Jumat, Januari 18, 2008

PENGALAMAN DAN KEBENARAN

Sekarang ini, ada banyak orang yang sangat mementingkan pengalaman dan perasaan di dalam hal-hal rohaniah. Mereka mendengarkan pengkhotbah-pengkhotbah yang “bagus,” menghadiri pertemuan-pertemuan yang "dinamis" dan "penuh dengan pekerjaan Roh Kudus," dan lain sebagainya. Tetapi, apakah mereka sedang mendapatkan kebenaran Allah, ataukah mereka tidak dapat lagi menerima ajaran sehat sehingga mereka menerima apa saja yang memuaskan keinginan telinga mereka (II Tim. 4:3)?

Misalnya, banyak orang mencari pembicara-pembicara yang “baik.” Tetapi mereka menilai baiknya suatu khotbah bukan dari isi kebenarannya dan kesesuaiannya dengan Firman Allah, melainkan dari cara khotbah itu disampaikan. Seorang pengkhotbah yang “baik” adalah seorang yang dinamis. Dia tidak hanya berdiri di balik podium, tetapi mungkin meloncat-loncat di atas panggung, berjalan ke sana ke mari, serta membawa banyak ilustrasi dengan gerakan-gerakan tangan, tubuh, maupun raut muka. Nada suaranya berubah-ubah secara drastis, sehingga menimbulkan berbagai emosi. Caranya berbicara tidak membosankan. Dan khotbahnya ditaburi berbagai cerita lucu. Tetapi apakah pembicara-pembicara “baik” ­ini memberitakan kebenaran Allah? Belum tentu! Jim Jones adalah seorang pemimpin bidat Kristen yang ulung dalam berkhotbah. Dengan keahliannya ini dia berhasil membujuk sekitar 900 orang pengikutnya untuk pindah ke Guyana, dan akhirnya membunuh diri mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pengkhotbah “Kristen” yang dinamis belum tentu sedang menyampaikan kebenaran Allah.

Banyak orang suka mengunjungi pertemuan-pertemuan yang “bagus,” yaitu yang mempunyai musik yang moderen, nyanyian-nyanyian yang kontemporer, pemimpin-pemimpin pujian yang emosionil, dan suasana yang “membuat kita lebih dapat beribadah.” Tetapi apakah semua ini benar-benar pengalaman persekutuan yang sejati dengan Tuhan, ataukah hanya sekedar perasaan “enak” yang ditimbulkan oleh suasana di sekitar kita? Pertanyaan ini harus dipikirkan dengan serius, karena ada banyak hal yang dapat membuat kita mempunyai perasaan “rohani,” tetapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan. Misalnya, orang yang sedang berada dalam pengaruh obat bius dapat merasakan perasaan yang “enak,” yang ditafsirkan sebagai pengalaman rohaniah oleh kepercayaan-­kepercayaan tertentu. Penganut-penganut ilmu sihir juga menyaksikan adanya perasaan rohaniah sementara mereka menjalankan ibadah mereka dan bersekutu bersama, sedangkan kita tahu bahwa sihir adalah kekejian di mata Tuhan (Ul. 18:10-12). Musik yang indah dan suasana pujian yang nikmat memang dapat membuat kita menyanyi dengan sepenuh hati. Tetapi ini pun belum tentu pengalaman rohaniah yang sejati. Seseorang dapat menyanyikan lagu sekular favoritnya dengan sepenuh hati. Jadi, perasaan “rohaniah” dan suasana yang menyentuh hati tidak menjamin kehadiran Allah. Perasaan yang timbul mungkin adalah hasil pengaruh dari suasana di sekitar kita atau faktor-faktor lainnya, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan rohani kita dan Allah.

Banyak orang Kristen juga suka pergi ke persekutuan-persekutuan di mana banyak terdapat manifestasi adikodrat (supernatural). Di mana ada kesembuhan ilahi, penggunaan bahasa roh, dan fenomena-­fenomena yang luar biasa, di situ berkerumun banyak orang. Mereka percaya bahwa di tempat-tempat seperti inilah Roh Kudus bekerja dengan hebat. Tetapi apakah kejadian-kejadian ini sungguh datang dari Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus? Belum tentu! Misalnya, kesembuhan dalam kebaktian kesembuhan ilahi belum tentu selalu hasil karya Allah, melainkan dapat juga hasil dari sugesti atau hal-hal jiwa lainnya. Lebih lagi, berbagai tanda dan keajaiban mungkin adalah hasil pekerjaan Iblis. Alkitab menyatakan bahwa Iblis adalah penipu, yang mampu meniru pekerjaan Allah, termasuk mujizat-mujizat (Yoh. 8:44, II Kor. 11:14, II Tes. 2:9). Hal ini menunjukkan bahwa manifestasi adikodrat belum tentu berasal dari Allah.

Dengan diskusi di atas saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa pengkhotbah yang dinamis, pengalaman-pengalaman rohaniah, suasana ibadah yang nikmat, dan manifestasi adikodrat adalah tidak baik atau tidak Alkitabiah. Seorang pemberita Injil patut belajar untuk menyampaikan kebenaran Allah dengan kreatif. Kenyataan bahwa Allah mengasihi dan telah menerima kita tentunya membawa perasaan rohaniah yang indah. Musik dan suasana ibadah yang nikmat tentu dapat menolong kita untuk beribadah dengan sesungguh hati. Dan saya percaya, walaupun mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat ini, bahwa Roh Kudus masih bekerja sampai sekarang, dan Dia dapat menyatakan pelbagai hal yang luar biasa sekehendakNya.

Tetapi kita harus selalu ingat untuk menguji semua ini dengan Firman Allah (I Tes. 5:21). Kita harus mengutamakan kebenaran di atas pengalaman. Janganlah secara buta kita menerima segala yang membuat kita merasa lebih rohani dan segala hal yang luar biasa sebagai sesuatu dari Tuhan. Pengalaman tidak menjamin kebenaran. Jadi, setiap kali kita mendengar khotbah yang disampaikan dengan baik, atau merasa beribadah dengan sepenuh roh, atau menyaksikan pelbagai tanda yang luar biasa, janganlah langsung menerimanya sebagai pemberian dari Allah. Sebaliknya, selidiki dulu dengan teliti apakah semua itu sesuai dengan Firman Allah. Jikalau ternyata tidak sesuai, kita harus rela mengikuti apa yang Alkitab katakan, walaupun itu berarti kita harus meninggalkan segala pengalaman yang “indah” itu. Lebih baik mengikuti kebenaran dan dikenal Tuhan, daripada merasakan pelbagai “pekerjaan Allah” tetapi akhirnya ditolak olehNya (Mat. 7:22-23).

Catatan: Saya tidak ingat kapan artikel ini ditulis.

Tidak ada komentar: