Jumat, Januari 25, 2008

SIAPAKAH FOKUS HIDUP KITA?

Kita yang pernah memakai kamera untuk memotret sesuatu tentu tahu apa dan betapa pentingnya fokus yang tepat. Jikalau kamera kita difokuskan dengan tepat pada obyek yang sedang difoto, tentu hasilnya akan jelas dan tajam. Di pihak lain, jikalau kita lalai mengatur fokus kamera kita, hasil fotonya akan menjadi kabur. Kita semua tentu ingin mendapatkan hasil yang jelas dan tajam, sehingga mengatur fokus menjadi bagian penting di dalam kita memakai kamera.

Di dalam kehidupan kita, fokus juga merupakan hal yang penting. Tentu saja kita bukan kamera; fungsi dan tujuan hidup kita tidaklah sekedar untuk mengabadikan sesuatu seperti halnya sebuah kamera. Namun di dalam kehidupan, kita perlu mempunyai suatu obyek yang jelas dan pasti sebagai sumber dan pangkalan dari hidup, pada mana segala yang kita lakukan dan alami mempunyai titik referensi. Inilah yang dimaksudkan sebagai fokus kehidupan. Pada dasarnya, semua orang hanya mempunyai dua alternatif sebagai fokus, yaitu Allah atau selain Allah. Pilihan yang kedua mencakup segala hal yang bukan Allah, misalnya diri sendiri, Iblis, uang, dan lain-lain. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah yang menjadi fokus hidup kita?

Di dalam Injil tercatat contoh dari kehidupan orang-orang yang tidak berfokus pada Allah. Misalnya, kelompok orang Farisi. Walaupun mereka dikenal oleh masyarakat Yahudi sebagai pemimpin-pemimpin agama, namun kehidupan mereka sangat dicela oleh Tuhan Yesus. Yesus sering memanggil mereka "munafik" (Mat. 23), yang membawa gambaran seperti seorang aktor memakai topeng, sehingga penonton hanya melihat gambaran topeng itu tanpa mengenal wajah si aktor yang sesungguhnya. Salah satu penyebab mereka dijuluki "munafik" oleh Yesus adalah karena walaupun mereka kelihatan sangat rohaniah, tetapi sebenarnya kegiatan-kegiatan agama yang mereka lakukan adalah untuk kebesaran diri sendiri, bukan untuk Allah (Mat. 23:5-7). Hal ini menyatakan bahwa hidup mereka berfokus pada diri sendiri, bukan pada Allah.

Apakah yang seharusnya menjadi fokus hidup kita? Tuhan Yesus menghimbau, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya" (Mat. 6:33), di mana Kerajaan Allah adalah kedaulatan pemerintahan Allah dalam hidup kita. Di bagian-bagian lain Alkitab juga menyatakan perlunya kita memusatkan hidup kita pada Allah (Mat. 6:1,4,24; Filipi 2:5). Jadi, hidup kita haruslah difokuskan pada Allah, dan bukan pada apa pun juga yang lainnya. Hal ini berarti segala yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan harus mempunyai pangkalan pada Allah. Segalanya harus dievaluasi menurut standar Allah, sesuai dengan kehendak dan hakekat Allah, dan dilakukan untuk kemuliaan Allah (I Pet. 4:11; Kol. 3:17). Tidak ada hal lain yang boleh mempengaruhi hidup kita lebih dari pada Allah.

Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mengevaluasi hidup kita. Sudahkah kita menaruh Allah pada titik pusat hidup kita? Apakah kita hidup untuk Allah, atau untuk diri sendiri? Apakah kita bekerja dan belajar sekedar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih mantap (uang, status) ataukah untuk membawa kemuliaan kepada Allah? Di dalam kita melayani di gereja, apakah itu untuk Allah, ataukah hanya sekedar untuk mengisi waktu, atau ingin dikenal sebagai seorang yang rohaniah dan aktif melayani? Di dalam kita mengalami kesulitan hidup, apakah kita berharap kepada Allah ataukah kalang-kabut melihat keadaan hidup kita? Banyak dari antara kita yang mungkin sedang bergumul dengan kesulitan finansil, atau sedang mencari pekerjaan, atau sedang mengalami krisis di dalam suatu relasi dengan teman atau keluarga, dan lain-lain. Semua kemelut hidup ini bagaikan angin topan yang mengancam akan menenggelamkan kita. Tetapi ketika Petrus memandang Yesus, dia dapat berjalan di atas gelombang yang berkecamuk. Segera setelah dia mengalihkan pandangannya dari Yesus kepada angin ribut itu, dia tenggelam (Mat. 14:22-33). Adakah fokus kita terpaut pada Allah ketika topan ganas melanda hidup kita dalam bentuk krisis dan kesulitan?

Memfokuskan hidup pada Allah lebih mudah dikatakan dan dituliskan dari pada dilaksanakan. Hal ini karena Allah itu Roh (Yoh. 4:24), sehingga Dia tidak kelihatan. Sedangkan kita hidup di dunia materi yang serba kelihatan, sehingga apa yang tidak kelihatan sering kali kita abaikan. Bagaimana kita dapat dengan mudah menjadikan sesuatu yang begitu abstrak sebagai pusat hidup di dunia yang serba konkrit ini? Tentu saja sangat sulit. Lagipula, Allah tidak lagi bertindak seperti di masa Perjanjian Lama, di mana Dia menyatakan kehadiranNya dengan tiang awan dan tiang api (Kel. 13:21), sangkakala dan guruh (Kel. 19:16-19), dan hal-hal lain yang begitu nyata. Meskipun demikian, kita harus dengan iman percaya bahwa Allah itu ada dan dekat dengan kita (Maz. 139:1-12; Ibr. 13:5). Dan dengan kekuatan Roh Kudus kita harus hidup berpusat pada Dia, sebagaimana seharusnya. Marilah kita mulai hidup sebagai orang Kristen sejati, dengan Allah berada di pusat. Amin.

Catatan: Tanggal penyelesaian artikel tidak tercatat.

1 komentar:

Nindyo Sasongko mengatakan...

Silakan, Pak Josh! Senang sekali bila Bapak me-link blog saya.

Saya seorang Youth Minister, di GKMI Kudus, kota kecil di Jawa Tengah, no. hp. saya 0852.2524.5665

Kiranya Tuhan memakai pelayanan kita bersama, demi kehadiran Kerajaan-Nya.