Rabu, Januari 16, 2008

ANAK MUDA DALAM KRISIS

Perhatian: Artikel ini mengandung diskusi yang mungkin tidak cocok untuk dibaca oleh anak kecil.

Kita sedang hidup dalam situasi dunia yang aneh. Di Amerika, dan juga di Indonesia, dalam zaman yang begitu materialistis, kita sering kali menilai segala sesuatu dengan materi. Pekerjaan, uang, dan status sering kali mengambil tempat yang cukup tinggi dalam kehidupan kita, bahkan mungkin terlalu tinggi. Waktu banyak tersita untuk bekerja, sekolah, dan lain-lain dengan tujuan memajukan kualitas diri dan masa depan. Banyak orang tua harus bekerja kedua-duanya, meninggalkan anaknya dengan seorang pengawas sewaan. Mungkin semua ini bukan kesalahan kita. Mungkin kita terpaksa hidup seperti ini karena tekanan hidup, misalnya tekanan ekonomi. Memang sulit untuk hidup dalam dunia di mana biaya hidup terus meningkat.
Tetapi, sementara kita sibuk, sering kali kita tidak menyadari adanya peperangan yang sengit di sekitar kita. Yang dimaksud bukanlah peperangan di Timur Tengah atau sengketa politik di suatu daerah. Peperangan yang dimaksud adalah peperangan atas jiwa dan hidup anak-anak muda. Di tengah arus kehidupan ini, acap kali kita lalai untuk memperhatikan anak-anak, baik itu anak sendiri, atau teman-teman kita yang lebih muda, atau anak-anak secara umum. Padahal, sekarang ini pertumbuhan jiwa dan rohani mereka sedang berada dalam masa krisis.

Suka atau tidak suka, jikalau kita rela mengambil waktu untuk memperhatikan faktor-faktor yang sekarang sedang mempengaruhi anak muda, kita akan melihat ada banyak hal yang memprihatinkan dan berbahaya. Generasi muda tidak sedang dibina ke arah yang positif, melainkan ke arah yang negatif. Di sekolah umum, di mana pengetahuan seorang anak diperkembangkan dan karakter dibentuk, pengaruh buruk datang dalam berbagai bentuk. Sementara hal-hal yang berbau keagamaan dilarang untuk didiskusikan, anak-anak diajarkan bahwa evolusi adalah asal kehidupan. Teori ini disodorkan sebagai satu-satunya penjelasan tentang keberadaan makhluk hidup, padahal sampai sekarang teori ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Pandangan Alkitab ditolak karena berbau agama. Selain itu, anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berbau New Age, seperti misalnya meditasi ala agama Timur (misalnya, Hindu). Unsur-unsur gaib / sihir juga masuk ke dalam sekolah umum.

Dari segi pendidikan moral, di banyak sekolah umum anak-anak diajarkan bahwa homoseksualitas adalah corak hidup yang sah, bahwa kebiasaan ini adalah normal dan patut untuk dipertimbangkan sebagai cara hidup mereka di kemudian hari. Di tengah ramainya masalah AIDS dan akibat-akibat buruk lainnya dari persetubuhan yang bebas, anak-anak dihimbau untuk berhati-hati, tetapi tidak diajarkan untuk menghindari persetubuhan sebelum pernikahan. Dengan kata lain, anak-anak dipersilahkan untuk bergaul dengan bebas, asal berhati-hati! Bahkan, persetubuhan sebelum nikah digambarkan sebagai kegiatan yang normal, sedangkan menjaga keperawanan tidak diharuskan. Satu demi satu nilai-nilai Kristen diruntuhkan, dan nilai-nilai bejat disuguhkan sebagai pilihan hidup yang sah.

Kebobrokan moral yang mempengaruhi anak muda juga terdapat dalam musik masa kini. Dari musik pop sampai rock dan heavy metal, syair-syair moderen mengandung ide-ide tidak bermoral, ungkapan-ungkapan yang kotor, kekerasan (violence), dan sebagainya. Bagi anak-anak yang suka pada musik, penyanyi-penyanyi idola mereka mempengaruhi kehidupan mereka. Sayangnya, banyak dari penyanyi-penyanyi ini memberikan teladan yang buruk dari segi moral dan lain-lain. Jim Morrison (almarhum), misalnya, melakukan kegiatan masturbasi secara terbuka dalam konser-konsernya. Dalam hidupnya dia juga memuja-muja kematian, terlibat dalam kegiatan-kegiatan gaib, melawan badan / oknum yang berwenang, dan melakukan pergaulan bebas. Madonna, seorang biduanita yang tenar, juga meniru kegiatan masturbasi di atas panggung. Videonya menggambarkan adegan-adegan homoseks dan lesbian, serta kegiatan-kegiatan tunasusila lainnya. Baik dari sudut syair maupun teladan hidup banyak penyanyi-penyanyi idola, banyak musik moderen menyodorkan nilai-nilai moral yang tidak Alkitabiah kepada anak-anak muda. Hal ini dapat merusak pikiran dan cara hidup mereka, sekarang dan di kemudian hari.

Lebih dari itu, komik-komik yang sekarang beredar banyak mengandung hal-hal yang merusak. Sebagai bacaan anak antara usia 8 sampai 18 tahun, komik-komik sudah memuat gambar-gambar yang sangat eksplisit tentang persetubuhan, pemerkosaan, ketelanjangan, dan lain-lain. Tokoh utama sering digambarkan sedang menyeleweng dengan pasangan hidup tokoh lain, melakukan perbuatan tunasusila, atau berhubungan dengan ilmu gaib. Kegiatan-kegiatan seks yang tidak normal, seperti persetubuhan dengan hewan, orang mati, pasangan sejenis, dan sebagainya, dilukiskan dengan eksplisit tanpa peringatan bahwa semua ini tidak normal. Hal-hal yang berhubungan dengan keKristenan dan nilai-nilai Alkitab digambarkan dengan konotasi negatif, seperti sesuatu yang kuno, tidak berharga, dan pantas untuk diinjak-injak. Bahasa yang dipakai juga ditaburi dengan ungkapan-ungkapan yang tidak senonoh. Bagaimana anak-anak dapat bertumbuh dengan baik jikalau apa yang mereka baca adalah sampah semacam ini?

Televisi, yang adalah sumber hiburan yang paling mudah terjangkau, juga banyak mempengaruhi anak-anak secara negatif. Para ahli memperhitungkan bahwa rata-rata anak berusia 6 sampai 18 tahun menonton televisi selama 15.000 sampai 16.000 jam sedangkan hanya 13.000 jam mereka berada di sekolah. Celakanya, banyak program televisi sekarang menunjukkan adegan-adegan yang tidak bermoral, kekerasan, dan sebagainya, yang tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Bahkan, film kartun, yang kelihatannya tidak berbahaya, sekarang banyak mengandung unsur-unsur gaib / sihir, prinsip-prinsip New Age atau kepercayaan lain yang tidak Alkitabiah, kekerasan, materialisme, dan sebagainya. Mengingat banyaknya waktu yang dihabiskan oleh seorang anak di muka televisi, hal-hal yang buruk ini akan merusak jiwa anak itu.

Ke manakah arah pertumbuhan anak-anak muda sekarang? Sementara kita sibuk dengan berbagai hal, adakah kita memperhatikan generasi yang akan datang? Contoh-contoh di atas hanya menyinggung sedikit dari masalah dan bahaya yang sudah meluas di dalam usaha membesarkan seorang anak. Masih banyak lagi faktor-faktor yang sedang merusak anak muda, misalnya pemakaian obat bius, komplotan anak muda (gang) dan perbuatan-perbuatan kriminal yang bertalian dengan mereka, anak-anak yang lari dari keluarga karena diperlakukan dengan tidak baik (di jalanan mereka kelaparan, diperkosa, menjual diri, atau dipakai di dalam usaha pornografi), dan lain-lain. Di banyak sekolah kita dapat melihat goresan dan tulisan / gambar di tembok, meja, atau bangku yang menyatakan keadaan anak sekolah sekarang, di mana pergaulan bebas dianggap biasa dan menyenangkan, pemakaian obat bius didorong, dan sebagainya. Sudah waktunya kita meneliti perkembangan anak muda. Jikalau kita lalai dan menunda, apalah jadinya generasi yang akan datang? Orang-orang tua perlu memperhatikan anak-anaknya dengan lebih serius. Mereka perlu mengawasi pelajaran-pelajaran yang anak-anaknya dapatkan di sekolah, buku-buku yang dibaca, acara televisi yang ditonton, dan lain-lain. Muda-mudi yang sudah dewasa dan kuat dalam iman Kristen harus memperhatikan anak-anak lain yang lebih muda. Kita harus meningkatkan kesadaran kita akan pertumbuhan anak muda, mendidik diri kita akan cara untuk membasmi pengaruh-pengaruh negatif, dan bertindak. Kita harus hersatu untuk menyelamatkan generasi yang akan datang dari genggaman Iblis yang merusak masa depan dan menghalangi keselamatan di dalam Yesus Kristus. Sekarang bukan lagi waktu untuk menunda, kecuali kalau kita rela melihat masa depan anak-anak muda hancur.

Bibliografi
Dobson, James, and Gary L. Bauer. Children at Risk. Dallas: Word Publishing, 1990.
Fulce, John. Seduction of the Innocent Revisited. Louisiana: Huntington House Publishers, 1990. Phillips, Phil. Saturday Morning Mind Control. Nashville: Oliver Nelson, 1991.

Catatan: Artikel ini diselesaikan pada 19/06/1991. Ditulis di Amerika, dalam konteks Amerika, itulah sebabnya ada banyak rujukan yang relevan di Amerika tetapi mungkin tidak relevan di Indonesia (contoh agama vs evolusi di sekolah umum, dll). Di dalam proses penulisan, selain membaca buku, saya juga menyempatkan diri meninjau ke beberapa sekolah umum di Los Angeles untuk memperhatikan grafiti maupun goresan yang tersebar.

Tidak ada komentar: