Jumat, Januari 18, 2008

IBADAH

Pernahkah saudara bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara pergi ke gereja setiap hari Minggu? Mengapa saudara menyisihkan tenaga dan waktu untuk berkumpul dalam ruang kebaktian, sementara saudara dapat menikmati hangatnya sinar mentari di pantai? Untuk apa saudara menyanyi, berdoa, dan duduk mendengarkan khotbah yang kadang kala membuat saudara mengantuk?

Jawaban yang paling sederhana adalah karena kita dipanggil untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana Allah membebaskan bani Israel dari cengkeraman Mesir supaya mereka dapat beribadah kepadaNya (Keluaran 3:12), demikian pula kita sudah dibebaskan dari jajahan dosa oleh darah Kristus supaya kita boleh beribadah kepada Allah semesta alam.

Menyadari panggilan di atas, sekarang timbul beberapa masalah. Apakah ibadah itu? Bagaimana caranya untuk beribadah dengan layak? Apakah yang seharusnya kita dapatkan atau rasakan di dalam ibadah? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inilah artikel ini ditulis.

APAKAH IBADAH ITU?

Ada beberapa kata, baik dari bahasa Ibrani maupun Yunani, yang diterjemahkan sebagai "ibadah" di dalam Kitab Suci. Semua kata-kata itu mengandung ide "hormat" dan "melayani"; orang yang dikatakan sedang beribadah selalu melakukan tindakan menghormati dan melayani. Jadi, ibadah mencakup sikap dan perbuatan kita. Ibadah adalah sikap menghormati dan perbuatan melayani kepada Allah yang hidup.

Perhatikanlah satu hal yang penting di sini. Oleh sebab ibadah berarti menghormati dan melayani Allah, maka pusat ibadah hanyalah Allah sendiri, bukan diri kita. Setiap kali kita beribadah, kita mengembalikan segala hormat kepada Allah dan melayani sang Raja; kita bukan mencari kepuasan diri, melainkan kepuasan Allah. Pusat ibadah adalah Allah, kita datang beribadah demi kepuasan Dia.

Ibadah dapat dilakukan secara pribadi maupun umum (dalam jemaat). Artikel ini berkisar pada ibadah umum, yang biasa kita lakukan pada hari Minggu. Ibadah semacam ini selalu mengandung lima unsur utama, yaitu doa, puji-pujian, pemberitaan firman, persembahan, dan berkat.

IBADAH DALAM JEMAAT

Setiap hari Minggu kita datang ke gereja untuk beribadah. Berarti, di dalam mengikuti seluruh liturgi kebaktian, kita harus mempunyai sikap yang hormat kepada Allah dan perbuatan yang melayani Dia.

Tetapi, seperti apakah sikap hormat itu? Di dalam Kejadian 18:2 dikisahkan tentang kunjungan tiga orang asing (salah satunya adalah Tuhan sendiri) ke kemah Abraham. Ketika Abraham melihat mereka, dia menyongsong mereka dan sujud sampai ke tanah. Inilah sikap hormat yang ditunjukkan oleh Abraham pada waktu dia berjumpa dengan Tuhan. Di dalam praktis ibadah yang kita kenal tidaklah lazim untuk orang bersujud secara jasmani, namun hati kita harus sujud dengan rendah di hadapan Allah. Pada saat kita menyanyikan puji-pujian, berdoa, maupun mendengarkan khotbah, kita harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang rendah dan penuh hormat. Menyanyi dalam ibadah bukanlah seperti menyanyi dalam kamar mandi, yang dapat dilakukan seenaknya. Berdoa bukanlah bercakap dengan teman. Mendengarkan khotbah tidak sama dengan mendengarkan berita dalam televisi. Semua kegiatan ini dan juga kegiatan-kegiatan lainnya dalam liturgi adalah untuk Allah sendiri. Oleh sebab itu, selayaknyalah kita melakukannya dengan hormat, tidak dengan sembarangan!

Lalu, bagaimana dengan perbuatan yang melayani? Kata "melayani” sebenarnya mengandung makna “memperkenankan Allah.” Segala yang kita lakukan yang baik di hadapan Allah termasuk pelayanan. Jadi, sikap hormat yang sudah disinggung di atas adalah juga suatu perbuatan yang melayani, sebab sikap tersebut berkenan di hadapan Allah. Pelayanan tidaklah semata-mata perbuatan yang aktif, seperti misalnya menjadi usher atau menyanyi dalam paduan suara, tetapi juga perbuatan yang pasif, seperti di dalam berdoa dan mendengarkan khotbah. Pada waktu firman diberitakan, hal yang patut kita lakukan adalah berdiam diri dan menyimak, bukannya berbisik-bisik dengan teman, tidur-tiduran, atau "berkreasi" dengan kertas dan pena. Perbuatan-perbuatan tersebut menunjukkan suatu sikap yang tidak hormat kepada Allah dan tidak memperkenankan hatiNya. Bayangkan saja waktu di mana orang tua kita sedang berbicara kepada kita, masakan kita tidak mendengarkan mereka? Apalagi di dalam ibadah, yang disampaikan dari atas mimbar adalah firman Allah yang hidup; kita harus mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

IBADAH DI HADIRAT ALLAH

Bayangkanlah diri saudara diundang oleh Pangeran Charles dan permaisuri ke istananya, tentu saudara akan mempersiapkan diri dengan baik. Misalnya, saudara akan mengenakan pakaian yang terbaik, memakai sepatu, dan seterusnya. Saudara tidak akan datang dengan pakaian tidur atau rambut yang berantakan. Mengapa demikian? Karena saudara akan berhadapan dengan seorang yang terhormat, seorang yang mempunyai kedudukan tinggi.

Kita datang beribadah bukanlah kepada Pangeran Charles atau pembesar-pembesar lainnya. Lebih dari itu, kita datang menghadap Allah semesta alam! Dia jauh lebih besar dari pada siapa pun. Jikalau kita bandingkan diri kita dengan orang lain, setinggi apa pun kedudukan dia, semua sama-sama manusia. Namun Allah bukanlah seorang manusia yang lain; Dia itu pencipta kita, Dia layak untuk penghormatan yang jauh lebih tinggi dari apa yang kita patut berikan kepada sesama manusia (Wahyu 4:11). Jikalau kita menganggap pertemuan dengan Pangeran Charles begitu spesial sehingga kita mempersiapkan diri dengan sungguh, mengapa kita tidak memperlakukan ibadah dengan spesial juga, padahal Allah jauh lebih layak untuk dihormati? Kita patut bersikap hormat dan melayani di dalam ibadah oleh sebab siapa yang kita sembah, yaitu Allah sendiri!

BEBERAPA MASALAH DALAM IBADAH DAN JALAN KELUARNYA

Kadang kala kita mempunyai keinginan untuk beribadah dengan baik, tetapi merasa tidak mampu karena mengalami beberapa masalah, baik yang kita sadari maupun yang tidak.

Ibadah sebagai kebiasaan

Banyak orang yang setiap hari Minggu datang beribadah karena sudah terbiasa. Sejak kecilnya mereka sudah dibiasakan untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu, sehingga tanpa mengetahui tujuan ibadah yang sebenarnya mereka terus mengikuti kebiasaan ini.

Untuk dapat beribadah dengan benar, kita perlu memahami mengapa kita melakukannya. Seperti yang sudah dikatakan di atas, kita beribadah karena Allah telah membawa kita keluar dari dosa dengan tujuan berbakti kepada Dia. Dan juga, kita diciptakan untuk memuliakan sang Pencipta (Yesaya 43:7), dan ibadah menyediakan suatu sarana untuk mencapai tujuan ini. Di dalam ibadah kita mengembalikan segala hormat dan melayani Allah yang layak ditinggikan. Jadi janganlah beribadah karena kebiasaan saja, melainkan karena kita ingin memuliakan Allah.

Ibadah tanpa "berkat"

Ada juga orang yang mengeluh bahwa mereka tidak mendapatkan berkat dari ibadah. Perasaan mereka tidak disegarkan, pengetahuan tidak bertambah, dan kerohanian mereka tidak bertumbuh. Agaknya ibadah mereka sia-sia belaka.

Hak istimewa yang membawa suka cita

Sebenarnya, kelayakan kita untuk datang ke hadirat Allah di dalam ibadah sudah merupakan suatu hak istimewa, yang patut memberikan rasa suka cita dan kepuasan. Masalahnya, apakah kita menyadari bahwa dalam ibadah sebenarnya kita sedang berada di hadiratNya, sedang meninggikan sang Raja sendiri.

Kita semua adalah orang-orang berdosa (Roma 3:23) yang sesungguhnya kotor di hadapan Allah (Mazmur 51:4,9). Bahkan setelah menerima Kristus pun kita masih sering jatuh dalam dosa. Tetapi di dalam ibadah umum, kita diberi kesempatan bersama saudara-saudari lainnya untuk datang kepada Allah dan melayani Dia. Dengan mulut yang sering menyinggung perasaan kita boleh memuji-muji Allah, dengan hati yang suka memberontak kita boleh berdoa, dengan telinga yang sering mendengarkan hal-hal yang tidak baik kita boleh mendengarkan firmanNya. Bukankah ini suatu hak yang istimewa, bahwasanya kita yang tidak layak boleh datang beribadah kepada Allah yang maha suci? Tidakkah kita patut berterima kasih untuk kelayakan ini? Bagaimana mungkin kita bisa berkata bahwa kita tidak mendapatkan berkat sementara Allah memberikan kelayakan pada kita untuk beribadah bersama saudara­-saudari seiman setiap minggu? Adakah berkat yang lebih besar dari hak istimewa yang telah Allah karuniakan ini?

Yang Allah ingin berikan, bukan yang kita ingin dapatkan

Satu hal lain yang menyebabkan orang merasa ibadah itu percuma adalah konsep yang salah mengenai apa yang harus didapat dalam ibadah. Setiap orang mempunyai kebutuhan. Orang sakit memerlukan kesembuhan, orang kesepian merindukan teman, orang tak punya pekerjaan membutuhkan pekerjaan, dan masih banyak lagi kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Semua orang datang beribadah dengan keperluannya masing-masing, dan semua mengharapkan jalan keluar. Namun Tuhan mengajarkan kita untuk menerima apa yang Dia ingin berikan, bukan apa yang kita ingin dapatkan.

Ketika keluar dari tanah Mesir, bani Israel pasti memerlukan banyak hal, seperti pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan untuk anak-anak, dan lain sebagainya. Tetapi di dalam Keluaran 19:7-8 dinyatakan bahwa Allah tidak langsung memenuhi segala kebutuhan itu, melainkan Dia memberikan firmanNya, yang diterima baik oleh Israel. Seperti orang-orang Israel tersebut, kita pun mempunyai beraneka kebutuhan. Tetapi kita harus belajar untuk menerima apa yang Allah berikan, seperti bani Israel menerima firman Tuhan. Syair puji-pujian yang kita nyanyikan tidak selalu mengena di hati, isi khotbah tidak selalu menjawab masalah kita. Namun kita harus selalu ingat bahwa semua itu adalah yang Allah ingin kita dapatkan pada saat itu, walaupun bukan yang kita harapkan, sehingga kita harus menerimanya dengan syukur dan suka cita. Jikalau kita mempunyai sikap seperti ini, maka segala isi liturgi akan memberikan kepuasan dan berkat.

Pengaruh kondisi konsentrasi

Berkat juga bisa terlalaikan jikalau kita tidak berada dalam kondisi yang stabil pada saat beribadah. Misalnya, jikalau kita mengantuk, tentu akan sulit sekali untuk memusatkan pikiran pada firman Allah. Berkat yang sebenarnya dapat kita peroleh dari khotbah menjadi kabur. Jalan keluarnya ialah dengan tidur cukup pada malam sebelum hari ibadah. Solusi ini tampak lucu, namun perlu kita jalankan dengan serius supaya kita bisa berbakti dengan baik. Lagi pula, sikap mengantuk sudah tentu bukan sikap yang layak di hadapan Allah.

Kita juga akan sulit menerima berkat jika kita sedang kuatir, atau memikirkan hal-hal lain, atau memperhatikan seseorang yang menarik hati. Dalam keadaan apa pun juga, kita harus selalu ingat bahwa kita sedang berada di hadirat Allah, jadi kita harus bersikap dan bertindak dengan selayaknya, menjauhi segala hal yang mengganggu.

Menyatakan kasih kepada saudara-saudari

Terakhir, kita pun harus menyadari bahwa di dalam ibadah umum kita berada di tengah saudara-saudari lainnya, bukan seorang diri saja. Sebagaimana kita mengasihi Allah, kita juga harus mengasihi orang-orang di sekitar kita (Matius 22:37-39). Di dalam ibadah, kita menyatakan kasih kepada Allah dengan menghormati dan melayani Dia; kita dapat menunjukkan kasih kepada sesama dengan senyum, sapaan, jabatan tangan dan menjadi teman bicara. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki kasih Kristus yang memenuhi hati kita. Kesempatan untuk membagikan kasih itu selayaknya memberikan kepuasan kepada kita.

Ibadah tanpa tindak lanjut

Di dalam ibadah kita mendapat kesempatan untuk meninggikan Allah, tetapi itu bukan satu-satunya yang kita dapatkan. Terutama dari unsur pemberitaan firman, kita juga memperoleh bahan bagi pertumbuhan rohani. Sayangnya, sering kali kita mendengarkan khotbah, lalu melupakannya sehingga firman Tuhan tidak mendapat kesempatan untuk berbuah dan membangun rohani kita. Bersama dengan usainya kebaktian, kita mulai disibukkan dengan berbagai macam kegiatan dan pemikiran, sehingga apa yang sudah kita dengar dalarn khotbah jadi terlupakan.

Yang kita perlu lakukan adalah tindak lanjut dari ibadah, terutama dari khotbah yang kita dengar. Firman Tuhan perlu kita pelajari kembali, renungkan, gumuli, dan diskusikan dengan saudara-saudari lainnya, sehingga benar-benar meresap dalam hati dan pikiran, serta membawa pertumbuhan rohani. Untuk melakukan hal tersebut, kita harus berusaha untuk mengingat khotbah yang kita dengar. Masing-masing orang mempunyai metodenya sendiri, misalnya dengan mencatat, meminjam rekaman khotbah, dan lain sebagainya. Cara apapun yang kita pakai, yang terpenting adalah menggumuli kembali firman Tuhan setelah kebaktian. Dengan demikian, rohani kita boleh terus bertumbuh (Efesus 4:15).

Menyimpan firman Tuhan dalam hati dan pikiran, dan terus merenungkannya adalah juga salah satu langkah untuk memajukan gereja. Di gereja-gereja yang maju, kebanyakan anggota jemaat membawa buku catatan ke dalam kebaktian untuk mencatat khotbah, sehingga mereka dapat mempelajarinya kembali di rumah. Marilah kita meneladani mereka; bukan berarti kita harus mencatat sebab tidak semua orang cocok dengan cara ini, melainkan marilah kita berusaha untuk mengingat firman Tuhan, merenungkannya dan melaksanakannya. Melalui kedewasaan rohani kita, gereja kita boleh maju.

KESIMPULAN

Bagaimanakah ibadah saudara setiap minggu? Apakah itu menyenangkan atau membosankan? Adakah itu membawa berkat atau sia-sia? Apakah ibadah saudara memberi suka cita atau malah menjadi beban?

Acap kali kita lupa untuk mengevaluasi diri kita sendiri ketika kita terbentur suatu masalah. Kita mempunyai tendensi untuk melihat faktor-faktor di luar sebagai sumber kesulitan. Namun pada saat ini, marilah kita menguji diri dalam hal beribadah.

Ibadah bukanlah sekedar kebiasaan, melainkan suatu hak istimewa untuk meninggikan dan melayani Allah dengan segala ketidaklayakan kita. Jikalau kita menyadari siapa Allah itu dan betapa hinanya diri kita di hadapanNya, niscaya kesempatan beribadah akan memberikan suka cita. Pengalaman ibadah dapat menjadi lebih indah jika kita belajar untuk menerima apa yang Allah ingin berikan, bukan apa yang kita ingin dapatkan. Dan juga, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk setiap ibadah agar dapat memusatkan pikiran, serta menyatakan kasih kita kepada saudara-saudari lainnya. Dan yang terakhir, firman Tuhan perlu terus digumuli demi pertumbuhan rohani dan gereja kita.

Sudahkah kita beribadah dengan layak di hadapan Allah? Inilah pertanyaan yang harus kita gumuli sekarang. Biarlah artikel ini dapat menolong kita semua untuk beribadah dengan lebih baik, demi kemuliaan Allah.

Bibliography
Pittman, James. What Kind of Worship Is God Looking For?. Grand Rapids, Michigan: Radio Bible Class, 1987.
Jokiman, Bob. "Tujuan Pembebasan Allah." GKI Lake Avenue, June 19, 1988.
Susabda, Yakub. "Menjadi Berkat Melalui Pembaharuan Hidup." GKI Lake Avenue, July. 10, 1988.

Ucapan terima kasih kepada saudara-saudari yang telah menyumbangkan buah pikiran di dalam penulisan naskah ini.

Catatan: Selesai pada 08/07/1988.

Tidak ada komentar: