Senin, Januari 21, 2008

SIAPAKAH YESUS ITU?

Suatu ketika Yesus bertanya pada murid-muridNya, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15). Pertanyaan yang sepele bagi banyak orang, bahkan mungkin termasuk pertanyaan yang bodoh. Tetapi dalam kasus diri Yesus, ternyata pertanyaan sederhana ini menjadi suatu hal yang besar dan serius. Pada masa hidup Yesus sendiri sudah terdengar banyak pendapat tentang diriNya; ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia atau nabi-nabi lainnya yang kembali dari kematian. Petrus menjawab, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16), suatu jawaban yang melahirkan pujian dari mulut Yesus. Dan semenjak hari pertanyaan tersebut dilontarkan, sudah banyak orang yang mencoba menjawabnya, baik dari kalangan masyarakat biasa sampai para pemikir kaliber dunia. Dalam iman Kristen, pertanyaan ini menjadi salah satu penentu bagaimana seseorang akan hidup sesudah kematian fisiknya. Ayat terkenal Yohanes 3:16 menyatakan kasih Allah yang sedemikian besar, "sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal." Dengan demikian Alkitab menghubungkan pengenalan kita tentang Yesus sebagai Anak Allah dan iman kita kepadaNya dengan hidup yang kekal.

Pertanyaan "siapakah Yesus itu" tidak hanya mempertanyakan identitas seorang tokoh sejarah Yahudi yang hidup sekitar 2000 tahun yang lalu, melainkan juga mempermasalahkan hakekatNya. Pertanyaan ini berkembang dari mempertanyakan "siapa" Yesus menjadi "apakah" Yesus itu, dan penekanan yang terakhir inilah yang membuat pertanyaan sederhana ini menjadi rumit. Dari lembar-lembar Alkitab kita dapat melihat gambaran Yesus sebagai Allah dan manusia. Pertimbangkanlah butir-butir berikut ini:

  1. Yesus mengenakan nama-nama yang biasa dipakai untuk Allah pada diriNya sendiri. Misalnya, dalam Yohanes 8:58, Yesus menyebut diriNya dengan sebutan ego eimi. Istilah tersebut merupakan terjemahan Yunani dari nama Allah dalam Keluaran 3:13-14, yaitu "Akulah Aku." Dengan menyebut diriNya ego eimi berarti Yesus memanggil diriNya dengan nama Allah sendiri.
  2. Yesus menerima reaksi yang hanya layak diberikan pada Allah. Misalnya, Ia menerima sembah dari orang buta yang telah Ia sembuhkan (Yoh 9:38), dan juga dari murid-muridNya (Mat 14:33, 28:9).
  3. Penulis-penulis Perjanjian Baru tidak ragu-ragu menyebut Yesus sebagai Allah. Dua contoh saja: Yohanes menyatakan kekekalanNya dan menyamakanNya dengan Allah (Yoh 1:1), dan Paulus menulis tentang kesetaraan Yesus dengan Allah (Fil 2:6).
  4. Bagian-bagian lain dari Alkitab menggambarkan sifat-sifat Yesus yang manusiawi. Seperti manusia lainnya, Yesus dilahirkan dari rahim seorang wanita (Luk 2:6-7), bertumbuh dari kecil menjadi dewasa (Luk 2:40), bahkan sampai mati (Mat 27:50). Dalam hari-hariNya Ia merasa lapar (Mat 21:18), letih (Yoh 4:6), butuh tidur (Mrk 4:38), sedih dan menangis (Yoh 11:33-35), dan seterusnya.

Dilengkapi dengan banyak ayat-ayat lainnya lagi, kita dapat melihat ajaran Alkitab bahwa Yesus adalah Allah dan pada saat yang bersamaan Yesus juga adalah manusia. Pernyataan yang diterbitkan oleh Konsili Chalcedon di tahun 451 telah merumuskan kesaksian Alkitab tentang hakekat Yesus ke dalam satu kalimat, bahwa Yesus "made known in two natures without confusion, without change, without division, without separation, the difference of the natures being by no means removed because of the union, but the property of each nature being preserved and coalescing in one prosopon and one hupostasis -- not parted or divided into two prosopa, ………….." Dengan pernyataan tersebut teguhlah iman gereja bahwa Yesus mempunyai dua hakekat; Ia adalah Allah dan manusia. Dengan pernyataan tersebut jelaslah juga bahwa gereja telah menerima suatu doktrin yang bersifat paradoks, dan dengan demikian mengakui bahwa identitas Yesus merupakan suatu misteri.

Misteri hakekat Yesus yang ganda inilah yang terus menimbulkan permasalahan dalam iman Kristen, baik di dalam maupun di luar gereja. Sejarah gereja mencatat berbagai upaya untuk mengharmoniskan paradoks tersebut, yang sayangnya banyak yang akhirnya menolak hakekat ganda yang diajarkan Alkitab. Misalnya, suatu kelompok yang dikenal dengan nama Ebionit (tahun 107) mengajarkan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang dikaruniai atau dipenuhi Roh Kudus untuk menjalankan misi Allah; kelompok Docetis (70-170) mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah dan sama sekali tidak menjadi manusia, sedangkan apa yang tampak manusiawi dari Yesus hanyalah ilusi belaka; ajaran Arianisme (325) mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah yang tertinggi dan termulia yang menjelma menjadi manusia, sehingga sebagai suatu ciptaan tentunya Yesus bukanlah Allah sendiri. Masih banyak lagi jejak pergumulan untuk mengerti misteri hakekat ganda dari Yesus. Bahkan sampai di masa sekarang pun upaya tersebut masih terlihat, misalnya aliran Saksi Yehovah yang mengembangkan paham Arianisme dengan mengajarkan bahwa Yesus adalah jelmaan Malaikat Mikhael. Belum lagi kritik dan cemooh dari luar gereja, serta dunia moderen umumnya dengan standar rasionalistisnya. Semua ini meneguhkan kenyataan bahwa konsep hakekat ganda Yesus merupakan suatu paradoks dan misteri yang tidak terpecahkan, sehingga sulit diterima.

Apa sebenarnya yang menjadi inti misteri Yesus ini? Setidaknya kita dapat memikirkan dua hal. Pertama, kehadiran dua kelompok sifat dan kualitas dalam satu diri Yesus menimbulkan masalah logika. Dengan mengatakan Yesus adalah Allah dan manusia, kita mau tidak mau menerima paradoks sifat-sifat yang bertentangan dalam diri Yesus. Sebagai Allah Ia mahakuasa, mahatahu, kekal, dan seterusnya; tetapi sebagai manusia Ia lemah, perlu belajar, dapat mati, dan seterusnya. Bagaimana mungkin dalam diri seseorang ditemukan sifat-sifat yang sedemikian bertentangan? Bagaimana mungkin Yesus itu mahakuasa dan lemah, mahatahu dan perlu belajar, kekal dan dapat mati pada saat yang bersamaan? Secara alamiah pikiran manusia pasti menolak paradoks yang sedemikian. Mungkin pemikiran berikut dapat menolong kita mengkaji masalah ini. Alkitab dan gereja tidak mengajarkan bahwa kedua kelompok sifat dalam diri Yesus berasal dari satu hakekat yang sama, melainkan berasal dari dua hakekat yang berbeda, kendatipun keduanya berada dalam satu diri yang sama yaitu Yesus. Hakekat ilahi Yesus dan hakekat manusiawi Yesus tidak melebur menjadi satu hakekat baru, semacam hakekat campuran ilahi-manusiawi, yang kemudian juga mencampur sifat dan kualitas dari kedua hakekat ke dalam satu hakekat campuran tersebut. Percampuran sedemikian, di mana dua macam sifat dan kualitas yang bertentangan dinyatakan sebagai milik dari satu hakekat yang sama, memang tidak mungkin dapat diterima akal sehat. Namun mengenai Yesus, hakekat ilahi dan hakekat manusiawiNya tetap terpisah kendatipun menjadi milik satu pribadi yaitu Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, Sang Anak. Sifat dan kualitas ilahi Yesus tetap berasal dari hakekat ilahiNya, sedangkan sifat dan kualitas manusiawi Yesus tetap berasal dari hakekat manusiawiNya. Ketika kita mengatakan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia, mahakuasa dan lemah, maha tahu dan perlu belajar, dan seterusnya, kita sedang merujuk pada pribadi Yesus yang memang tunggal, tanpa membaurkan kedua hakekat yang menjadi sumber segala sifat dan kualitas yang saling bertentangan itu. Walaupun bagaimana proses dari dua hakekat yang saling bertentangan menjadi bersatu dalam satu diri dan pribadi masih tetap merupakan masalah, setidaknya sekarang kita boleh melihat bahwa jikalau kita mau menerima hakekat ganda yang tidak berbaur dalam diri Yesus, kita tidak usah terjebak dalam kontradiksi logis bahwa sifat-sifat Yesus yang saling bertentangan berasal dari satu hakekat saja.

Masalah kedua yang mempertajam misteri Yesus adalah masalah sudut pandang. Kita perlu menyadari bahwa inkarnasi, di mana Allah Anak mengambil hakekat manusia sehingga menghasilkan Yesus yang berhakekat ganda, merupakan karya dan tindakan Allah, bukan manusia. Kita juga perlu menyadari bahwa Allah mempunyai hakekat yang lebih tinggi dari manusia, dan dengan demikian hidup dalam realm yang berbeda dengan manusia, serta mempunyai kuasa dan kemampuan yang jauh melebihi manusia. Apa yang tidak normal dan tidak masuk akal bagi manusia mungkin merupakan hal yang biasa bagi Allah, sedangkan apa yang "alami" bagi Allah tidak selalu terselami oleh manusia. Jikalau kita mau menerima perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia ini, serta mau menyadari bahwa hakekat ganda Yesus merupakan hasil karya Allah, maka kendatipun pengertian manusiawi kita sudah buntu, kita masih dapat menerima paradoks diri Yesus. Upaya untuk mengenal dan menghayati Yesus yang dilakukan dari sudut pandang manusia, dengan menggunakan rasio manusia dan standar duniawi sebagai tolok ukur, akan selalu berakhir pada kebuntuan dan ketidakpercayaan. Manusia sebagai ciptaan memang tidak akan pernah cukup mampu untuk sepenuhnya mengenal Allah, keputusan dan karyaNya. Satu-satunya jalan untuk mengenal dan menghayati Yesus adalah dari sudut pandang Allah.

Kembali pada pertanyaan yang dilontarkan Yesus sendiri, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Kita sudah coba menjawabnya dengan melihat kesaksian Alkitab dan rumusan gereja, dan menemukan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia. Di dalam jawaban ini kita berhenti pada kenyataan bahwa hakekat ganda Yesus merupakan suatu paradoks yang tidak terselami, di mana setiap upaya penjelasan yang mengkompromikan kepenuhan kedua hakekat Yesus terbukti tidak sesuai dengan kesaksian Firman Allah, sehingga harus ditolak. Alkitab hanya memberikan data-data dari mana kita dapat menarik kesimpulan, namun tidak memberikan penjelasan bagaimana kesimpulan yang bersifat paradoks tersebut seharusnya diharmoniskan. Oleh sebab itulah ketika kita mempertimbangkan pertanyaan di atas dan melihat jawabnya dalam hakekat ganda Yesus, kita ditantang untuk mengambil sikap berikut:

  1. Kita terpaksa harus menerima kenyataan bahwa Allah lebih tinggi dari manusia, dan manusia harus berpuas diri tanpa harus sepenuhnya mengerti diri dan tindakan Allah. Di sini kita harus rela melepaskan pegangan kita pada rasio dan bersandar pada iman. Rasio mempunyai batas-batasnya dalam hakekat manusiawi, sedangkan batas-batas iman terletak pada Allah dan bukan pada manusia. Oleh sebab itulah ketika kita mau mengenal Yesus, yang adalah Allah selain juga manusia, kita harus bersandar pada iman selain juga pada rasio. Manusia yang dengan sombong mendaulatkan rasionya dan menolak iman tidak akan pernah dapat menerima diri Yesus sebagai Allah dan manusia. Hanya manusia yang rela merendahkan dirinya di hadapan Allah dapat menerima gambaran yang diberikan oleh Alkitab.
  2. Sebaliknya, beriman pada Allah tidak berarti mengabaikan rasio. Seorang yang menerima hakekat ganda Yesus dengan iman tidak berarti melawan pertimbangan akal, melainkan dasar pertimbangan itu tidak lagi ditumpukan pada kemampuan rasionya dan hasil analisanya dari data-data empiris yang ia terima dan alami, melainkan dasarnya adalah pada kesaksian Alkitab yang merupakan Firman dari Allah yang memang lebih tinggi derajatNya dari manusia. Iman bukanlah sesuatu yang tanpa dasar, melainkan sesuatu yang mempunyai dasar namun yang berbeda dari dasar yang dipakai oleh dunia. Dunia mendasarkan segala sesuatu pada rasionya dan dengan demikian tidak dapat menerima Yesus sebagai Allah dan manusia; orang yang beriman mendasarkan hidup dan pemikirannya pada Allah yang telah berfirman, dan dengan demikian berdasarkan kesaksian Alkitab, dapat menerima Yesus sebagai Allah dan manusia.

Seperti pada masa hidupNya, Yesus sekarang bertanya pada dunia dan pada kita masing-masing, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Alkitab menjawab dengan suatu paradoks bahwa Yesus adalah Allah dan manusia. Bagaimana jawab saudara?

Catatan: Penulisan artikel ini selesai pada 14/09/1997.

7 komentar:

joker mengatakan...

Hey, I like your blog. I think it is cool... I'll come back for more.. keep it up!

Do drop by my blog and have a look.

http://1jokeaday.blogspot.com

Josh mengatakan...

Hi Joker, thanks for the visit and the complement. I'll check out your blog!

-Josh

ROY mengatakan...

Sisi kemanusiaan Yesus yg brsumber dari Bible yg sarat dgn nilai2 rasional,menegaskan bhwa tak sekalipun Yesus(Nabi Isa) menyebut dirinya sbgai Tuhan.Di dlm 66 kitab yg trdapat di dlm Bible Kristen Protestan,atau 73 kitab yg terdapat di dlm Bible Khatolik,tdk disebutkan sekalipun klimat yg menyatakan bhwa Yesus brkata SESUNGGUHNYA AKU ADALAH TUHAN atau SEMBAHLAH AKU.Tdk trdapat satu klimat pun di dlm kedua Bible itu yg menyatakan bhwa Yesus prnah menyatakan demikian.Yesus tdk pernah menyatakan bhwa dirinya adlh Tuhan,dan Dia jg tdk prnah mengatakan kpd seorang manusiapun,"SEMBAHLAH AKU".Saya sbgai Muslim prcaya bhwa Yesus adlh Mesias,trmasuk salah seorang dari Ulil Azmi
para rasul.Kmi prcaya bhwa kelahirannya merupakan suatu peristiwa yg luar biasa,bhwa ia adlh Mesias,bhwa ia dpt menghidupkan yg mati dgn izin ALLAH,dan dpt menyembuhkan penyakit bisu dan kusta dgn izin ALLAH.Di sinilah letak prbedaan antara kaum Muslim dan umat Nasrani.Kaum Muslim briman dgn smua kemukjizatan Isa as,namun kmi tdk menganggapnya sbgai Tuhan.Sementara umat Nasrani mnjadikan kemukjizatan trsebut sbgai bukti bhwa Isa as adlh Tuhan.Tuhan Bapa,Tuhan Anak,Roh Kudus namun mereka bukanlah tiga Tuhan akan tetapi satu Tuhan.Dogma trsebut sulit diterima oleh logika manapun.Secara logika mereka adlh tiga orang yg brbeda.
(FaceBook saya ROYS ALEXANDER)

Anonim mengatakan...

Blog yg bagus, sulit ditrima bila hidup tdk beriman, pmbutkian tdk bisa hnya mmbaca kitab,& sudh jelas KITAB TAURAT menulis: mnusia tidak bisa bertemu ALLAH secara lngsung. TRINITAS sngat luar BIASA.

Yuyun mengatakan...

Saya seorang muslim, tapi saya senang membaca artikel ini.

Karena diakhir ada kalimat, Yesus bertanya pada dunia, "Menurut kalian, siapakah Aku ini?" yang berarti dipertanyakan kepada semua makhluk Tuhan termasuk saya, maka saya mohon izin untuk menjawabnya.

Menurut sumber keyakinan saya, Yesus adalah Nabi Isa Almasih, salah seorang Rasulallah dari lima Rasul yang dipercayakan oleh Allah SWT utk memegang kitab suci injil yang merupakan kitab suci ke-empat sebelum turunnya kitab yang sempurna yakni Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Nabi Isa adalah putra dari Maryam, seorang wanita suci yang atas izin Allah SWT beliaupun mengandung meski tak pernah sekalipun disentuh oleh lelaki. Nabi Isa memiliki mukjizat mampu menghidupkan makhluk yang sudah mati serta menyembuhkan penyakit yang tak bisa disembuhkan atas izin Allah.

Berikut ayat alquran yang menyatakan tentang Nabi Isa Almasih. (Kepercayaan kembali kepada kita masing2)

(Maryam: 19-21)
19. Malaikat Jibril berkata: "sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."
20. Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia yang menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina!"
21. Malaikat Jibril berkata: "Demikianlah Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."

Ketika Nabi Isa lahir, mulailah kaum Maryam mencemooh Maryam sebagai pezina yang memiliki anak haram. Hingga turunlah surah Maryam: 30, dimana Nabi Isa yang masih bayi atas izin Allah diberi mukjizat untuk bicara.

30. Berkatalah Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab Injil dan Dia menjadikanku seorang nabi."

Yesus adalah Nabi Isa yang merupakan hamba Allah, sang Nabi pemegang kitab Injil.

Leaks mengatakan...

Keimanan tidak dapat didasari dengan logika rasionalitas pikiran manusia semata, yang mempunyai keterbatasan akan logika itu... Iman bukan logika.. Iman adalah hubungan dekat seseorang dengan Dia...pemahaman logika rasional akan iman kepada Yesus .. akhirnya malah menimbulkan keberjauhan kita dengan ajaran Yesus.. Sedikit cuplikan Sabda Yesus: Barang siapa akan ke rumah Bapaku maka dia harus melalui Aku.. Akulah Jalan Hidup dan Kebenaran...(maaf kalo ada yang kurang..)

azriady mengatakan...

Semua Nabi di utus sebagai jalan pemberi petunjuk menuju kepada Allah, jalan keselamatan dari bahaya dosa. Yesus berkata bahwa dia adalah jalan tapi bukan tujuan dari jalan tersebut melainkan hanya jalan menuju kepada Allah. Sebagaimana umat Yesus harus percaya dan mengikuti ajaran Yesus sebagai jalan atau petunjuk mendapatkan rahmat Allah, begitu pula umat sebelumnya juga harus mengikuti jalan para Nabi terdahulu.
Dan umat yang sekarang harus mengikuti jalan atau petunjuk dari Nabi yang terakhir Muhammad. Jika kitab terdahulu disebut perjanjian lama lalu kitab setelahnya disebut perjanjian baru maka kitab Al-Quran adalah perjanjian terakhir.