Sabtu, Januari 26, 2008

ALKITAB – bag 1


Pernahkah anda bertanya,"Dapatkah kita mempercayai Alkitab? Apakah isi setiap buku di dalam Alkitab yang kita miliki sekarang serupa dengan yang aslinya? Tidakkah Alkitab hanya berisikan dongeng dan bukan Firman Allah? Dan andaikata Alkitab adalah Firman Allah, apakah buku ini mencakup seluruh pesan yang Allah ingin sampaikan kepada umat manusia?" Artikel ini akan menjawab secara singkat pertanyaan-pertanyaan di atas.


Sekilas Mengenai Alkitab


Alkitab adalah nama yang diberikan kepada sekelompok buku, 66 jumlahnya, yang diterima oleh umat Kristen sebagai Kitab Suci. Alkitab dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Perjanjian Lama (PL), yang terdiri dari 39 buku, dan Perjanjian Baru (PB), yang terdiri dari 27 buku. Semua buku ini ditulis dalam periode sekitar 1500 tahun. Buku-buku PL yang tertua (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) ditulis sekitar tahun 1400 BC (Sebelum Masehi), dan buku-buku PB yang termuda (Injil Yohanes, I/II/III Yohanes, Wahyu) ditulis sekitar tahun 90 AD (Sesudah Masehi).


Keenam-puluh-enam buku Alkitab ditulis oleh 40 orang. Mereka mempunyai karir yang berbeda-beda (raja, gembala, dokter, guru, pemungut cukai, dll). Buku-buku ini juga ditulis di pelbagai macam tempat (penjara, istana, dalam perjalanan, dll), pelbagai macam waktu (saat perang, saat damai), pelbagai macam emosi (senang dan susah), tiga benua (Asia, Afrika, Eropa), tiga bahasa (Ibrani, Aramik, Yunani), dan mendiskusikan bermacam-macam topik. Namun, walaupun Alkitab mengandung begitu banyak perbedaan, kitab ini mempunyai satu saja pesan pokok, yaitu rencana keselamatan bagi manusia di dalam Yesus Kristus. Buku-buku PL menubuatkan dan menggambarkan diri dan pekerjaan Yesus, sedangkan buku-buku PB mengisahkan penggenapan dari nubuat PL dan menerangkan ajaran-ajaran Yesus.


Buku-buku Alkitab pada mulanya dituliskan atas bahan-bahan kuno seperti papirus, perkamen, loh tanah liat atau lilin, dll. Papirus terbuat dari daun lontar, yang tumbuh dalam danau-danau dangkal di Mesir dan Siria. Bahan ini mudah sekali hancur, dan hanya dapat bertahan di daerah-daerah yang kering seperti di gurun pasir Mesir atau di dalam gua-gua. Perkamen terbuat dari kulit domba atau kambing, dan lebih tahan lama daripada papirus. Sebagai alat menulis, orang memakai alat pahat (untuk menulis di atas batu), pena dari metal (untuk loh tanah liat atau lilin), atau pena dan tinta (untuk papirus, perkamen, dll). Buku-buku yang asli ada dalam bentuk gulungan, yaitu lembaran-lembaran papirus disambung menjadi satu lembaran yang panjang, lalu digulungkan pada sebatang kayu, atau bentuk buku (codex).


Di dalam dua bagian yang akan datang, kita akan melihat bagaimana naskah-naskah PL dan PB diturunkan dari aslinya kepada kita.


Penurunan Buku-buku Perjanjian Lama


Perjanjian Lama yang kita kenal sekarang terdiri dari 39 buku. Tetapi bagi orang Yahudi hanya ada 24 buku, yang diterima sebagai Kitab Suci Yahudi. Alkitab kita mempunyai lebih banyak buku karena kita menjadikan beberapa buku yang aslinya hanya 1 jilid menjadi beberapa jilid. Misalnya, kitab Samuel kita jadikan I dan II Samuel, buku Ezra dan Nehemiah kita pisahkan walaupun aslinya tergabung dalam 1 jilid, dan seterusnya. Susunan buku-buku di dalam Kitab Suci Yahudi juga berbeda dengan susunan PL yang kita kenal sekarang, walaupun isi setiap buku sama.


Perjanjian Lama dapat dibagi menjadi 3 bagian: Hukum Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), Tulisan Nabi-nabi (Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan ke-12 buku terakhir PL yang kita kenal sekarang), dan tulisan-tulisan yang lain (buku-buku PL lainnya). Semua buku PL ditulis antara sekitar tahun 1400 BC sampai dengan tahun 400 BC.


Orang-orang Yahudi sangat menghargai Kitab Suci mereka. Flavius Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi, menulis bahwa sejak kecil mereka sudah dididik untuk sangat menghargai Kitab Suci, menurutinya, bahkan bersedia untuk mati demi kitab ini. Sikap ini mendorong orang-orang Yahudi untuk berhati-hati di dalam membuat salinan Kitab Suci, suatu sikap yang menjamin bahwa salinan yang kita warisi sekarang adalah serupa dengan aslinya.


Kitab Suci Yahudi disalin dari waktu ke waktu oleh sekelompok ahli menulis (scribe) Yahudi. Hal ini perlu dilakukan mengingat kondisi papirus yang tidak tahan lama. Ada 2 macam ahli menulis, yang beroperasi dalam periode yang tertentu, yaitu:


1. Kelompok Soferim


Kelompok Soferim adalah suatu kelompok ahli menulis Yahudi. Mereka beroperasi dari tahun 400 BC sampai sekitar 500 AD. Mereka sangat teliti di dalam menyalin naskah Kitab Suci. Mereka menghitung banyaknya huruf di dalam setiap naskah, dan jumlah kata di dalam setiap bab / bagian, lalu membandingkan jumlah-jumlah tersebut dengan jumlah-jumlah di dalam salinan yang mereka buat. Dengan demikian, sangat kecil kemungkinan terjadinya kesalahan di dalam proses penyalinan ini.


Di samping itu, mereka juga diwajibkan untuk mengikuti aturan-aturan yang ketat di dalam menjalankan tugas dan menjaga kesucian mereka. Misalnya, mereka harus menghitung jarak antara huruf, bab, dan buku, sehingga salinan mereka mempunyai format yang sama seperti aslinya. Mereka juga dilarang untuk bersandar pada ingatan mereka sementara mereka menyalin sebuah naskah; mereka harus selalu melihat naskah aslinya, baru menuliskannya. Semua jerih payah ini menghasilkan salinan-salinan yang dapat dipercaya.


2. Kelompok Massoretes


Tugas dari Kelompok Soferim kemudian berkembang menjadi pemelihara sastra dan tradisi Yahudi. Mereka kemudian diberikan nama baru, yaitu Kelompok Massoretes. Mereka beroperasi dari tahun 500 AD sampai sekitar 900 AD, di daerah Babel dan Palestina.


Seperti Kelompok Soferim, kelompok ini juga sangat seksama di dalam menyalin naskah Kitab Suci. Mereka menghitung pula jumlah setiap abjad di dalam setiap buku, menandai huruf di tengah dari buku-buku Taurat dan seluruh Kitab Suci Yahudi, dll. Semua jumlah ini dibandingkan dengan jumlah-jumlah pada salinan yang mereka buat. Jikalau salah satu jumlah tidak cocok, naskah salinan mereka tidak ada nilainya.


Selain dari proses di atas, Kelompok Massoretes juga memasukkan beberapa catatan ke dalam salinan mereka. Naskah yang mereka salin mungkin mengandung beberapa catatan untuk menolong seseorang menghafal sebuat ayat, atau mengucapkan suatu kata atau ungkapan. Catatan-catatan ini dibuat oleh guru-guru agama. Kelompok Massoretes menuliskan semua catatan ini di pinggiran salinan mereka. Isi naskahnya sendiri tidak diganggu. Kelompok ini juga membuat daftar isi dari setiap naskah dan memasukkannya ke dalam pinggiran atas dan bawah dari salinan mereka. Akhirnya, mereka juga menciptakan sebuah sistem huruf hidup (vokal) untuk bahasa Ibrani, sebab bahasa ini aslinya hanya mempunyai huruf mati (konsonan), sehingga tidak ada kepastian di dalam cara mengucapkan sebuah kata. Kelompok ini memasukkan tanda-tanda huruf hidup ke dalam salinan mereka, sehingga semua orang dapat membaca Kitab Suci dengan pengucapan yang seragam. Semua tambahan ini menambah pengertian orang akan setiap naskah tanpa merubah isi naskah itu sendiri.


Kedua kelompok di atas menyalin Kitab Suci dengan hormat dan ketelitian yang luar biasa. Disiplin mereka menjamin ketepatan dari PL yang kita miliki sekarang, yang kita dapatkan dari hasil karya mereka.


Selain dari salinan-salinan Kelompok Soferim dan Massoretes, kita juga mewarisi beberapa bahan literatur yang lainnya. Kita dapat membandingkan isi dari bahan-bahan ini dengan Kitab Suci untuk melihat apakah PL yang kita miliki sekarang sesuai dengan yang aslinya. Bahan-bahan literatur ini antara lain adalah:


1. Targum


Sejarah mencatat bahwa orang-orang Yahudi pernah dibuang ke Kerajaan Babel. Peristiwa ini menyebabkan banyak orang Yahudi lupa akan bahasa Ibrani. Mereka memakai bahasa Aramik, yang adalah bahasa yang dipakai di Babel. Setelah mereka dibebaskan, mereka tidak dapat mengerti isi Kitab Suci, yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani. Oleh sebab itu, setiap kali Kitab Suci dibacakan, ada orang yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Aramik. Terjemahan Aramik ini kemudian dijilidkan dan disebut Targum.


2. Septuaginta ( LXX )


Karena ada orang-orang Yahudi yang tinggal di daerah Mesir, yang berbahasa Yunani, maka pada sekitar tahun 250 BC, Kitab Suci Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan disebut Septuaginta . Selain dari terjemahan ini, ada pula beberapa terjemahan Yunani yang lainnya, seperti terjemahan yang dibuat oleh Theodotion dari Efesus, Symmachus, dll.


3. Taurat Samaria


Orang-orang Samaria adalah campuran antara orang Yahudi dan orang Siria. Mereka hanya percaya pada kelima buku Taurat Musa, dan mereka mempunyai salinan mereka sendiri.


4. Naskah Laut Mati


Pada tahun 1947, seorang gembala muda mencari kambingnya yang hilang di dalam gua-gua di suatu tempat yang bernama Wadi Qumran, sekitar 1 mil baratdaya dari sebelah baratlaut dari Laut Mati. Di sana didapati perpustakaan dari sekelompok orang Yahudi, yang tinggal di sana sekitar 100 BC sampai 68 AD. Di dalam perpustakaan ini ditemukan salinan dari semua buku-buku PL, kecuali kitab Ester. Salinan-salinan ini kebanyakan dibuat selama masyarakat itu tinggal di sana. Penemuan ini mewariskan kepada kita salinan-salinan yang sangat tua (beberapa dari mereka ditulis sebelum Masehi). Misalnya, sebuah salinan kitab Yesaya yang lengkap, yang ditulis pada sekitar tahun 400 BC (kitab Yesaya sendiri ditulis sekitar tahun 675 BC). Naskah-naskah setua ini sangat berharga karena mereka dibuat tidak lama sesudah naskah yang asli diselesaikan, sehingga kemungkinan untuk masuknya kesalahan sangat kecil.


Ketika salinan-salinan di atas dibandingkan dengan PL yang kita miliki sekarang, ternyata perbedaannya sangat sedikit sekali. Semua perbedaan yang didapatkan hanyalah perbedaan di dalam ejaan, penggunaan kata sinonim, dll. Mereka tidak merubah makna dari naskah itu sendiri.


Dari uraian di atas kita dapat melihat bahwa penyalin-penyalin Kitab Suci Yahudi sangat berhati-hati di dalam menjalankan tugas mereka, sehingga kita dapat mewarisi salinan yang serupa dengan yang aslinya. Keaslian Kitab Suci juga didukung oleh beberapa naskah yang lainnya, seperti terjemahan-terjemahan dan Buku Taurat orang Samaria. Oleh karena itu, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa isi PL telah diturunkan tanpa suatu perbedaan yang berarti.


Penurunan Buku-buku Perjanjian Baru


Ada 27 buku yang tergolong PB. Semua buku ini ditulis di antara sekitar tahun 50 AD sampai tahun 90 AD. Pengarang buku-buku PB adalah saksi mata dari kejadian-kejadian di masa hidup Tuhan Yesus, atau orang-orang yang mendapatkan informasi dari saksi-saksi mata.


Mengingat bahwa naskah-naskah kuno ditulis atas bahan yang mudah hancur (misalnya papirus), maka kita tidak mewarisi naskah-naskah asli PB. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk merekonstruksi naskah yang asli dari salinan-salinan yang kita miliki sekarang.


Di dalam memulihkan kembali naskah-naskah PB, kita memakai 3 macam sumber informasi, yaitu:


1. Salinan-salinan Yunani


Kita mewarisi lebih dari 5000 salinan buku-buku atau bagian-bagian dari PB di dalam bahasa aslinya (Yunani). Jumlah ini melebihi jumlah naskah dari karya-karya sastra kuno lainnya yang kita kenal sekarang.


2. Terjemahan-terjemahan


Kita mewarisi lebih dari 19,000 terjemahan PB ke dalam bahasa-bahasa lain seperti Latin, bahasa Etiopia, bahasa-bahasa Eropa Selatan, Armenia, dll.


3. Tulisan Bapak-bapak Gereja


Tokoh-tokoh gereja Kristen sering kali mengutip PB di dalam surat atau karangan mereka. Ada banyak sekali kutipan semacam ini, sehingga jikalau semua naskah-naskah Yunani dan terjemahannya dihancurkan, orang dapat merekonstruksi PB dari kutipan-kutipan tersebut. Hal ini telah dibuktikan oleh seseorang yang bernama Sir David Dalrymple. Dia telah berhasil menemukan seluruh isi PB dari kutipan Bapak-bapak Gereja, kecuali 11 ayat.


Di dalam proses memulihkan naskah kuno, kita harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu:



  1. Jarak waktu antara pembuatan salinan yang tertua yang kita miliki dan penulisan naskah yang asli. Semakin pendek jarak ini, semakin kita dapat mempercayai salinan yang kita miliki, sebab pendeknya jarak waktu mengurangi kemungkinan masuknya kesalahan-kesalahan.

  2. Jumlah salinan yang kita warisi. Semakin banyak semakin baik, sebab perbandingan antara naskah kita dengan sebanyak-banyaknya naskah yang lebih tua akan menunjukkan apakah naskah kita mengandung kesalahan atau tidak.

Salinan tertua dari buku PB yang kita miliki sekarang berasal dari tahun 125 AD, sedangkan naskah-naskah aslinya ditulis antara tahun 50 sampai 90 AD. Berarti, jarak waktu antara salinan tertua dan penulisan PB adalah sekitar 50 tahun. Jarak ini sangat pendek dibandingkan dengan jarak dari naskah sastra kuno lainnya. Sebagai contoh, buku Iliad, yang ditulis oleh seorang bernama Homer. Buku ini ditulis tahun 900 BC, dan salinan tertua yang kita miliki sekarang ditulis tahun 400 BC, 500 tahun sesudah penulisan naskah aslinya. Jarak waktu buku ini adalah yang paling pendek di antara sastra kuno lainnya. Mereka semua mempunyai jarak waktu di atas 1000 tahun.


Jumlah salinan PB di dalam bahasa Yunani dan bahasa-bahasa lainnya mencapai jumlah lebih dari 24,000. Dari karya kuno lainnya, Iliad mempunyai jumlah salinan yang terbanyak setelah PB, yaitu 643 salinan. Perjanjian Baru mempunyai jauh lebih banyak naskah sebagai bahan perbandingan dari pada karangan kuno lainnya.


Marilah kita meneliti segala informasi di atas. Sampai saat ini, kita mempunyai lebih dari 5,000 salinan Yunani, 19,000 terjemahan kuno, dan kutipan dari tokoh-tokoh gereja yang sangat lengkap. Dengan sumber yang sedemikian banyaknya, masuk akal bahwa naskah yang kita pulihkan, yaitu kitab PB kita sekarang, adalah serupa dengan yang aslinya. Lagipula, banyak dari naskah-naskah kuno ini ditulis tidak lama setelah penulisan yang aslinya, sehingga kemungkinannya sangat kecil bagi mereka untuk mengandung kesalahan. Perbandingan antara naskah-naskah ini menunjukkan perbedaan di dalam ejaan, penggunaan kata, dll. Tidak pernah ditemukan perbedaan yang merubah arti naskahnya sendiri. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa PB yang kita miliki sekarang tidak berbeda dengan yang aslinya.


Bersambung ke bagian 2

Tidak ada komentar: