Rabu, Januari 23, 2008

PELAYANAN

Selama saya berada di Amerika, saya belajar banyak hal. Menimba ilmu di college dan universitas, dan bergabung dengan GKI Lake Avenue, telah mengubah hidup saya dari segi pengetahuan, karakter, pandangan hidup, dan lain-lain. Salah satu hal yang telah saya pelajari, yang saya akan bagikan dalam ruang ini, adalah perihal pelayanan.

Pelayanan Sebagai Hak dan Kewajiban

Sering kali kita mengeluh ketika akan melayani. Ketika disuruh bekerja, kita berkata, "Ah, capek!" Ketika kita diminta ke sana atau ke mari, kita berkata, "Ah, itu terlalu jauh buat saya!" Ketika tugas diberikan, kita berkata, "Kenapa mesti saya? Kenapa tidak suruh orang lain saja?" Alasan-alasan lainnya, "Itu tidak praktis / ekonomis," atau "Hal itu 'kan tidak perlu dikerjakan di gereja ini," atau "Buang-buang waktu saja!" sering kita gunakan untuk mengelakkan pelayanan.

Tetapi setelah saya melayani sekian lama, saya rasa kita sebenarnya tidak patut untuk mengeluh dalam pelayanan. Saya sampai pada kesimpulan ini setelah saya menyadari siapa yang saya layani dan bagaimana saya seharusnya bersikap terhadap Dia.

Ketika kita melayani, kita melayani Allah. Siapakah Dia? Dia adalah pencipta semesta alam (Mz. 115:15), yang mahakuasa (Kej. 17:1), yang mahamulia (Yes. 6:3), mahabesar (Ul. 10:17), dan lain-lain karakteristik yang mengagumkan. Dia telah menciptakan segala jagad raya ini, yang sedemikian luasnya sehingga sampai saat ini tak ada seorang pun yang tahu di mana batas-batasnya. Dalam semesta yang luas ini, Allah juga menciptakan sebuah planet kecil, lalu di atasnya diciptakan manusia setelah Dia menciptakan alam yang indah. Tetapi manusia melakukan dosa, memberontak dari kasih dan pimpinan Tuhan, sehingga kita semua sebagai manusia juga berdosa dan tidak berlayak di hadapan Allah. Melalui penjelmaan Yesus Kristus dan kematianNya di atas kayu salib, kita dapat kembali menikmati hubungan yang baik dengan Allah, jikalau kita percaya kepada Yesus serta menerimaNya (Yoh. 3:16). Hal ini bukanlah karena kebaikan kita sendiri, sebab tidak ada kebaikan di dalam kita semua (Rom. 3: 10-18). Bahkan, setelah menerima Yesus, kita pun masih sering jatuh dalam dosa (I Yoh. 1:8). Tetapi semua ini adalah berkat kasih karunia Allah yang besar, yang merelakan AnakNya sendiri mati untuk menebus dosa-dosa kita. Di hadapan Allah kita sendiri menjijikkan, tetapi melalui darah Yesus Allah melihat kita sebagai anak-anakNya (Yoh. 1:12).

Bekerja untuk seseorang yang besar pasti adalah suatu kebanggaan. Misalnya, jikalau kita bisa bekerja langsung untuk Presiden Soeharto atau Presiden Bush, pasti kita merasa bangga. Tetapi pelayanan adalah bekerja untuk Allah yang dahsyat, yang melebihi kebesaran siapa pun di sejagad raya ini! Jadi, melayani
seharusnya juga menjadi kebanggaan bagi kita. Lebih dari itu, kita bukannya layak untuk bekerja bagi Tuhan, karena kita semua adalah pemberontak di hadapan Dia. Kita sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk melayani Dia. Tetapi Dia, karena kasihNya yang besar, rela mengusahakan supaya kita boleh layak kembali melalui karya Yesus. Kita seharusnya dihukum, tapi sekarang kita bisa melayani Allah. Jadi, melayani bukan lagi hanya kebanggaan, tetapi juga hak istimewa dan kehormatan (privilege), yaitu hak yang kita sendiri tidak layak untuk miliki, tetapi telah dikaruniakan oleh Allah. Lebih lagi, sebagai orang yang sudah dikasihani, pelayanan adalah suatu kewajiban juga.

Dengan kesadaran di atas, saya menjadi takut untuk tidak melayani. Ketika sedang malas bekerja, saya bukan saja merasa tidak enak, tetapi bahkan merasa bersalah. Saya pikir, kalau Allah begitu mengasihi saya sehingga Dia mau mengampuni saya, walaupun untuk itu Dia harus mengorbankan AnakNya, masakan sekarang saya menolak untuk melayani Dia? Bukankah itu pertanda saya kurang ajar dan tidak tahu berterima kasih? Juga, Yesus, yang adalah Raja dari segala raja dan yang empunya semesta alam ini, rela turun ke dalam dunia untuk mati buat saya. Dia tidak harus melakukan hal itu jikalau Dia tidak mau. Tetapi karena kasihNya, Dia rela meninggalkan segalanya dan menjelma menjadi manusia yang rendah, bahkan sampai mati bagi saya. Apakah saya lebih baik dan hebat dari Dia, sehingga saya layak menolak ketika diminta berkorban untuk melayani? Padahal saya belum pernah diminta untuk mengorbankan segala kekayaan dan mati dalam pelayanan. Berapa pun banyaknya pelayanan saya belum cukup untuk membalas kasih Allah yang begitu besar. Bagaimana bisa saya menolak untuk melayani?

Muda-mudi Dalam Pelayanan

Sebagai seorang muda, dan selama 6 tahun hidup di Amerika, saya mempunyai banyak kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang muda. Saya percaya bahwa masa muda adalah masa yang unik. Sayang masa ini hanya terjadi sekali dalam hidup ini. Sering saya merenungkan apa yang membuat usia muda begitu unik. Wajah yang mulus (kalau tidak jerawatan), pandangan mata yang kuat, stamina tubuh yang tinggi, kelincahan dan ketangkasan adalah sebagian kecil dari ciri-ciri banyak anak muda. Tentu saja saya tidak bisa melukiskan seorang muda dengan lengkap, dan tentu tidak semua orang muda mempunyai semua karakteristik yang dimiliki oleh orang-orang sebayanya. Tetapi saya rasa satu hal yang paling unik dalam masa muda adalah panjangnya masa depan. Dengan kata lain, kesempatan untuk melakukan banyak hal terbuka lebar di muka seorang muda. Ambillah contoh seseorang dengan usia 20 tahun. Jikalau kita puas dengan hidup 80 tahun, orang ini baru menghabiskan seperempat hidupnya. Sisa yang 60 tahun dapat dia isi dengan pelbagai kegiatan.

Jikalau saya berpikir tentang uniknya masa muda ini, saya teringat akan 2 jalan yang dapat ditempuh oleh banyak anak muda. Saya sangat menyadari banyaknya muda-mudi yang menghabiskan waktunya dengan obat-obat bius, kekerasan, musik-musik yang tidak baik, dan kegiatan-kegiatan duniawi lainnya. Hati saya terluka melihat hidup dan masa depan mereka yang masih begitu panjang itu hancur. Saya merasa demikian karena saya tahu ada jalan lain yang lebih indah bagi seorang muda, yaitu hidup melayani Allah. Bagi seseorang untuk diselamatkan oleh Allah sejak usia muda adalah suatu kemuliaan khusus. Dia mempunyai kesempatan yang sangat panjang untuk bekerja bagi Tuhan dan mempengaruhi dunia ke arah Dia. Sejak dari muda, ia sudah dikaruniakan hak dan kewajiban istiwewa untuk melayani Raja dari segala raja. Kesempatan ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang sudah lebih dewasa.

Oleh sebab itu, marilah kita yang masih muda turun ke ladang pelayanan. Jangan tinggalkan hak dan kewajiban kita, yaitu kehormatan besar untuk bekerja bagi Allah semesta alam. Pakailah tubuh dan kesehatan dan kekuatan untuk memajukan kerajaanNya. Pakailah semangat muda yang menyala-nyala itu untuk memenangkan dunia. Pakailah dan kembangkanlah talenta-talenta untuk melayani. Jangan lagi menunda, sebab setiap kali kita menunda, kesempatan kita untuk berbuah makin berkurang. Lihatlah masa depanmu yang masih begitu luas, dan berpikirlah bagaimana untuk memakai waktu yang berlimpah itu demi kemuliaan Tuhan. Kelak, di kala kita sudah menjadi tua dan menoleh ke belakang, ke sepanjang hidup kita, kita akan bersuka cita demi melihat bahwa hidup kita tidak sia-sia, dan nama Tuhan telah ditinggikan di masa muda kita.

Catatan: Artikel ini diselesaikan pada 24/06/1991. Itu adalah waktu-waktu akhir masa studi saya di Amerika Serikat. Artikel ini merupakan refleksi saya mengenai pelayanan berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya selama beberapa tahun di Amerika. Referensi Presiden Bush merujuk pada George Bush senior, presiden Amerika Serikat ke-41 yang sedang memerintah pada tahun 1991. Dan tentunya Presiden Soeharto masih memerintah di Indonesia waktu itu.

Tidak ada komentar: