Dalam dunia yang moderen dan serba kompetitif ini, waktu sudah menjadi sesuatu yang amat tinggi nilainya. Dalam sekejap saja hal-hal besar dan penting dapat terjadi; sebuah bom dapat meledak akibat tombol yang ditekan hanya dalam sedetik, keputusan yang membawa dampak luas dapat diambil dalam sekejap, berita penting dapat tersebar ke penjuru dunia dalam waktu singkat, dan seterusnya. Pengelolaan waktu yang bijaksana dan matang dapat membuahkan hasil kerja yang maksimal, sementara menyiakan waktu dapat menyisihkan orang dari kancah persaingan. Tidak salahlah jikalau di kalangan bisnis orang mengenal istilah time is money. Waktu sudah mencapai posisi yang sama dengan si maha-kuasa uang.
Orang-orang Kristen pun adalah warga dunia ini. Seperti semua orang lainnya, orang Kristen juga berkecimpung dalam berbagai bidang duniawi. Waktu yang begitu bernilai di dunia juga sama pentingnya dalam hidup orang Kristen. Orang Kristen tahu bahwa untuk tetap bertahan dalam deru hidup masa kini, waktu adalah salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan. Tidak dapat disangkal kalau orang Kristen sadar betapa berharganya waktu dalam hidup dan karya. Pertanyaannya, apakah orang Kristen juga sedemikian menghargai waktu dalam hal-hal yang berkenaan dengan Allah?
Marilah kita pertimbangkan satu contoh. Dalam kebaktian atau persekutuan rutin di gereja, berapa banyak orang yang sudah hadir saat acara akan dimulai? Silakan bandingkan dengan jumlah orang yang keluar ruangan pada akhir acara. Saya kira hampir selalu jumlah di awal kebaktian lebih kecil dari jumlah di akhir kebaktian, yang berarti ada orang-orang yang datang terlambat. Dari sini tampaklah bahwa ada orang-orang Kristen yang masih kurang menghargai waktunya di hadapan Tuhan. Bagi mereka, waktu di dunia adalah uang, tetapi waktu di hadapan Tuhan sudah jatuh nilainya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah jikalau yang terlambat adalah orang tua yang membawa anaknya. Orang tua yang terlambat datang ke gereja mengakibatkan anaknya juga terlambat datang ke Sekolah Minggu. Orang tua yang kurang menghargai waktunya di hadapan Allah telah “memaksa” anaknya untuk juga kehilangan waktunya di hadapan Allah.
Saya ajak saudara untuk memikirkan, sejujurnya berapa nilai waktu di hadapan Tuhan? Apakah semangat time is money juga berlaku di gereja? Saya rasa jawabnya adalah “ya”, dengan beberapa alasan berikut. Pertama, waktu merupakan suatu pemberian dari Allah untuk kita. Waktu berhubungan erat dengan hidup, setidaknya di dunia fana ini. Bagi manusia seperti kita, hidup dimulai pada satu titik waktu tertentu. Selanjutnya, sepanjang hidup kita dijalani dalam waktu, sampai nanti kita meninggal, barulah masa hidup kita di dunia ini berakhir. Jadi, waktu sebenarnya setara dengan hidup kita ini; waktu sama bernilainya dengan hidup. Selama kita masih punya waktu, berarti kita masih hidup. Setelah kita mati, waktu tidak ada lagi gunanya bagi kita. Jikalau kita menganggap hidup ini berharga, seharusnya kita juga menganggap waktu sama berharganya. Sekarang pertanyaannya, siapakah yang memberikan waktu pada kita, dan siapakah yang memelihara hidup kita? Bukankah Allah yang telah membentuk kita dalam rahim ibu kita? Bukankah Allah yang senantiasa menopang hidup kita dengan oksigen, makanan, kesehatan, keselamatan, dan sebagainya? Jikalau hidup kita yang berharga ini memang berasal dari Allah, dan jikalau waktu setara dengan hidup ini, bukankah berarti waktu juga berharga di hadapanNya, dan kita harus mempertanggungjawabkannya secara benar kepadaNya sebagaimana kita memakainya dengan baik dalam hidup duniawi kita? Jikalau waktu adalah pemberian Allah, bagaimana mungkin kita pantas menghargai waktu sedemikian tinggi dalam hidup sehari-hari, tetapi kemudian berbalik meremehkan waktu justru dalam hal-hal yang berkenaan dengan sang pemberi waktu itu sendiri?
Alasan yang kedua, terutama untuk para orang tua, perlu diingatkan kembali bahwa orang tua yang terlambat datang ke gereja mengakibatkan anaknya juga terlambat datang ke Sekolah Minggu. Dalam hal ini kita perlu menyadari hubungan anak dengan kita serta hubungan kita dengan Allah. Anak adalah milik kita, tetapi kita adalah milik Allah. Sebagaimana kita ingin anak menghargai pemberian kita, demikian juga Allah ingin kita menghargai pemberianNya. Sekarang pertanyaannya, jikalau kita mengharapkan anak untuk menghargai apa yang kita berikan kepadanya, pantaskah jika kita sendiri tidak menghargai waktu yang Allah berikan kepada kita? Jikalau kita memandang perlu mendidik dan menghukum anak yang menyia-nyiakan pemberian kita, bukankah Allah juga berhak mendidik dan menghukum kita yang menyia-nyiakan waktu kita bersama denganNya? Jikalau kita menganggap anak yang tidak menghargai pemberian orang tua sebagai anak yang tidak tahu diri, bukankah dengan demikian kita sedang mengakui ke-tidak-tahu-diri-an kita sendiri di hadapan Allah ketika kita datang terlambat ke rumahNya? Dan jikalau kita sendiri meremehkan waktu kita dengan Allah, bukankah kita sedang mengajar anak kita untuk meremehkan kita, bahkan meremehkan Allah yang telah menciptakan dirinya dan kita sebagai orang tuanya? Mungkin kita perlu sekali lagi diingatkan bahwa di dalam mendidik anak, kita sendiri dituntut untuk mendidik diri sendiri di hadapan Allah. Jikalau kita sendiri tidak merasa perlu menghormati Bapa di Surga dengan datang ke rumahNya tepat waktu, jangan berharap anak kita akan menghormati kita dan Allah sebagaimana seharusnya.
Waktu adalah harta yang berharga, bukan saja karena apa yang dapat kita capai dalam setiap detak detiknya, melainkan karena hakekat waktu itu sendiri adalah berharga. Allah adalah sang pencipta dan penganugerah waktu. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita mengembalikan waktu kita kepada Allah bagi kemuliaanNya. Janganlah terbiasa untuk datang terlambat ke rumah Tuhan. Lebih lagi, jangan ajarkan anak-anak atau memberi contoh pada orang lain untuk datang terlambat. Memang haruslah diakui bahwa waktu kadang kala menjadi masalah yang pelik bagi kita. Berbagai halangan waktu adalah lazim, seperti kemacetan lalu-lintas, tempat tinggal yang jauh, timbulnya keperluan mendesak yang mendadak, dan lain-lain. Namun semuanya itu tidak menjadikan kita bebas dari mempertanggungjawabkan waktu di hadapan Tuhan. Kita perlu berupaya untuk mengatasi apapun masalah waktu yang ada. Sadarilah senantiasa bahwa waktu adalah pemberian yang berharga dari Allah untuk kita. Jangan sia-siakan waktu saudara. Muliakanlah Dia dengan waktu saudara.
Catatan: Artikel ini saya selesaikan pada tanggal 16/09/1997, dan kemudian dipublikasikan dalam Majalah Gloria terbitan GKI Pinangsia.
Senin, Januari 14, 2008
WAKTU YANG BERHARGA
Diposting oleh
Josh
di
09.07
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar