Selasa, Januari 15, 2008

BELAJAR DARI FILM

Pendahuluan

Sebagai seorang yang dibesarkan dalam abad teknologi audio visual, menonton film merupakan sambilan yang lazim bagi saya, terutama dulu ketika masih lebih muda. Bagi saya menonton film adalah sebuah hiburan, mengisi waktu luang dengan berbagai cerita, cerita yang berlalu bersama dengan tulisan “Tamat” dan serombongan nama yang mengikutinya. Tetapi itu berubah ketika suatu kali kelompok muda-mudi di gereja yang saya hadiri waktu itu mengadakan acara diskusi mengenai film. Beberapa cuplikan film dimainkan, kemudian diadakan diskusi mengenai pro dan kon dari aktivitas menonton film. Seperti biasa, isi pembicaraan malam itu tidak ada yang saya ingat, kecuali satu pendapat yang dilontarkan oleh seorang pemuda. Ia berpendapat bahwa film kadang mencerminkan kenyataan. Kita boleh menilai bahwa film ini terlalu vulgar, film itu terlalu erotis, dan film yang lain lagi terlalu sadistis, tetapi mungkin cara penyampaian seperti itulah yang dinilai paling setia pada kenyataan yang ingin difilmkan, sedangkan cara-cara lain yang lebih “sopan” tidak akan efektif. Saya dengar pendapat itu, saya renungkan, dan malam itu pandangan saya tentang film berubah. Menonton film bagi saya tidak lagi hanya sekedar melihat gambar dan mengikuti cerita, melainkan juga mengamati bagaimana gambar itu dibuat dan bagaimana cerita itu disampaikan, menilai pendekatan yang diambil untuk memfilmkan satu cerita itu sehingga menghasilkan sentuhan tertentu pada pikiran dan perasaan saya. Saya mulai belajar untuk belajar dari film.

Film mengajar guru sekolah minggu

Film pada dasarnya adalah media untuk menyampaikan suatu ide atau informasi. Ide atau informasi itu mungkin bersumber dari sebuah buku, atau pengalaman nyata kehidupan, atau sepenggal sejarah, atau angan dan fantasi dalam benak seseorang. Ide atau informasi itu mungkin sesuatu yang sederhana yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk cerita dengan berbagai tokoh dan konteksnya, mungkin juga sesuatu yang rumit yang kemudian disederhanakan supaya dapat menjadi sebuah film yang tidak terlalu panjang dan tidak mengernyitkan dahi penontonnya. Yang pasti, ada bahan dasar yang ingin disampaikan, kemudian bahan ini diolah sehingga menjadi tontonan yang menarik dan berkesan.

Pembuat film yang profesional umumnya merupakan sebuah tim. Tim ini mencakup penulis naskah, sutradara, penata rias, penata kostum, penyunting, pengolah efek, musisi, para aktor dan aktris, dan seterusnya. Bahan dasar film pertama-tama diolah oleh penulis naskah, maka lahirlah plot-plot cerita dan dialog. Sutradara mengolah naskah tersebut dengan menvisualisasikan bagaimana gambar dari plot dan dialog itu diambil sehingga memberikan kesan tertentu pada penonton, maka lahirnya sketsa-sketsa adegan. Naskah dan sketsa itu dibahas bersama dalam tim, sehingga aktor dan aktris utama menyelami jiwa dari tokoh yang mereka perankan, bagian rias dan kostum dapat merancang penampilan yang memadai dan mendukung, tim musik dapat menggubah melodi yang cocok untuk berbagai adegan yang ada, pengolah efek dapat merancang perlengkapan untuk mewujudkan visi dari sutradara, dan seterusnya. Setelah semua persiapan selesai, adegan demi adegan mulai difilmkan. Sutradara tidak selalu puas dengan pengambilan gambar yang pertama kali, sehingga kerap sebuah adegan perlu diambil berkali-kali. Setelah ratusan kali pengambilan gambar, hasilnya dikirim ke ruang sunting dimana gambar-gambar itu diteliti bagian demi bagian, dipadu dengan efek audio dan visual dimana dibutuhkan, diselaraskan dengan dialog-dialog yang ada, berbagai bagian diedit maupun dibuang. Seluruh proses yang panjang dan rumit ini dikerjakan oleh tim pembuat film dengan satu tujuan, yaitu agar bahan dasar yang ingin disampaikan melalui film ini dapat disajikan secara menarik, sehingga para penonton terkesan dengan film yang dihasilkan. Tentu saja motivasinya adalah hasil jual tiket yang tinggi, tetapi motivasi ini diwujudkan dengan pengertian dan penjiwaan terhadap bahan dasar film, konsep penyampaian yang kreatif, pengolahan bahan yang matang, persiapan yang tuntas, serta kerja keras.

Sejauh konteks di atas, film dan cerita sekolah minggu tidak banyak berbeda. Keduanya berangkat dari sebuah bahan dasar yang ingin disampaikan pada suatu audiensi. Keduanya berupaya agar audiensinya tertarik dan terkesan dengan bahan dasar itu sebagaimana disampaikan. Tetapi mengapa pada umumnya kita mendapatkan bahwa film lebih menarik dari pada cerita sekolah minggu? Mungkin banyak guru sekolah minggu yang mempunyai masalah dengan komitmennya di dalam menjalankan tugas dan panggilan pelayanannya, sehingga tidak mampu mengerahkan sumber dayanya untuk mendalami kebenaran Firman Tuhan yang ia harus ajarkan, serta mempersiapkan bahan yang ada sehingga dapat disampaikan secara efektif. Penyebab yang lain, saya berpendapat, adalah rendahnya kreatifitas guru di dalam memilih pendekatan dan cara penyampaian cerita. Dalam hal ini, saya kira, guru sekolah minggu dapat berguru dari film.

Beberapa contoh

Peter Pan dan Hook
Kisah Peter Pan adalah dongeng tentang seorang anak yang menolak untuk tumbuh dewasa. Kisah ini difilmkan dalam Peter Pan (rilis 2003) sesuai dengan alur klasiknya, dimulai dari pertemuan Peter Pan dengan Wendy Darling, sampai dengan petualangan mereka di Neverland bersama The Lost Boys dan para bajak laut di bawah komando Kapten Hook. Setiap cerita tentang Peter Pan mempunyai tema yang sama yaitu pertentangan antara tetap menjadi seorang anak dan bertumbuh dewasa, dan tokoh-tokohnya mencakup Wendy, anak-anak dalam The Lost Boys, Kapten Hook dan bajak laut. Tetapi konsep cerita yang satu ini tidak selalu disampaikan secara klasik. Film Hook (1991) juga bercerita tentang Peter Pan, tetapi dimulai dengan Peter yang ternyata sudah bertumbuh dewasa, tenggelam dalam kesibukan orang dewasa sehingga lupa akan Neverland. Sampai suatu ketika anak-anaknya diculik oleh Kapten Hook, Peter kembali ke Neverland untuk menyelamatkan mereka, dan akhirnya ia kembali ingat akan kebahagiaan sebagai anak kecil sehingga ia kembali menjadi Peter Pan.
Kedua film ini bersumber dari bahan cerita yang persis sama, tetapi diolah secara berbeda sehingga memberikan kesan yang berbeda. Guru sekolah minggu sering menjumpai bahan pelajaran yang terus berulang, dan menyampaikannya dengan cara dan pendekatan yang selalu sama tidak akan menarik bagi murid. Tetapi tidak ada satu pendekatan yang baku yang harus diikuti untuk sebuah bahan, guru selalu dapat mengolah satu bahan secara kreatif sehingga bahan yang satu itu menjadi segar setiap kali disampaikan.

Irreversible dan Unfaithful
Irreversible (2002) adalah sebuah film Perancis yang kontroversial. Tema dasarnya adalah kita tidak dapat membalikkan waktu, apa yang bergulir dalam suatu kurun waktu tidak dapat digulir kembali, bagaimana pun juga tragisnya kejadian itu. Film ini bercerita tentang seorang wanita bernama Alex yang diperkosa, kemudian kekasihnya Marcus dan temannya Pierre pergi mencari orang yang bertanggung jawab, dan akhirnya membunuh orang itu. Yang unik adalah film ini memakai teknik reverse chronology, yaitu menceritakan bagian-bagian cerita secara terbalik. Film ini dibagi menjadi 13 bagian, masing-masing panjangnya sekitar 5 menit, dimulai dari perbincangan Marcus dengan seorang asing dalam sebuah sel tahanan, kemudian adegan ia dan Pierre membunuh orang yang menodai Alex, adegan mereka mencari-cari orang di berbagai jalan dan lorong kota, begitu seterusnya sampai tiba di awal cerita yang menggambarkan Marcus dan Alex sebagai sepasang kekasih, jadi bagian-bagian cerita ini disampaikan dari belakang ke depan. Perpindahan dari bagian ke bagian ditandai dengan gambar yang diambil kamera secara bergerak dan berputar-putar, menunjukkan keadaan kacau dan bingung, namun semakin mendekati akhir film (mendekati awal cerita) kadar pergerakan dan perputaran kamera itu dibuat semakin pelan dan tenang, menunjukkan perubahan nuansa dari tenang menjadi kacau seiring tragisnya peristiwa yang terjadi dalam perjalanan waktu, namun difilmkan secara terbalik. Bandingkan dengan film Unfaithful (2002), yang bercerita tentang perselingkuhan seorang istri (Connie), sampai akhirnya diketahui oleh suaminya (Ed), yang kemudian secara tidak sengaja membunuh simpanan istrinya itu. Perselingkuhan itu dimulai ketika Connie terluka dan seorang asing menawarkan bantuan untuk membersihkan lukanya di apartemennya, ketika itu melintas sebuah taksi namun Connie mengabaikannya dan memilih untuk menerima tawaran itu. Dalam salah satu adegan ditunjukkan penyesalan Connie, ia ingat kembali taksi yang lewat itu, kalau saja waktu itu ia memanggil taksi itu maka tragedi keluarga ini tidak akan terjadi, kemudian adegan kembali kepada Connie yang sedang menyesal.
Film Irreversible dan Unfaithful mengandung pesan yang sama, yaitu apa yang sudah terjadi tidak dapat diputar balik, namun cara penyampaian yang berbeda membekaskan kesan yang berbeda pada penonton. Unfaithful bercerita secara linear dan menyelipkan pesan itu dalam penyesalan Connie sesuai kronologi ceritanya, sedangkan Irreversible bercerita secara terbalik sehingga memberikan penekanan pada produk waktu yang tidak dapat diputar balik itu, kemudian secara bertahap menyusur asal mulanya secara kronologis. Teknik kamera antar bagian menggarisbawahi perasaan galau yang dibawa oleh waktu. Pesan yang sama, disampaikan dengan cara yang berbeda, memberikan kesan yang berbeda. Guru sekolah minggu perlu mengembangkan kreatifitas dan teknik mengajarnya agar mampu menoreh kesan yang dalam pada pikiran dan hati murid.

Phantom of the Opera, Nang Nak dan Amadeus
Phantom of the Opera, karya Geston Leroux yang digubah menjadi opera oleh Andrew Lloyd Webber dan Charles Hart, bercerita tentang seorang cacat namun jenius musik yang menghantui gedung Opera Populaire di Paris, serta persaingannya dengan seorang bernama Raoul untuk mendapatkan cinta seorang penyanyi wanita bernama Christine. Versi film yang dirilis tahun 2004 ini pada dasarnya mengikuti alur cerita dalam versi operanya, tetapi diselipkan adegan-adegan masa kini dengan Raoul yang sudah tua, pergi ke lelang yang diadakan di gedung Opera Populaire dan membeli sebuah kotak musik, yang kemudian ia taruh di makam Christine istrinya. Film ini menggambarkan kejadian masa kini dan masa lalu secara menarik, yaitu dengan memakai warna kekuning-kuningan (seperti foto tua) untuk adegan masa kini, dan warna penuh untuk adegan masa lalu. Dengan demikian cerita masa lalu tentang tokoh the Phantom, yang memang merupakan cerita inti film ini, menjadi dominan. Bandingkan dengan film Nang Nak (1999), sebuah film Thailand tentang seorang istri bernama Nang Nak yang sedemikian setia pada suaminya, Mak, yang dikirim berperang meninggalkannya dalam keadaan hamil. Ketika Nang Nak meninggal dalam persalinan, ia kembali lagi sebagai hantu menunggu sampai Mak pulang. Salah satu adegannya menggambarkan seorang dukun yang berusaha memukul pecah tengkorak Nang Nak agar dapat mengusir hantunya. Setiap kali tengkorak itu dipukul, ditayangkan ingatan dan kenangan Nang Nak. Terbalik dari Phantom of the Opera, film ini memakai warna kekuning-kuningan untuk gambar-gambar kenangan itu, sedangkan untuk semua bagian film yang lain dipakai warna biasa. Bandingkan lagi dengan film Amadeus (1984), yang mengisahkan kehidupan komposer Wolfgang Amadeus Mozart sebagaimana diceritakan oleh koleganya Antonio Salieri. Film ini juga bolak-balik antara adegan-adegan Salieri yang sedang bercerita di masa kini, dengan adegan-adegan Mozart di masa lalu. Namun warna yang dipakai untuk kedua macam adegan ini sama saja dan tidak berubah.
Ketiga film ini sama-sama menampilkan kenangan dan masa lalu, tetapi memakai pengaturan warna yang berbeda, sehingga permainan warna ini mendukung cerita utama yang ingin disampaikan, dan menghasilkan kesan yang terbaik bagi para penontonnya. Guru sekolah minggu perlu dapat menentukan hal-hal yang penting dalam sebuah bahan pelajaran, dan mampu secara kreatif menghasilkan penekanan pada hal-hal itu, sehingga murid yang mendengarkan cerita dapat menyerap inti penting yang ingin guru sampaikan.

Penutup

Film bukanlah guru yang terbaik bagi guru sekolah minggu, cara penyampaian yang dipakai dan pesan yang disampaikan dalam film tidak selalu baik dan sesuai dengan iman Kristen. Yesus adalah satu-satunya guru agung pada siapa setiap guru sekolah minggu harus berguru, dan Firman Allah adalah satu-satunya kebenaran di bawah mana setiap guru sekolah minggu harus tunduk dan ajarkan. Tetapi film bisa mengandung unsur kreatifitas yang tinggi di dalam menyampaikan sebuah cerita, dan dalam aspek ini, dalam pandangan dan pendapat saya, guru dapat belajar dari film. Saya percaya jikalau guru mau belajar menonton film tidak hanya untuk hiburan, tetapi dengan jeli memperhatikan pendekatan dan cara penyampaian yang dipakai dalam pembuatan film itu, maka film dapat membuka wawasan kreatifitas bagi guru. Setidaknya guru dapat melihat contoh-contoh bagaimana sebuah cerita diolah menjadi sedemikian menarik dan segar. Selebihnya kembali pada komitmen guru untuk mengembangkan diri dan kreatifitasnya, supaya bisa menjadi lebih efektif di dalam mengajarkan kebenaran Allah pada murid-muridnya.

Jadi, marilah kita mulai belajar dari film, serta mengembangkan kreatifitas mengajar kita dan memperteguh iman kita pada Firman Tuhan. Kiranya Tuhan berkenan memakai dan mengembangkan pelayanan kita. Selamat melayani!

Catatan: Artikel ini adalah pendahuluan untuk diskusi film yang diadakan bersama guru-guru sekolah minggu GKI Pinangsia, dirampungkan pada tanggal 19/10/2005.

Tidak ada komentar: