Tokoh inti dalam iman Kristen adalah Yesus Kristus. Seluruh Alkitab, dari kitab Kejadian di Perjanjian Lama sampai kitab Wahyu di Perjanjian Baru, semua menceritakan tentang rencana keselamatan Allah pada manusia yang berdosa, dan di dalamnya menunjuk kepada kedatangan seorang Mesias. Nubuatan tersebut digenapi dalam Perjanjian Baru oleh kedatangan Yesus, dan selanjutnya penulis-penulis Perjanjian Baru menjelaskan dan menerapkan tokoh ini bagi segenap anak Allah.
Tokoh Yesus Kristus sendiri merupakan tokoh yang unik. Bukan saja karena karya-karya humanitarianNya seperti kasihNya pada rakyat kecil dan mereka yang sakit dan menderita; ataupun karena kuasaNya yang mengagumkan sehingga dapat menyembuhkan segala penyakit, bahkan memberi makan lima ribu lebih orang hanya dengan segenggam makanan, serta berjalan di atas air; ataupun karena nasibNya yang malang, yang walaupun dipuja dan diikuti banyak orang namun akhirnya ditinggalkan sendiri untuk mati sebagai seorang kriminal. Lebih dari itu semua, Yesus adalah tokoh yang unik karena Alkitab menyaksikan bahwa Ia adalah Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:1,14).
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa Allah perlu dan mau menjadi manusia? Mungkin hal-hal berikut dapat membantu kita menemukan jawabnya.
- Kita sadari bahwa sebagai manusia kemampuan pengetahuan kita sangatlah terbatas. Begitu banyak hal dalam dunia ini yang sulit untuk kita mengerti, baik hal-hal yang bersifat fisik (cahaya, elektron, tata surya, gravitasi), hal-hal kehidupan (sifat-sifat manusia, berbagai penyakit), serta konsep-konsep abstrak (cinta, keindahan). Salah satu cara yang efektif untuk mengerti adalah dengan melihat dan mempelajari fenomena dari hal-hal tersebut. Kita mengerti gaya gravitasi dengan memperhatikan efeknya pada benda, mengerti manusia melalui reaksinya pada situasi tertentu, mengerti cinta melalui perasaan dalam hati. Allah mengetahui keterbatasan manusia ciptaanNya. Oleh sebab itulah, untuk memperkenalkan diriNya secara efektif, Allah memberikan contoh yang konkrit dari diriNya. Bukan lagi dengan suaraNya ataupun perbuatan-perbuatanNya, melainkan dengan menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus (Ibr 1:1-2). Oleh sebab itulah maka Rasul Yohanes dapat memberikan kesaksian bahwa Yesus telah menyatakan Allah (Yoh 1:18) setelah ia melihat kemuliaanNya dalam rupa manusia (Yoh 1:14), setelah ia mendengar, melihat, menyaksikan dan merabaNya (I Yoh 1:1-2).
- Allah juga menjadi manusia agar Ia dapat menanggung hukuman dosa yang diperbuat manusia. Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah jatuh dalam dosa (Rom 3:23) dan dengan demikian berada di bawah murka dan hukuman Allah (Rom 2:5-6). Tetapi Allah yang maha suci dan maha adil ternyata juga adalah Allah yang maha kasih, dan di dalam kasihNya ini Ia rela menanggung hukuman yang diperuntukkan bagi manusia berdosa itu. Oleh sebab manusia yang telah berdosa, maka manusialah yang harus menanggung hukumannya. Dan kalaupun hukuman itu hendak ditanggungkan, yang menanggung hukuman itu selayaknya juga adalah seorang manusia. Oleh sebab itulah Allah yang ingin menanggung hukuman dosa manusia harus menjadi manusia, karena sebagai manusia barulah Ia dapat secara adil dan sah menanggung hukuman tersebut.
- Dengan menjadi manusia, Allah dapat dengan sepenuhnya merasakan dan menghayati pergumulan dan penderitaan manusia. Kini kita boleh yakin bahwa Allah bukanlah sang Pencipta yang jauh dari kita, menonton kehidupan kita tanpa melibatkan diri dalam pergumulan kita sehari-hari. Allah dapat mengerti kita, dan ketika dalam doa kita memaparkan segala keluh kesah, Ia dapat bersimpati pada kita, karena Ia juga manusia. Selain itu, dari hidupNya di dunia ini kita pun dapat belajar bagaimana untuk hidup berkemenangan di tengah segala pencobaan. Sebagai manusia, Yesus juga pernah dicobai sebagaimana kita semua, namun Ia telah mengalahkan semuanya (Ibr 4:15). HidupNya yang berkemenangan dapat menjadi teladan bagi kita.
Apa yang dilakukan Allah dalam inkarnasi dengan menjadi manusia merupakan pernyataan kasih yang besar. Sebenarnya Allah tidak perlu menyatakan diriNya pada manusia, tidak perlu memikirkan nasib manusia yang ada di bawah hukumanNya, tidak perlu peduli pada penderitaan dan pergumulan manusia sehari-hari, namun kenyataannya yang Ia lakukan dalam inkarnasi justru adalah sebaliknya. Demi manusia ciptaanNya, yang sudah memberontak terhadap diriNya, Ia rela merendahkan diri menjadi manusia, bahkan sampai menderita dan mati di kayu salib. Karena apakah semua ini? Hanya karena kasihNya pada manusia. Dengan demikian, tokoh utama dalam iman Kristen, yaitu Yesus Kristus, merupakan bukti cinta kasih yang luar biasa dari Allah kepada manusia, kekekalan yang menjangkau ke dalam kefanaan, Allah yang menjadi manusia.
Catatan: Artikel ini diselesaikan pada 14/09/1997. Pernah diterbitkan di majalah RP3M.
1 komentar:
Penjelasannya kurang lengkap. Jawabannya harus bisa menjawab pertanyaan:
Mengapa Allah tidak mengampuni saja dan menghapus dosa manusia lalu mengembalikan mereka ke dalam hidup kekal? Simple bukan?
Nah jawablah! Inilah alasan utama kenapa Allah menjadi manusia untuk menebus dosa manusia.
Posting Komentar