangkan sifat kesucianNya dan keadilanNya, lalu mencari keseimbangan antara kasih-kesucian-keadilan Allah di dalam menentukan bagaimana Allah memberlakukan karya agungNya itu. Kesucian dan keadilan Allah menuntut agar semua manusia dihukum oleh karena dosa, tetapi kasih Allah mendorongNya untuk juga mengambil langkah menyelamatkan. Jikalau Ia menghukum semua manusia, Ia menyatakan sifat kesucian dan keadilanNya, namun kasihNya tidak mendapatkan ekspresi. Sebaliknya jikalau Ia menyelamatkan semua manusia, Ia tampak maha-kasih, namun kesucian dan keadilanNya tidak mendapatkan ekspresi. Demi kesempurnaanNya, Allah tidak dapat mengambil salah satu dari kedua ekstrim di atas. Allah harus bersikap dan bertindak secara seimbang dalam sifat-sifatNya. Oleh sebab itu, Allah harus menyelamatkan sebagian manusia dan menghukum yang lainnya. PenyelamatanNya menunjukkan kasihNya, sedangkan penghukumanNya menunjukkan kesucian dan keadilanNya. Hanya dengan demikianlah Allah bisa dikatakan bersikap dan bertindak secara sempurna di dalam menghadapi dosa.
Jadi kesimpulannya, apakah kasih Allah sebenarnya cukup dan mampu untuk menyelamatkan semua orang? Jawabnya adalah, mampu, karena toh kasih Allah adalah kasih yang sempurna. Tetapi Allah tidak akan menyelamatkan semua orang, bukan karena kasihNya tidak mencukupi, melainkan karena selain kasih Ia juga suci dan adil. Semua sifat Allah itu harus mendapatkan ekspresi yang memadai bagi Allah untuk menjadi Allah yang sempurna, dan ekspresi dari kesucian dan keadilanNya tidak memungkinkanNya untuk menyelamatkan semua orang tanpa menjalankan penghukuman.
Catatan: Ini merupakan pertanyaan ke-2 dari tanya-jawab pembinaan GSM GKI Pinangsia. Pertanyaan ke-3 menyusul.
Diposting oleh
Josh
di
00.21
0
komentar
Jumat, Desember 25, 2009
MELIHAT KEPADA BAYI YESUS
Lampu-lampu beraneka warna mulai menghiasi pohon-pohon di jalan. Poster mengenai acara-acara Natal mulai nampak. Pohon-pohon Natal, dengan segala ornamen dan lampu kelap-kelip, mulai mengambil tempatnya di rumah-rumah. Toko-toko serba ada mulai menjual barang-barang Natal...kartu, perhiasan pintu, ornamen, dan lain-lain, dan orang mulai belanja untuk hadiah bagi teman dan keluarga. Lagu-lagu Natal mulai berkumandang. Tanggal 25 Desember sudah dekat, dan suasana Natal menaungi segala tempat di mana manusia hidup. Namun, di tengah kemeriahan ini, adakah hati saudara bersuka-cita? Ataukah realitas hidup ini menekan saudara, sehingga senyum saudara hanyalah merupakan topeng yang menutupi air mata dari hati yang terbeban dan terluka?
Natal adalah suatu waktu yang bahagia; paling tidak itu yang kita semua harapkan. Suasana Natal adalah suasana yang menimbulkan sukacita dalam hati dan tawa riang di wajah kita. Tetapi kenyataan hidup ini kadang kala terlalu kejam. Natal atau bukan, kekecewaan, kesedihan, dan pelbagai kesusahan tetap saja menjadi bagian dari kehidupan. Kadang kita tersenyum, tetapi hati kita terluka. Kadang di muka teman-teman kita tertawa dan tampak riang, namun di dalam kita menangis dan merasa kesepian. Tidak heran kalau kita sering mendengar orang berkata bahwa di waktu Natal justru banyak orang yang begitu merasa tersendiri sampai ia mengambil nyawanya sendiri. Natal mungkin adalah waktu yang membahagiakan, tetapi banyak orang yang merayakannya yang merasa jauh dari kebahagiaan itu.
Tetapi, adakah saudara sadari apa arti Natal sebenarnya? Di tengah kesibukan saudara berbelanja, atau berlatih sandiwara, atau yang lainnya, pernahkah saudara berhenti sejenak dan kembali kepada motivasi dari hari besar ini? Dua ribu tahun yang lalu, seorang bayi dilahirkan di sebuah kandang di Betlehem. Malam itu, kegelapan dunia ditembusi oleh cahaya dari Surga, karena bayi yang baru lahir ini bukanlah sembarang bayi. Bayi ini adalah Allah sendiri, yang menjelma sebagai manusia, supaya Dia dapat berjalan di tengah-tengah makhluk ciptaanNya. NamaNya Yesus, Juruselamat dunia. Allah rela meninggalkan segala kemuliaanNya, merendahkan DiriNya sehingga menjadi sama seperti kita, bukan supaya dinobatkan menjadi raja di dunia, tetapi supaya digantung di atas kayu salib, supaya setiap orang yang melihat kepadaNya dan percaya dan menerima karya penebusanNya boleh layak menerima hidup yang kekal bersamaNya. KasihNya yang mulia kepada manusia yang sudah memberontak mendorongNya untuk datang ke dunia dan menawarkan jalan perdamaian, walaupun itu berarti penghinaan, kesengsaraan, dan kematian buat DiriNya. Bayi Yesus telah datang untuk memberikan kepada kita sukacita, damai sejahtera, dan harapan di dalam kehidupan ini. Dia datang untuk memberikan hidup yang kekal, supaya di tengah kemelut hidup ini kita dapat mengusap air mata dan berkata,”Aku hanya musafir yang melintasi padang pasir dunia. Tujuanku adalah Surga, di mana Tuhanku berada. Selama di perantauan ini, aku akan menyalurkan kasih Tuhanku dengan mengajak banyak dari kawan-kawan seperjalananku untuk juga pergi kepada kemuliaan yang baka itu.”
Berhentilah sejenak dari apa pun juga yang saudara sedang kerjakan atau rasakan sekarang. Tengoklah ke dalam hati saudara. Adakah saudara merasa sedih? Adakah hati saudara terluka atau terbeban? Adakah air mata saudara menetes? Adakah saudara merasa kecewa, atau marah, atau bingung, atau putus harapan? Tuhan Yesus berkata,”Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Pada Natal ini, alihkanlah pandangan saudara kepada bayi Yesus di dalam palungan Betlehem itu, bayi yang telah datang untuk memberikan kelegaan kepada saudara. Tanggalkanlah segala beban di depan pintu kandang, masuklah, dan sujudlah menyembah Allah yang penuh kasih. Dua ribu tahun yang lalu Yesus sudah datang untuk saudara dan saya. Jangan lagi simpan segala kesusahan, tetapi serahkanlah semua ke dalam tanganNya. Apapun juga masalah saudara, Dia yang penuh kasih itu akan memberikan kelegaan kepadamu. Amin.
Diposting oleh
Josh
di
04.36
0
komentar
Sabtu, November 28, 2009
MENYANYI DARI HATI
Selama tiga bulan terakhir tahun 1990 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam singspiration team Persekutuan Pemuda kita. Saya sungguh bersyukur atas kesempatan ini. Melayani dengan team ini sungguh telah menjadi berkat bagi saya.
Ada satu hal yang saya ingin bagikan kepada anda sekalian dari pengalaman saya dalam pelayanan ini. Sebagai anggota singspiration team, saya belajar banyak lagu-lagu yang sangat baik syairnya. Namun sering kali, ketika saya menyanyi di muka persekutuan, saya sadar bahwa syair itu sedang mengungkapkan sesuatu yang saya tidak layak katakan. Dan saya yakin jikalau anda perhatikan kata-kata dari lagu yang anda nyanyikan di gereja, mungkin sekali-kali anda akan tertegur oleh apa yang anda nyanyikan.
Sebagai ilustrasi, saya akan memakai lagu yang ditulis oleh Ir. Niko, berjudul "Aku Mengasihi Yesus".
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap hatiku
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap jiwaku
Kurenungkan firmanMu siang dan malam
Kupegang p'rintahMu dan kulakukan
Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku
Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu
Lagu ini sudah beberapa kali dinyanyikan dalam Persekutuan Pemuda. Sungguh suatu lagu dengan syair dan melodi yang indah. Tetapi, saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan kata-kata di atas dan mengintrospeksi diri sendiri, apakah syair itu sungguh-sungguh sudah diaplikasikan dalam hidup kita. Ir. Niko menulis lagu ini sebagai ungkapan hatinya kepada Tuhan. Ketika kita menyanyikannya, lagu ini seharusnya juga menjadi ungkapan hati kita. Tetapi, sungguhkah syair lagu ini merefleksikan diri kita yang sebenarnya?
Paragraf pertama lagu di atas menyatakan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa. Apakah kita sungguh mengasihi Dia dengan segenap hati kita dan jiwa kita? Mengasihi dengan segenap hati dan jiwa berarti mengasihi dengan 100%. Kasih kita hanya diarahkan kepada Tuhan saja; Tuhan yang nomor satu, dan tidak ada yang lainnya yang lebih utama dari Dia. Berarti, kalau pada jam kebaktian hari Minggu ada teman kita yang mengadakan suatu pesta dan mengundang kita, kita harus datang ke gereja walaupun harus menolak undangan itu dan mungkin dicap sombong atau sok rohani oleh teman kita itu. Berarti, kita harus tiap hari baca Alkitab dan berdoa, karena Tuhan yang kita kasihi rindu untuk bersekutu dengan anak-anakNya. Berarti, kita harus rela melayani Tuhan dengan segala yang kita miliki, walaupun itu berarti kita harus buang waktu, tenaga, uang, bensin, atau dipermalukan, menjadi kesal, menjadi kecewa, dan lain sebagainya. Kita harus melayani, dan melayani dengan tekun, dan melayani tanpa bersungut-sungut.
Paragraf kedua dimulai dengan pernyataan bahwa kita merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Apakah kita sungguh merenungkan firmanNya siang dan malam? Hal apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kita sepanjang hari? Sungguhkah itu firman Tuhan, ataukah sekolah kita, pekerjaan kita, mobil kita, uang kita, pacar kita, ataukah kata-kata si A yang menyakitkan hati, sifat si B yang kita tidak sukai, atau yang lainnya? Kalimat kedua dari paragraf kedua menyatakan bahwa kita memegang perintah-perintah Tuhan dan melakukannya. Sungguhkah kita sudah melakukan apa yang Tuhan perintahkan? Tuhan menyuruh kita untuk tidak berkuatir. Apakah kita sungguh tidak lagi berkuatir, melainkan menyerahkan semua kuatir kita kepadaNya? Tuhan menyuruh kita untuk mencari dulu KerajaanNya. Apakah kita sungguh mengutamakan kepentinganNya lebih dari kepentingan-kepentingan pribadi? Yesus menyuruh kita untuk mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri. Sudahkah kita melakukan hal itu? Tuhan perintahkan kita untuk mengabarkan Injil. Adakah kita melakukan hal itu? Dan bagian terakhir syair ini menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Tuhan, dan Tuhan tahu akan hal itu. Apakah sungguh kita hidup untuk menyenangkan Tuhan? Adakah kita bersekolah untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya kelak kita dapat pulang ke Indonesia dan membangun sebuah perusahaan yang besar dan menjadi kaya raya? Adakah kita bekerja untuk menyenangkan hatiNya, atau supaya harta kita bertambah sehingga kita dapat punya pakaian yang lebih banyak dan indah, mobil yang lebih canggih, rumah yang lebih besar dan mewah? Di hadapan Tuhan tidak ada rahasia; Dia tahu tujuan hidup kita yang sebenarnya, sekalipun di dalam nyanyian kita mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hatiNya. Jikalau kita menyanyikan kalimat di atas tetapi hidup kita bukan untuk Tuhan, berarti kita berdusta di hadapan manusia dan Tuhan!
Beberapa kali saya menyanyikan lagu ini di muka persekutuan, dan saya selalu tertegur oleh pertanyaan-pertanyaan di atas. Sementara saya mengucapkan syairnya, saya sadar bahwa saya belum mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan jiwa, tidak merenungkan firmanNya siang dan malam, tidak melakukan perintah-perintahNya, dan hidup saya mempunyai tujuan lain selain menyenangkan hatiNya. Saya sadar bahwa kalau saya menyanyikan lagu ini, berarti saya berbohong. Saya tidak tahu mengenai anda sekalian. Tetapi saya menghimbau supaya ketika anda menyanyi, bukan saja lagu ini tetapi juga lagu-lagu rohani lainnya, jangan hanya menyanyi tanpa memikirkan apa yang tertulis dalam syairnya, melainkan bertanyalah kepada diri sendiri apakah anda dapat meng-amin-i syair itu. Saya tidak mengusulkan bahwa kalau anda belum sungguh menghayati syair suatu lagu, anda tidak boleh menyanyikannya. Tidak! Yang saya maksud adalah, kalau anda menyanyikan suatu lagu rohani yang baik, dan mendapatkan bahwa syair lagu itu belum nyata dalam hidup anda, pakailah syair itu sebagai tantangan untuk merubah hidup anda, sehingga di kemudian hari anda dapat menyanyikannya dan meng-amin-inya juga. Harapan saya adalah supaya untuk semua lagu, kita dapat menyanyi bukan hanya dengan mulut, tetapi juga dari hati.
Catatan: Artikel ini ditulis ketika saya melayani di Persekutuan Pemuda di GKI Lake Avenue, California, USA
Diposting oleh
Josh
di
22.58
0
komentar
Jumat, November 13, 2009
DOKTRIN - Bagian 3
Dalam bagian pertama sudah saya jabarkan empat golongan doktrin Kristen dan implikasinya dalam hal pembedaan denominasi dalam dunia Kristen. Di sana telah disinggung bahwa doktrin-doktrin dasar (essential doctrines) adalah yang paling penting, yang harus dipegang oleh setiap orang yang mau mengaku Kristen sejati. Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas secara singkat kelima doktrin dasar tersebut.
1. ALLAH TRITUNGGAL
Allah Tritunggal berarti Allah yang Alkitab ajarkan dan yang harus dipercaya oleh seorang Kristen adalah Allah yang esa dan sekaligus mempunyai 3 Pribadi. Hanya ada satu Allah secara natur, tetapi Allah yang esa naturnya ini terdiri dari 3 Pribadi yang berbeda dan sama-sama ada, yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Perlu diperhatikan bahwa fakta bahwa Allah itu esa tidak berarti Allah tidak mungkin mempunyai 3 Pribadi, karena kedua kualitas itu (esa dan jamak/3) adalah dalam kategori yang berbeda - esa secara natur tetapi jamak (3) secara kepribadian/oknum. Juga bahwa Allah terdiri dari 3 Pribadi tidak berarti orang Kristen menyembah 3 Allah (politeisme), karena ketiga pribadi itu esa dalam naturNya. Jadi, konsep Allah Tritunggal tidak menimbulkan kontradiksi logis, karena Allah itu "tri" dan "tunggal" sekaligus dalam hal yang berbeda.
Bukti Alkitabiah:
a. Allah itu esa: Ulangan 6:4
b. Pribadi "Bapa" disebut Allah: I Kor 8:6
c. Pribadi "Yesus" disebut Allah: Yoh 1:1, 18
d. Pribadi "Roh Kudus" disebut Allah: KIS 5:3-4
e. Karena Alkitab mengajarkan hanya ada satu Allah, dan sekaligus menyebut 3 Pribadi (Bapa, Yesus, Roh Kudus) sebagai Allah, jadi Alkitab mengajarkan Allah yang esa dengan 3 Pribadi, ie, Allah Tritunggal.
2. YESUS - ALLAH DAN MANUSIA
Yesus memang tokoh sejarah yang hidup sekitar 2000 tahun yang lalu. Tetapi Dia lebih dari sekedar manusia seperti kita, Dia adalah juga Allah sendiri. Yesus tidak lebih rendah dari Allah, walaupun Dia juga mempunyai natur manusia. Yesus juga bukan salah satu Allah, karena hanya ada 1 Allah (esa). Yesus adalah 100% manusia dan juga 100% Allah.
Bukti Alkitabiah:
Yoh 1:1, 18; Yoh 20:28; dll
3. KEBANGKITAN YESUS
Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bangkit:
a. Dengan tubuh jasmaniah/material, yakni tulang dan daging yang dapat dijamah.
b. Dengan tubuhNya sendiri, yakni yang 3 hari sebelumnya disiksa dan digantung di atas kayu salib.
Bukti Alkitabiah:
Lukas 24:37-39; dll.
4. KARYA PENEBUSAN YESUS
Yesus menanggung hukuman dosa ganti kita. Karya Yesus itu sudah sempurna untuk memberikan keselamatan total bagi kita. Karya Yesus efektif untuk mengampuni kita dari SEMUA dosa kita.
Bukti Alkitabiah:
I Yoh 1:7,9; dll.
5. KESELAMATAN
Keselamatan adalah semata-mata karena kasih karunia Allah, jadi pemberian Allah, bukan hasil usaha kita sendiri, sebagaimana baiknya perbuatan kita itu. Kita tidak dapat membeli keselamatan dari Allah dengan perbuatan kita. Keselamatan hanya dapat kita peroleh dari Allah sebagai suatu hadiah.
Bukti Alkitabiah:
Ef 2:8-9; dll.
Sumber: A lecture by Craig Hawkins, “Gospel and the Cults", Simon Greenleaf University, California, USA.
Catatan: Ditulis ketika kuliah di CalPoly Pomona, California, USA
Diposting oleh
Josh
di
23.03
0
komentar
Jumat, November 06, 2009
DOKTRIN - Bagian 2
Keempat golongan doktrin di atas disusun dari yang paling penting ke yang tidak penting. Essential doctrines harus dipegang oleh setiap orang yang mengaku sebagai orang Kristen, karena mereka menyangkut ajaran-ajaran pokok dari Alkitab - mengenai Allah, Juruselamat kita Yesus Kristus dan karya keselamatan bagi kita. Cardinal doctrines adalah doktrin-doktrin yang penting, tetapi seorang dapatlah juga Kristen jikalau tidak menerima beberapa dari doktrin kardinal, misalnya tidak sependapat dengan pandangan yang mainstream. Tertiary (third order) doctrines lebih rendah lagi prioritasnya. Kebanyakan orang Kristen tidak setuju satu dengan yang lain. Bahkan inilah yang banyak membuat denominasi. Sedangkan peripheral doctrines adalah ajaran-ajaran sampingan yang tidak penting.
Seperti yang telah dikatakan di atas, umat Kristen yang sejati harus memegang kelima doktrin dasar (essential doctrines) - ini tidak dapat ditawar. Tetapi untuk doktrin-doktrin lainnya, umat Kristen dapat "setuju untuk tidak setuju" dan tetap adalah Kristen. Pembedaan denominasi yang didasarkan pada doktrin tingkat tiga (tertiary doctrines) tidak menandakan perpecahan dalam dunia ke-Kristen-an, karena semua denominasi ini, walaupun berbeda pendapat dalam doktrin-doktrin ini, tetap bersatu dalam doktrin-doktrin dasar, sehingga semua tetap orang Kristen. Pembedaan denominasi, dll itu lebih merupakan variasi dalam dunia Kristen, bukan perpecahan.
Masalahnya, sering kali orang Kristen tidak menyadari tingkatan prioritas doktrin dan kepercayaan Kristen. Akibatnya, ketika ada orang yang berbeda pandangan dengan kita, lalu kita menyatakan dia salah, kurang sempurna atau bukan Kristen sejati. Mestinya kita lihat dulu, perbedaan dalam doktrin yang mana yang terjadi. Kalau memang berbeda dalam doktrin dasar (misalnya dengan ajaran-ajaran sesat seperti Mormonisme, Saksi Jehovah, dll), maka memanglah mereka yang tidak memegang doktrin dasar adalah sesat. Tetapi jikalau terjadi perbedaan pendapat dalam doktrin-doktrin lainnya, kita tidak boleh menghakimi mereka bahwa mereka jauh dari Allah - mereka tetap saudara kita dalam Kristus.
Bersambung ke bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
23.27
0
komentar
Rabu, November 04, 2009
DOKTRIN - Bagian 1
Melihat perkembangan denominasi dan berbagai golongan Kristen sekarang ini, sering kita (atau orang lain) bertanya, apakah dunia Kristen sudah terpecah-belah? Apalagi kadang-kadang ada golongan yang menyatakan bahwa golongan/denominasi dialah saja yang murni, sedangkan yang lain tidak sempurna atau keliru. Apa sebenarnya yang menyatukan dan memisahkan berbagai denominasi dan golongan ini?
Dari sudut doktrin/ajaran, sebenarnya kita dapat tinjau dari macam doktrin itu. Ada empat macam doktrin, seperti yang akan dijabarkan di bawah ini:
ESSENTIAL DOCTRINES
1. Allah Tritunggal
2. Yesus - Allah dan manusia
3. Kebangkitan Yesus - jasmaniah (material) dan dengan tubuhNya sendiri
4. Penebusan Yesus - total
5. Keselamatan - hanya dengan iman berdasarkan anugerah
CARDINAL DOCTRINES
1. Kelahiran Yesus dari seorang perawan
2. Kitab Suci tidak mengandung kesalahan
3. Berbagai pandangan mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali
4. Konsep mengenai gereja (eklesiologi)
5. Moralitas
6. Doktrin mengenai dosa
7. dan lain-lain
TERTIARY DOCTRINES
1. Jenis organisasi gereja (presbitarian, congregational, dll)
2. Cara baptisan
3. dan lain-lain
PERIPHERAL DOCTRINES
1. Macam jubah pastor
2. Macam musik dalam gereja (bolehkah memakai alat musik kontemporer, dll)
3. dan lain-lain
Bersambung ke bag 2
Diposting oleh
Josh
di
01.24
0
komentar
Selasa, Oktober 20, 2009
ALKITAB, IMAN DAN IMAMAT
Bulan Oktober sudah tiba. Di toko-toko mulai dijual kostum‑kostum yang "nyentrik". Tak lama lagi, yaitu pada tanggal 31 Oktober, adalah hari Halloween. Tetapi banyak orang Kristen tidak sadar bahwa pada hari yang sama di tahun 1517, seorang biarawan bernama Martin Luther memaku selembar kertas di pintu
gereja di Wittenberg, Jerman. Isi dari kertas itu menimbulkan perdebatan dan kerusuhan, dari mana kemudian lahir suatu gerakan bersejarah yang disebut Reformasi.
Kita dapat belajar kebenaran Alkitab yang diperjelas oleh pendukung-pendukung Reformasi. Namun ruang yang sempit ini hanya memungkinkan kita untuk meninjau 3 konsep saja, yaitu "sola scriptura", "sola fide", dan keimaman orang percaya.
"Sola scriptura" berarti "hanya Kitab Suci." Konsep ini mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang dapat menjadi dasar dari setiap doktrin yang dipercaya oleh orang Kristen. Tidak ada buku lain, tradisi, ataupun pemikiran siapa pun yang dapat menjadi landasan dari iman kita selain Kitab Suci. Bahkan kita tak dapat mengaku Kristen hanya karena kita merasa sudah diselamatkan atau merasa "dekat dengan Tuhan". Ke-Kristen-an mempunyai dasar di dalam pengenalan (intelek) kita akan Allah yang menyatakan Diri melalui FirmanNya dan reaksi kita terhadap pengenalan ini (percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat). Jadi, iman kita haruslah berdasar pada Alkitab.
Karena Alkitab adalah dasar iman kita, kita harus rajin mempelajari buku ini. Hanya membaca beberapa ayat atau perikop, atau merenungkan Our Daily Bread setiap hari tidaklah cukup. Kita harus rajin menggali kebenaran Kitab Suci sehingga kita mengerti doktrin-doktrin yang benar yang harus kita percayai. Hal ini sangat penting, terutama di masa kini yang penuh dengan "rupa-rupa angin pengajaran" (Ef. 4:14). Ada banyak ajaran sesat, bahkan ajaran-ajaran yang berbau Kristen dan "memakai" Alkitab, namun semua itu membawa manusia jauh dari Allah yang benar. Dengan mengokohkan iman kita berdasarkan ajaran-ajaran Alkitab yang murni, kita dapat bertahan melawan serangan "rupa-rupa angin pengajaran" ini dan menolong teman-teman kita yang sedang tersesat.
Hal kedua yang kita akan pelajari adalah konsep "sola fide", yang berarti "hanya iman". Konsep ini mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya dengan iman dan bukan dengan perbuatan (Rom. 3:28; Ef. 2:8,9). Walaupun kita bekerja keras supaya kita berkenan di hadapan Allah, ataupun kita merasa pasti masuk Surga karena kita selalu berbuat hal-hal yang baik dan terpuji, namun tanpa percaya kepada Yesus Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat, kita tidak akan selamat.
Ketika menerima Tuhan Yesus dengan iman, Dia masuk ke dalam hati kita. Tapi sayangnya, sering kali kita membiarkan Dia hanya sebagai tamu, sedangkan yang menguasai hidup kita adalah diri kita sendiri. Padahal Dia adalah Allah, Raja dari segala raja, yang seharusnya juga menjadi raja atas hidup kita. Akibatnya, hidup kita tidak berbuah. Perbuatan-perbuatan kita tak ada bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen, bahkan ada yang lebih buruk dan menjadi batu sandungan. Kita harus radar akan hal ini, bertobat dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, membiarkan Dia menguasai dan menuntun kita setiap waktu. Dengan demikian, kita akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik dan berkenan pada Allah; bukan perbuatan-perbuatan yang menyelamatkan, tetapi perbuatan-perbuatan yang lahir dari iman kita kepada Yesus.
Hal yang terakhir adalah konsep keimaman orang percaya (I Pet. 2:5,9), yang mengajarkan bahwa setiap orang Kristen adalah seorang imam. Imam dalam Alkitab mempunyai kewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan. Jadi, kita sebagai imam juga berkewajiban untuk membawakan persembahan kepada Tuhan.
Persembahan yang dibawakan oleh imam-imam dalam Alkitab ditujukan untuk penyucian dosa diri mereka sendiri dan seluruh bangsa Israel. Tetapi kemudian Yesus datang dan mati di kayu salib. Kematian ini adalah korban persembahan yang menyucikan dosa orang Kristen selama-lamanya. Oleh karena itu, kita sebagai imam tidak lagi membawakan persembahan demi penyucian dosa, melainkan sebagai tanda syukur atas keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah sendiri. Alkitab memberikan contoh-contoh persembahan yang praktis. Roma 12:1 mengajak kita untuk "mempersembahkan tubuh" kita kepada Allah. Ini berarti kita harus memakai segala kekuatan, kesehatan dan kemampuan tubuh kita untuk melayani Dia. Kita juga harus menjaga kemurnian pikiran dan hati kita, karena pikiran dan hatilah yang mendorong segala perbuatan tubuh kita (Mat. 15:19). Ibrani 13:15 mengajarkan kita untuk "mempersembahkan korban syukur kepada Allah". Kita patut untuk selalu mengucap syukur, dalam senang dan susah, gembira dan sedih, panas dan dingin. Janganlah kita terlalu mudah mengeluh, tetapi "mengucap syukurlah dalam segala hal" (I Tes. 5:18). Lebih spesifik lagi, ayat ini mengajarkan kita untuk mempersembahkan “ucapan bibir yang memuliakan namaNya". Kita patut memakai kata-kata kita untuk meninggikan nama Tuhan, bukan untuk gosip, atau mencerca orang lain, atau menjatuhkan orang lain. Ibrani 13:16 mengingatkan kita untuk "berbuat baik dan memberikan bantuan", jadi melayani kebutuhan orang lain. Untuk membawa persembahan ini, kita harus rela mengorbankan waktu dan tenaga kita. Kita tidak boleh hanya memikirkan uang, pelajaran, pekerjaan dan kepentingan diri sendiri saja. Kita harus memikirkan keperluan orang lain juga, dan mengulurkan bantuan kepada mereka. Ini semua adalah kewajiban kita sebagai imam.
Empat abad yang lalu, gerakan Reformasi dilahirkan dan kebenaran Alkitab dinyatakan kembali. Sekarang, di abad ke-20, masihkah kita mengikuti ajaran-ajaran Alkitab yang murni? Adakah kita rajin mempelajari Kitab Suci, menjadikan satu-satunya dasar kepercayaan kita? Adakah kita menjadikan Allah raja atas hidup kita, membiarkan Dia memimpin kita setiap saat sehingga hidup kita berbuah? Adakah kita menjalankan kewajiban kita sebagai imam, mempersembahkan seluruh hidup kita dan apa yang kita lakukan sebagai persembahan yang memperkenankan Tuhan dan demi kebaikan orang lain? Marilah kita mengevaluasi diri kita di hadapan Allah dan kembali menjalankan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin.
Catatan: Artikel ini saya tulis ketika masih ada di AS, menjelang satu peringatan hari Reformasi / Halloween
Diposting oleh
Josh
di
13.14
0
komentar
Selasa, Oktober 06, 2009
MENJAWAB PERTANYAAN - PROBLEM OF EVIL - Bagian 3
e) Sekarang kita lanjutkan ke pertanyaan 2). Untuk ini kita sekali lagi meng-afirmasi-kan bahwa Allah tetap peduli dan bekerja dalam dunia ini. Setelah selesai mencipta, Allah turut berperan dalam perjalanan sejarah ciptaanNya. Hal ini sekali lagi merupakan iman yang didasarkan atas kesaksian Alkitab.
f) Jikalau Allah memang masih aktif, mengapa Ia tidak bertindak? Pertanyaan ini berangkat dari asumsi yang keliru, bahwa Allah tidak bertindak terhadap berbagai kejahatan yang ada di dunia. Sesungguhnya Allah sudah dan sedang dan akan bertindak terhadap kejahatan di seluruh dunia. Sebagai contoh, simak kisah air bah Nuh, menara Babel, dan berbagai kisah lain dalam Alkitab tentang penghukuman Allah atas dosa-dosa pribadi maupun sekelompok masyarakat. Kisah-kisah ini menyaksikan bahwa Allah tidak tinggal diam di hadapan kejahatan. Contoh yang lebih kontemporer bisa kita lihat dalam sistem pengadilan di setiap negara, adanya penjara sebagai tempat hukuman bagi pelanggar hukum, praktek ganjaran pada anak-anak sekolah yang nakal, dan lain-lain, semua ini bisa dimengerti sebagai refleksi hukuman Allah atas kejahatan (bandingkan dengan Rom 13:1-3). Jadi sesungguhnya sepanjang sejarah Allah bertindak terhadap kejahatan, namun harus diakui bahwa Allah memang belum bertindak secara tuntas. Maka yang harusnya menjadi pertanyaan bukanlah mengapa Allah yang sempurna tidak bertindak melawan kejahatan, melainkan mengapa selama ini Allah belum juga menindak kejahatan secara tuntas. Yang harusnya dipertanyakan bukan fakta tindakan Allah terhadap kejahatan, melainkan kualitas dari tindakan Allah tersebut.
g) Masalah "tidak tuntasnya tindakan Allah terhadap kejahatan" itu sendiri harus dikaji dari dua sudut. Pembedaan sudut pandang ini timbul dari aspek kejahatan yang ada di pikiran kita ketika kita mempertimbangkan masalah ini. Apa yang kita maksudkan dengan "kejahatan"? Apakah sekedar contoh-contoh seperti pelecehan, perampokan, pembunuhan, aniaya, dan semacamnya? Jikalau ini yang ada di benak kita, maka benarlah bahwa Allah dikatakan belum menindak kejahatan secara tuntas, karena pada kenyataannya segala contoh di atas masih tetap riil dan subur di sekitar kita. Tetapi jikalau kita mempertimbangkan kejahatan dari sumbernya, yaitu dosa manusia, maka sesungguhnya Allah sudah tuntas dalam tindakanNya. Melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya dari antara orang mati, Allah telah sekali untuk selamanya mengalahkan dan menghancurkan dosa. Dosa sudah kehilangan sengat dan kuasanya. Jikalau kita melihat dosa sebagai kejahatan yang ultimate, yaitu sumber dari segala contoh kejahatan yang kita lihat di sekitar kita, atau dengan kata lain segala contoh kejahatan adalah efek dari dosa, maka dari sudut ini harus dikatakan bahwa Allah sudah tuntas dalam tindakanNya terhadap kejahatan.
h) Akhirnya kita sampai pada bagian yang paling membingungkan dari seluruh pertanyaan ini, yaitu kontras antara ke-belum-tuntas-an tindakan Allah terhadap kejahatan dengan sifat mahasempurna dari Allah sendiri. Di sini kita harus kembali pada iman kita atas dasar kesaksian Alkitab sebagaimana telah disebutkan di butir a), bahwa Allah harus dipercaya sebagai Allah yang maha-sempurna. Hal ini tidak boleh ditawar lagi, atas dasar otoritas Firman Allah sendiri. Jadi, belum tuntasnya tindakan Allah bukan berarti Allah sudah mencoba menuntaskannya namun tidak bisa (Allah tidak maha-kuasa), atau Allah kurang mengasihi kita sehingga tidak mau menuntaskan tindakanNya (Allah tidak maha-kasih), atau Allah tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga Ia lalai bertindak (Allah tidak maha-hadir atau tidak peduli). Berangkat dari keyakinan akan sifat kesempurnaan Allah, kita harus melihat bahwa Allah belum menindas kejahatan secara tuntas karena Ia mempunyai alasan-alasanNya sendiri. Kita sebagai manusia tidak boleh berharap dapat mengerti seluruh pertimbangan dan alasan Allah, karena pemikiran dan bijaksana Allah jauh melebihi manusia yang terbatas (Yes 55:8). Jadi pada akhirnya kita harus puas dengan beberapa altematif penjelasan, antara lain:
· Allah belum menindak tuntas kejahatan untuk menunjukkan kepada dunia sepanjang masa akan akibat dan dosa, bahwa bagi manusia dan alam semesta yang ada di luar diriNya hanya ada kesengsaraan dan penderitaan.
· Allah ingin memakai kejahatan yang menimpa seorang anakNya sebagai pelajaran untuk memperteguh imannya maupun untuk merendahkan kesombongannya (Ibr 12:7-11).
· Penundaan Allah menunjukkan kesabaranNya yang maha-panjang atas manusia yang terus lari dariNya dan tidak mau kembali. Ia terus memanggil dan memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali sebelum Ia nanti memutuskan perjalanan sejarah manusia.
· Allah masih menunggu sampai waktu takaran kejahatan manusia penuh, sehingga nyata bahwa penghakiman Allah itu adil dan tidak prematur, bahwa kejahatan manusia sudah cukup matang untuk menerima ganjaran yang tuntas (Rom 2:5-6).
i) Bahwasanya Allah akan suatu hari kelak menindak tuntas kejahatan yang ada, sebagai realisasi dan ketuntasan tindakanNya terhadap sumber kejahatan itu sendiri, yaitu dosa, merupakan pengharapan yang ultimate bagi anak-anak Tuhan di dalam menghadapi segala kejahatan yang ada. Kita tahu Allah mempunyai tujuan di dalam membiarkan kejahatan terjadi pada kita, dan kasih serta kuasaNya akan terus menopang kita di dalam menghadapi segala kejahatan itu. Namun kita juga tahu bahwa kejahatan tidak akan menelan habis kita, karena pada akhirnya Allah akan menindak tuntas segala kejahatan yang ada. Pertanyaan 2) di atas dapat dilihat sebagai pertanyaan yang dilontarkan terlalu pagi (prematur), pertanyaan yang menjadi tidak relevan ketika dikaji dengan mata yang memandang ke depan, memandang lebih jauh dan kemelut yang kita alami masa ini.
Catatan: Artikel ini adalah sebagian dari makalah tanya-jawab yang disusun dalam rangka pembinaan Guru Sekolah Minggu di GKI Pinangsia, Jakarta. Pertanyaan nomor 2 dan 3 akan menyusul ditayangkan di kemudian hari.
Diposting oleh
Josh
di
23.25
0
komentar
Minggu, Oktober 04, 2009
MENJAWAB PERTANYAAN - PROBLEM OF EVIL - Bagian 2
Sebagai jawaban, mari kita menelusuri butir-butir berikut.
a) Allah memang maha-sempurna, yang di dalamnya termasuk maha-kuasa, maha-kasih, dan sifat-sifat lainnya yang "positif” dengan kualitas "maha". Ini merupakan iman kita sebagai orang Kristen, iman mana didasarkan pada kesaksian Alkitab.
b) Kejahatan itu ada dan riil dalam kehidupan di dunia ini. Ini suatu fakta yang bisa dibuktikan secara empiris. Cukup dengan membaca koran, mendengar berita, dan lain usaha serta melihat pengalaman hidup sendiri dan orang-orang di sekitar kita, kita dapat melihat fakta adanya kejahatan yang riil dan bukan ilusi.
c) Kejahatan bukanlah suatu benda atau makhluk, melainkan kejahatan harus dimengerti sebagai suatu sifat atau kualitas, yaitu kualitas "kurang dari sempurna." Segala yang kurang dari sempurna bisa kita katakan mempunyai sifat "jahat"; misalkan, bayi yang lahir cacat, kurang dari kesempurnaan seorang bayi normal, bisa dikatakan kejahatan; pemerkosaan, yaitu kurang kesempurnaan moral, termasuk kejahatan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa kejahatan bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan suatu kategori kualitas dari hal-hal yang diciptakan. Jadi, Allah tidak dapat dituduh sebagai pencipta kejahatan, atau sengaja menciptakan ketidaksempurnaan. Ini menjawab sebagian dari pertanyaan 1).
d) Bagian dari kesempurnaan karya cipta Allah adalah kehendak bebas yang sempurna yang diberikan dalam diri manusia, makhluk ciptaanNya yang terakhir dan paling tinggi. Kehendak bebas yang sempurna memungkinkan manusia secara bebas memilih di antara beberapa altematif. Tetapi justru dengan adanya kehendak bebas ini juga memungkinkan manusia untuk memilih yang kurang sempurna, yang tidak seharusnya dipilih. Tindakan inilah yang tergolong kejahatan. Jadi, kehendak bebas yang diciptakan Allah itu sempurna, tetapi kesempurnaan ini membuka peluang untuk memilih hal yang tidak sempurna, tindakan mana adalah ketidaksempurnaan, yaitu kejahatan itu sendiri. Pada waktu manusia pertama Adam dan Hawa memilih untuk makan buah pengetahuan baik dan jahat (pilihan yang tidak sempurna), dan dengan demikian memilih untuk melanggar pesan Allah (pilihan yang sempurna), maka pada saat itulah lahir kejahatan, bukan oleh ciptaan Allah, melainkan oleh pemakaian kehendak bebas yang sempurna yang dikaruniakan Allah bagi manusia. Dengan demikian kita sudah dapat menjawab pertanyaan 1) dengan tuntas. Allah tidak menciptakan kejahatan, dan Allah tidak menciptakan sesuatu yang pada mulanya mengandung kejahatan. Yang Allah ciptakan semuanya sempurna, termasuk kehendak bebas yang diberikan kepada manusia. Kejahatan timbul karena penyalahgunaan kehendak bebas yang asalnya sempurna itu.
Bersambung ke bag 3
Diposting oleh
Josh
di
02.26
0
komentar
Selasa, September 29, 2009
MENJAWAB PERTANYAAN - PROBLEM OF EVIL - Bagian 1
1. Jika Allah maha-hadir, maha-kuasa, maha-kasih, mengapa ada penganiayaan, penderitaan, kesusahan, pelecehan?
Pertanyaan ini secara klasik dikenal sebagai, dalam istilah Inggris, problem of evil, yaitu suatu problema yang mengkontraskan keberadaan dan sifat-sifat Allah yang maha-sempurna dengan kenyataan adanya evil atau kejahatan di dunia. Untuk seterusnya kata evil akan diterjemahkan menjadi "kejahatan", walau harus disadari bahwa pengertian evil dalam bahasa Inggris sesungguhnya lebih luas dari pengertian "kejahatan" dalam bahasa Indonesia.
Selanjutnya, pertanyaan ini juga menimbulkan banyak pertanyaan dan pemikiran sampingan, antara lain:
a. Karena kejahatan itu ada, sedangkan Allah yang sempurna tampaknya tidak dapat menyatu dengan fakta ini, maka dapat disimpulkan bahwa Allah tidak ada (mempertanyakan eksistensi Allah).
b. Jikalau kejahatan itu ada dan Allah juga ada, maka dapat disimpulkan bahwa Allah tidak maha-sempurna (mempertanyakan sifat dan reputasi Allah)
c. Jikalau kejahatan itu ada dan Allah ada dan Allah maha-sempurna, maka dapat disimpulkan Allah bukanlah pencipta (mempertanyakan karya pekerjaan Allah)
d. Jikalau kejahatan itu ada dan Allah mencipta segala sesuatu pada awalnya dengan sempurna, maka dapat disimpulkan bahwa setelah mencipta Allah lepas tangan dan tidak lagi ambil bagian dalam perjalanan sejarah ciptaanNya (mempertanyakan kepedulian Allah)
e. Jikalau Allah ada dan kesempurnaanNya kontra dengan kejahatan, maka dapat disimpulkan bahwa kejahatan yang kita lihat sesungguhnya tidak riil (mempertanyakan kenyataan kejahatan; kejahatan sebagai ilusi)
Isu-isu seperti di atas menambah kompleksitas pertanyaan yang telah diajukan, menunjukkan bahwa jawaban yang tuntas tidak dapat dengan mudah dan singkatnya disampaikan. Namun saat ini marilah kita memusatkan perhatian pada dua pertanyaan berikut di dalam upaya mengerti dan menjawab pertanyaan inti di atas. Kedua pertanyaan berikut saya rasa merupakan pemikiran yang paling sering timbul dari problema yang sedang kita bicarakan.
1) Jikalau Allah memang maha-sempurna dan Ia menciptakan alam semesta, mengapa dari yang Ia ciptakan terdapat kejahatan, yaitu ketidak-sempurnaan? Bukankah Allah yang sempurna seharusnya menciptakan segala sesuatu-nya dengan sempurna?
2) Jikalau Allah memang maha-kasih dan tetap bekerja di dunia sampai saat ini, dan Allah memang maha-kuasa sehingga dapat melakukan apa saja, mengapa Ia tidak bertindak terhadap kejahatan yang merajalela?
Bersambung ke bag 2
Diposting oleh
Josh
di
23.25
0
komentar
Senin, September 21, 2009
COMMITMENT - Kepada Pelayanan / Body of Christ
Tujuan:
1. Untuk mengembangkan gereja: Gereja yang sehat adalah gereja yang jemaatnya giat melayani (berkomitmen dalam pelayanan). Jadi, salah satu tujuan komitmen dalam pelayanan adalah untuk mengembangkan gereja semaksimal mungkin.
2. Untuk memperlancar pelayanan: Komitmen kepada pelayanan membuat pelayanan itu berjalan dengan lancar, sebab dengan komitmen segala tugas dan tanggung jawab yang sudah dibagikan pasti ada yang melakukan. Komitmen juga membuat rekan kerja dapat bekerja dengan lebih efektif.
Hal-hal yang perlu komitmen:
1. Mencari tahu karunia kita dan mengembangkannya: Kita perlu berkomitmen di dalam menggali karunia rohani kita, lalu mengembangkannya dengan memakainya di dalam pelayanan. Ini perlu sebab kita bisa efektif kalau kita memakai karunia kita. Proses ini bukan proses satu kali saja tetapi berkala, sebab dengan memakai karunia kita, Tuhan juga dapat menambahkan karunia lainnya kepada kita untuk kita temukan dan pakai.
2. Lebih menyerupai Kristus: Kita perlu berkomitmen untuk bertumbuh agar lebih menyerupai Tuhan Yesus. Ini berarti komitmen/disiplin diri untuk mengubah sifat jelek, keinginan lama/daging, dll. Juga berarti komitmen untuk lebih mengenal Allah, baca/renungkan/hafal Alkitab, berdoa, dll. Dengan komitmen ini, kita bisa berubah dan mampu melayani dengan lebih efektif lagi.
3. Menyisihkan waktu untuk melayani: Perlu kerelaan untuk memberikan waktu untuk melayani. Misalnya, tiap Sabtu dan Minggu adalah untuk pelayanan di gereja dan persiapannya, Selasa sore untuk visitasi, dll. Ini akan mendorong kita untuk selalu melayani dengan setia, sehingga pelayanan gereja dapat berjalan dengan lancar.
4. Melayani dengan sungguh: Perlu berkomitmen untuk sungguh-sungguh melayani, bukan asal sibuk saja. Ini berarti turut berpikir, bekerja, dan memberikan kritik membangun, bukan asal kritik. Juga berarti memberikan prioritas yang cukup tinggi di dalam kegiatan ini dan pencapaian dari tujuan/misi/visinya. Dengan demikian pelayanan dapat mencapai hasil yang maksimal.
5. Bekerja sama/melayani rekan kerja: Perlu kerelaan untuk bekerja sama dengan rekan kerja dan menolong rekan yang kesulitan. Ini berarti kita tidak cuma pikirkan tugas sendiri tanpa memperhatikan kesulitan orang lain, walaupun tugas kita sendiri punya prioritas lebih tinggi. Kalau ada rekan yang sedang butuh bantuan, kita perlu juga membantu. Tapi jangan sampai rekan itu (atau akhirnya kita juga) take for granted akan kerelaan membantu ini. Ini juga berarti komitmen untuk setia dan mengikuti pemimpin pelayanan kita; tapi ini bukan berarti kita buta terhadap kesalahan pemimpin kita, melainkan kita juga harus turut membangun pemimpin itu. Dengan komitmen ini, kita dapat menciptakan environment pelayanan yang baik/harmonis sehingga pelayanan dapat dilakukan dengan efektif.
Catatan: Tulisan ini saya tulis ketika melayani di GKI Lake Avenue, Pasadena, USA
Diposting oleh
Josh
di
23.30
0
komentar
Jumat, Juli 31, 2009
KEBANGKITAN YESUS KRISTUS (Pandangan bidat dan Kristen) - Bag 3
Catatan
1. Fakta bahwa Yesus dibangkitkan dengan tubuh jasmani adalah penting, antara lain karena :
a) Maut merusak rohani dan jasmani manusia. Maka, untuk mengalahkan maut dengan tuntas, Yesus harus bangkit dari kematian secara jasmani juga. Tanpa kebangkitan jasmani, maut tidak kalah secara total.
b) Yesus bukan saja Allah, tetapi Ia juga adalah manusia. Tanpa kebangkitan tubuh, maka Yesus yang sekarang hidup bukan lagi manusia yang murni, sebab tubuh adalah bagian dari manusia yang utuh.
c) Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada murid-muridNya dan menyatakan bahwa Ia mempunyai tubuh jasmaniah (Luk. 24:39, Yoh. 20:27). Jikalau tubuhNya tidak sungguh bangkit, maka Yesus adalah pembohong.
2. Anda yang tidak begitu berkecimpung di dalam hal bidat mungkin tidak mengenal bidat-bidat di atas dari nama mereka. Berikut ini adalah beberapa hal (nama, publikasi, dan lain-lain) yang mengidentifikasikan mereka :
Jehovah's Witnesses: Majalah Watchtower; majalah Awake!
Christian Science: Mary Baker Eddy; majalah Science and Health; logo sebuah salib yang dimahkotai; the Church of Christ, Scientist.
The Unity School of Christianity: Charles dan Myrtle Fillmore; nama singkatnya: Unity.
The World Wide Church of God: Herbert W. Armstrong; dikenal juga sebagai Armstrongism; majalah Plain Truth; acara televisi The World Tomorrow.
Unification Church: Rev. Sun Myung Moon; buku Divine Principle.
Bibliography
Stewart, Don. 101 Questions People Ask Most About Jesus. Illinois: Tyndale House Publishers, 1987.
Brooks, Keith L. The Spirit of Truth and The Spirit of Error. Chicago: Moody Press, 1985.
Martin, Walter. The Kingdom of the Cults. Minnesota: Bethany House Publishers, 1985.
Larson, Bob. Larson's Book of Cults. Illinois: Tyndale House Publishers, 1986.
Geisler, Norman L. "I Believe...In The Resurrection of the Flesh." Christian Research Journal Summer 1989: 20-22.
Catatan: Artikel ditulis ketika sedang studi di Amerika Serikat.
Diposting oleh
Josh
di
19.35
0
komentar
Jumat, Juli 24, 2009
KEBANGKITAN YESUS KRISTUS (Pandangan bidat dan Kristen) - Bag 2
Pandangan Alkitab
Walaupun banyak ajaran-ajaran lain mengenai topik ini, kita harus kembali kepada Firman Tuhan yang “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (II Tim. 3:16)
Alkitab mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh mati setelah penyalibanNya. Setelah tiga hari jasadnya berada di dalam kubur, Ia bangkit kembali dengan tubuh jasmani yang sama seperti yang Ia miliki ketika Ia disalibkan. Perbedaannya hanyalah bahwa tubuh yang sekarang adalah tubuh rohaniah / tubuh sorgawi (I Kor. 15:40,44). Dengan kata lain, Kristus tidak dibangkitkan sebagai makhluk roh, tetapi sebagai makhluk jasmani. Ayat-ayat Alkitab berikut menyatakan ajaran ini.
Yoh. 19:33: “...mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati...” Prajurit Romawi sudah biasa dengan kekerasan. Mereka pasti dapat menentukan apakah seseorang sudah mati atau belum dengan tepat.
Yoh. 19:34: “...menikam lambungNya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Darah dan air akan keluar jikalau jantung tidak lagi berdetak.
Mat. 27:58-59: “Ia...meminta mayat Yesus...mengambil mayat itu...” Yusuf Arimatea mengambil mayat Yesus; dia pasti tahu jikalau Yesus belum menjadi mayat (belum mati).
Roma 5:6: “...Kristus telah mati untuk kita...”
Filipi 2:8: “...Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Yoh. 2:19-21: “...Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali...yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah tubuhNya sendiri.” Yesus menyatakan sendiri bahwa Ia akan membangkitkan tubuhNya dari kematian.
Luk. 24:39: “...rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu.” Yesus mempunyai daging dan tulang, jadi bukan makhluk roh.
Yoh. 20:27: Yesus menyuruh Tomas untuk menjamah tubuhNya yang penuh tanda siksaan dan penyaliban. Jikalau itu bukan tubuhNya, melainkan suatu tubuh lain yang dipakai Yesus hanya untuk menampakkan diri, mengapa ia harus memilih tubuh yang penuh cacat akibat cambukan dan penyaliban?
II Kor. 5:8 : “...terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” Paulus mengajarkan bahwa kematian berarti meninggalkan tubuh dan pergi kepada Tuhan. Jadi, tidak ada proses reinkarnasi.
Ibrani 9:27: “...manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi...” Alkitab menolak konsep reinkarnasi.
Ayat-ayat di atas dengan jelas mengajarkan mengenai kematian dan kebangkitan Yesus. Berlawanan dengan ajaran-ajaran sesat, Alkitab menyatakan bahwa Yesus sungguh mati bagi penebusan dosa kita, dan kemudian dibangkitkan sebagai pemenang atas maut. Yesus Kristus hidup!
Bersambung ke bagian 3
Diposting oleh
Josh
di
23.19
0
komentar
